Powered By Blogger

Selasa, 29 September 2009

Kematian

Setiap salam perpisahan yang terucap tanpa prospek pertemuan berikutnya pada dasarnya sama dengan dentang lonceng kematian. Kecuali mungkin bagi para bocah, setiap perpisahan bukanlah fenomena jasadi. Ia lebih menjadi keadaan pikiran, yang seringkali lebih gampang dikatakan ketimbang dijalankan. Begitu kurang-lebih kata sajak di atas.

Jika pengalaman merupakan satu-satunya hal yang dapat memberi otoritas pemahaman kepada manusia*), apakah yang dapat kita pahami tentang kematian? Akal manusia tidak akan dapat menyingkap tabir rahasia di baliknya.

Hidup manusia dijalani dalam tatanan ganda sekaligus: tatanan makrokosmos (dunia) dan mikrokosmos (diri sendiri).** Tapi kematian unik, sebab meski terjadi di tatanan mikro, ia bukan sebuah pengalaman. Ia akhir yang menutup seluruh pengalaman. Dalam hal ini, pintu pemahaman tertutup bagi manusia. Ia tidak diberkahi faculty (kemampuan) untuk memahaminya.***

Sepeninggal kematian seseorang, yang hidup dihadapkan pada dua pilihan: melupakan dan memaafkan. Pilihan ini bisa ditolak mentah-mentah, atau diterima, dengan atau tanpa syarat. Kadang hal ini berlalu demikian mudahnya, tapi tak jarang pula begitu sulitnya. Seringkali ini terjadi secara alamiah; tapi kadang harus dilakukan dengan penuh kesadaran, seperti misalnya melalui proses pelupaan dan proses pemaafan. Melupakan maupun memaafkan kadang seperti fenomena pernapasan: kita dapat melakukannya tanpa harus menyadarinya, tetapi dapat juga dengan menyengajakannya.

Barangkali panduan tergampang dan paling intuitif untuk menyikapi kematian adalah dengan menganalogikannya dengan kematian kita sendiri. Apa yang kita harapkan atas reaksi orang jika kita meninggal? Tentu, setiap orang ingin diperlakukan dengan patut dan wajar—mis. melalui prosesi pemakaman yang layak; dan agar kepada yang berduka terhadap kematian diberi waktu berkabung yang memadai. Sebagian besar dari kita mengharapkan doa-doa terbaik agar dapat menjalani alam misteri yang tak tersibak akal. Idealnya, semua hal yang moral ini tidak didasari pada pamrih, melainkan semata-mata pada good-will (niat baik)–satu-satunya jenis kebaikan manusiawi yang tidak dapat diselundupkan atau diselewengkan.

Bagaimana jika Nama Besar seseorang menimbulkan kegamangan? Bukankah sebagian manusia gampang terpesona dan disilaukan oleh kebesaran?

Setiap orang boleh bermimpi menjadi Ubermensch (manusia adikuasa)****; tapi, toh pada akhirnya ia harus menyadari bahwa setiap Gundala, Godam, Maja, Godot, Aquanus, Avatar, Naruto, Batman, Superman, atau Spiderman hanyalah milik dunia rekaan. Di dunia nyata, masing-masing individulah, dan bukan masyarakat ataupun Para Pembesar, yang harus mempertanggungjawabkan segala tindakan yang ditempuh dan pilihan yang diambil semasa hidup. Setiap individu dewasa dan yang secara hukum dianggap memiliki kewarasan diasumsikan memiliki kesadaran bahwa sebagian konsekuensi tindakannya semasa hidup tidak melulu selesai dengan kematian—azas hukum dan moralitas mengakui kondisi ini. Prinsip legalitas mengenal universalitas ini sebagai conditio sine qua non.

Jika seseorang yang atas dasar penyakitnya atau atas dasar pekerjaannya, dilimpahkan hak khusus sehingga dapat mengangkangi hukum, atau dihapuskan segala kesalahannya, maka kecuali jika semua warga negara lainnya atas dasar yang sama mendapat perlakukan serupa, esensi dan tujuan hakiki hukum tersebut tidak terwujud oleh karena maksim universalitas hukum tersebut tidak terpenuhi. Apabila hal ini dipaksakan, maka akan terjadi kontradiksi antara yang legal dan yang moral.

”Ketika hukum dan moralitas berkontradiksi, orang akan memillih alternatif yang tak kalah keji: menghilangkan sisi moralnya atau penghormatannya terhadap hukum itu sendiri.”*****

Selasa, 15 September 2009

statistik penting dalam psikology

Dalam perkembangan psikologi sebagai ilmu, dalam masa yang sangat panjang, bahkan sampai hari ini, psikologi berusaha agar dapat dipandang sebagai pendekatan yang ilmiah. Dalam atmosfer positivistik, salah satu usaha untuk menjadi lebih ilmiah adalah dengan melakukan pengukuran. Artinya, kualitas-kualitas psikologis manusia dicoba untuk diberikan atribut berupa angka, untuk kemudian diolah secara matematis / statistik.

Namun tidak semua kondisi dalam pengukuran psikologi ideal untuk diterapkan pada semua teknik statistik, seperti:

- banyak aspek psikologis yang sulit dikuantifisir ke dalam skala pengukuran interval apalagi rasio (sulit untuk mengatakan, misalnya, sikap terhadap minuman beralkohol seseorang / sekelompok orang dua kali lebih tinggi dibandingkan orang / kelompok lain);

- sulit mengasumsikan bahwa variabel psikologis tertentu terdistribusi secara normal.

Dalam mengaplikasikan statistika terhadap permasalahan sains, industri, atau sosial, pertama-tama dimulai dari mempelajari populasi. Makna populasi dalam statistika dapat berarti populasi benda hidup, benda mati, ataupun benda abstrak. Populasi juga dapat berupa pengukuran sebuah proses dalam waktu yang berbeda-beda, yakni dikenal dengan istilah deret waktu.

Melakukan pendataan (pengumpulan data) seluruh populasi dinamakan sensus. Sebuah sensus tentu memerlukan waktu dan biaya yang tinggi. Untuk itu, dalam statistika seringkali dilakukan pengambilan sampel (sampling), yakni sebagian kecil dari populasi, yang dapat mewakili seluruh populasi. Analisis data dari sampel nantinya digunakan untuk menggeneralisasikan seluruh populasi.
Jika sampel yang diambil cukup representatif, inferensial (pengambilan keputusan) dan simpulan yang dibuat dari sampel dapat digunakan untuk menggambarkan populasi secara keseluruhan. Metode statistika tentang bagaimana cara mengambil sampel yang tepat dinamakan teknik sampling.

Analisis statistik banyak menggunakan probabilitas sebagai konsep dasarnya. Sedangkan matematika statistika merupakan cabang dari matematika terapan yang menggunakan teori probabilitas dan analisis matematis untuk mendapatkan dasar-dasar teori statistika.

Ilmu statistik itu sangat penting dan bermanffat dalam ilmu psikology di karnakan ilmu statistik itu bisa melakukan pendataan atau pengumpulan data yang sangat berguna buat psikology ,maka dari itu mahasiswa psikology mempelajari ilmu statistik .
kalau di jabari satu-persatu statistik itu banyak mendapatkan hitung-hitungan data,pengambilan data,sedangkan psikology ilmu yang mempelajari perilaku manusia serta penerapannya.




ditulis oleh irma retno juwika