Powered By Blogger

Minggu, 14 Februari 2010

tentang anak indigo

If You Aren’t The One
it’s about Education and computer.
Anak Indigo



Kata – kata Indigo sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi masyarakat awam. Tetapi Belakangan ini Konsep tentang keberadaan anak indigo itu menimbulkan kontroversial di dalam lapisan masyarakat, padahal sebenarnya pengertian kata indigo itu saja masih samar – samar. Banyak orang beranggapan bahwa “anak biasa” dengan sedikit bakat paranormal, yang justru merupakan hal biasa terdapat pada anak balita atau basata (bawah satu tahun) langsung dianggap “anak indigo”. Di pihak lainnya terdapat “anak indigo” yang tidak nyaman menyandang predikat “anak indigo” karena hal itu (ipso facto) yang seolah – olah membebani hari depan mereka dengan gelar “kenabian” yang sudah terlanjur disandangnya (messianic burden) yang tidak pada tempatnya.

Penolakan tersebut menjadi ramai diperbincangkan karena disarati dengan praduga adanya komersialisasi di balik semua pelabelan indigo kepada anak-anak tersebut tadi.
 
Anak kecil yang fungsi pinealnya masih normal dapat memperlihatkan “kemampuan aneh” melalui tindakan – tindakan aneh maupun dari kemampuan pengelihatannya, tetapi kita tidak dapat dengan spontan mengelompokkannya kedalam kelompok “anak indigo”. Anak kecil pada umumnya dapat “melihat kunti” ataupun semacamnya karena fungsi optik pada pucuk kelenjar pinealnya masih berfungsi normal. Yang jadi permasalahannya, orang tua atau orang dewasa pada umumnya suka meremehkan anak kecil dan dunianya. Mereka cenderung menganggap anak-anak itu suka mengkhayal dan mengada-ada. Kalau anak seperti itu berkomunikasi dengan “makhluk halus” maka mereka langsung dianggap “ngomong sendiri” atau parahnya bahkan diberi label sadis sebagai “anak autis” . padahal ciri – ciri”anak autis” itu omongannya ngaco sedangkan “anak indigo” itu justru omongannya berisi dan tidak jarang malah filosofis dan dapat membuat orang tua mereka kelabakan. Istilah yang cocok digunakan yaitu “the little professor” untuk peran anak seperti itu.Dan merupakan hal yang sangat lumrah bahwa anak balita kadang-kadang mengajukan pertanyaan yang sangat filosofis atau fundamental kepada orang tua mereka. Untuk hal semacam ini tentunya (sangat) banyak orang tua yang dapat mensharingkan pengalamannya.

Mama Laurent sendiri menceritakan peristiwa “suara-suara” yang ia dengar di sekolah yang menyuruhnya cepat-cepat keluar dari kelas. Ia heran kenapa suara yang begitu keras tidak terdengar oleh guru dan kawan-kawan sekelasnya. Akibatnya ia ditegur oleh ‘juffrouw’ dan kena ’straf’ 2 hari tidak boleh masuk sekolah. Dua jam setelah itu 300 anak termasuk para gurunya mati semua terkena bom yang dijatuhkan oleh pihak Jerman. Jelas Mama Laurent yang berusia 7 tahun memiliki apa yang disebut “fine hearing” yaitu salah satu kemampuan paranormal. Tetapi apakah ia seorang “anak indigo” juga, siapalah yang tahu? Mungkin omanya hanya tahu bahwa ia mempunyai “bakat khusus” saja. Saat itu belum populer parameter tentang “anak indigo” walaupun pada zaman itu dikenal istilah “magenta kids”. Istilah “magenta kids” itupun tentunya populer bukan pada saat Mama Laurent berusia 7 tahun itu melainkan beberapa dekade kemudian.

Selain itu kecenderungan Psikologi atau Psikiatri memberi label “anak indigo” sebagai manusia dengan gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) jelas-jelas memberi kategori Mental Disorder seperti judul D kedua pada sindrom ADHD tersebut. Karena sakit jiwa tentunya harus ditangani oleh seorang Psikiater dan bukan oleh seorang Psikolog. Ironisnya justru seorang Psikiater tidak mampu menyembuhkan penyakit ADHD tersebut sampai sekarang ini. Bahwa dalam kurun penanganan oleh seorang Psikiater kemudian gejala ADHD tersebut mulai tampak berkurang belum tentu menunjukkan efektivitas daripada terapinya. Mungkin juga terjadi secara alamiah justru karena atrofi daripada kelenjar pineal itu sendiri yang menjadi “biang keladi” semua fenomen yang tampaknya abnormal tersebut. Ibaratnya para Psikiater tersebut beruntung lebih karena “saved by the bell” saja , dibandingkan kehebatan terapinya.

Yang anehnya fenomenal berikut ini yang sudah terlanjur terjadi dimasyarakat. Psikiatri yang termasuk disiplin ilmiah justru memakai praktek-praktek “lebih klinik dari pada klinik” seperti teknik “dowsing” (pendulum) dan “automatic writing”.
Kick Andy Show pun terperangkap pada silogisme yang sama. Seakan-akan kalau bicara soal anak indigo maka, mau tidak mau tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan dunia paranormal sehingga sampai-sampai merasa perlu mendatangkan paranormal beken yaitu Mama Laurent.

Berikut ini beberapa pandangan yang dapat kita peroleh adalah :

v Pada umumnya anak balita memiliki kemampuan paranormal yang berhubungan langsung dengan masih berfungsi normalnya “kelenjar-cum-pusat syaraf” yaitu ‘pineal body’.
v Dengan pembiasaan pemakaian secara intensif kecerdasan intelektual sejak masuk sistem sekolah skolastik, maka secara gradual ‘pineal body’ mengalami atrofi karena jarang dimanfaatkan. Analog dengan otot yang semakin lembek karena jarang dipakai; atau sebaliknya otot semakin kencang-berisi karena sering latihan angkat berat.
v Dapat terjadi “anak indigo” mengalami kesulitan dalam bidang tertentu dalam lingkup kecerdasan intelektual tetapi tidak dapat langsung dipastikan hal itu merupakan ciri baku.
Vincent Liong tidak suka akan matematika tetapi suka tulis menulis padahal keduanya termasuk lingkup “kecerdasan intelektual” otak hemisfir kiri manusia.
v Auto-writing dapat terjadi pada saat otak hemisfir kanan mendominasi cara berpikir seseorang. Maka tidak ada korelasi langsung dengan ke-indigo-an seorang anak, apalagi sebagai teknik untuk menyembuhkan anak indigo secara klinis.
Padahal Auto-writing, apabila tidak diwaspadai dapat menyebabkan anak mengalami kesurupan. Bila hal ini terjadi maka pihak pengelola klinik menjadi orang yang sangat tidak bertanggungjawab. Apalagi bila mereka tidak mempunyai kemampuan untuk “exorcisme” maka sebaiknya jangan main-main dengan yang dinamakan ‘automatic-writing”.
v Tidak setiap anak yang dikaruniai Tuhan dengan kharismata khusus dapat langsung dapat langsung kita kategorikan sebagai “anak indigo”. Maksimal ia dapat dikategorikan sebagai anak berbakat paranormal saja.
v Setidaknya kita Tidak seharusnya membebankan setiap anak berbakat paranormal “missi mesianik” untuk menjadi “healer” atau “prophecy maker” atau semacamnya. Semuanya juga tergantung niat ingsun anak itu sendiri untuk membangun corak masa depannya sendiri secara bebas tanpa beban pelabelan indigo kepada mereka.
v Anak yang terlanjur diberi label “anak indigo” – dengan contoh gamblang seperti pada kasus anak perempuan ajaib bernama Anissa. Seorang anak yang asertif dan sewaktu-waktu dapat bersikap sangat “mature” serta mampu berbahasa Inggris tanpa kursus maupun environment yang mendukungnya. Nasib anak ini kini sangat tragis karena ia kehilangan masa kanak-kanaknya yang indah dan ceria dan tidak dapat sekolah di TK karena terlanjur diberi label “anak indigo” dengan “mental disorder” sehingga memerlukan jenis “pendidikan khusus” yang sesuai, namun nyatanya tidak tersedia di negeri ini. Korban semacam ini hendaknya jangan diperbanyak lagi oleh pihak manapun. Bila tidak mampu membangun minimal kita hendaknya tidak merusak.
Menurut saya, Anak indigo tidak ada urusannya dengan kepercayaan sektoral tentang “reinkarnasi”. Sama sekali belum ada bukti ilmiah tentang korelasi keindigoan dengan reinkarnasi. Bisa terjadi kemampuan daya tangkap pineal seseorang sedemikian kuat/kencang sehingga mampu mengakses memori-etnik-kolektif masa lampau sendiri, atau dari orang lain. Seperti halnya mereka juga memiliki kemampuan untuk mengakses informasi masa yang akan datang. Manusia pada dasarnya ialah “spiritus in carne” (roh yang membadan) sehingga sebagai roh, maka roh manusia mampu mengakses masa depan sama mudahnya dengan mengakses masa lampau.
Karena memiliki “kepekaan khusus” maka kemampuannya kelihatannya luar biasa sementara “manusia bisa” lainnya, seperti kita – kita ini yang pinealnya tidak berkembang atau dioptimalkan fungsinya sebagai alat pemancar (transmitter) dan alat penerima (receiver) informasi, tidak mampu mengakses memori kolektif masa lampau, apalagi informasi masa depan.
Minimal inilah penjelasan yang sedikit “lebih ilmiah”yang berhasil dianalisis oleh para ahli karena berbasis biologis-neurologis (endokrinologis) dari dispilin ilmu eksakta dibandingkan dengan “penjelasan agamis-metafisis” dengan “argumen reinkarnasi” yang bersifat “cult system”.
Bagaimana seandainya kemampuan manusia paranormal (termasuk anak indigo) ternyata merupakan kemampuan teknis menembus code-code DNA yang memuat semua storage informasi gentik nenek moyang seseorang padahal kita terlanjur mengecapnya dengan kondisi “reinkarnasi”? Bukankah hypnotisme juga mampu melakukan “penembusan” seperti itu? – namun dengan side effect yang luar biasa “menguras tenaga” pada pihak yang terhipnotis?
Dengan demikian kita hendaknya teliti terhadap proses pengidentifikasian anak yang dapat digolongkan dengan “anak indigo” serta mampu memperlakukan mereka secara adil dan layak sehingga mereka tidak mengalami tekanan batin dan pengasingan secara sosial. Setidaknya anak – anak seperti ini hendaknya tetap beroleh tempat dimasyarakyat dan diperlakukan sebagai anak yang normal.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

This entry was posted on January 4, 2009 at 2:30 pm and is filed under Uncategorized. You can subscribe via RSS 2.0 feed to this post's comments. You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.