Powered By Blogger

Minggu, 27 Desember 2009

Kasus Bunuh Diri dengan Loncat dari Ketinggian Meningkat

Polda: Kasus Bunuh Diri dengan Loncat dari Ketinggian Meningkat

Selasa, 15 Desember 2009 | 18:40 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya mencatat aksi bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari ketinggian semakin marak terjadi di Jakarta tahun ini. Tahun ini saja sudah tercatat enam kali aksi bunuh diri dengan cara seperti itu.

"Sayangnya, kami belum memprosentasekan kejadian itu. Tapi dibanding tahun lalu, memang lebih banyak," kata Kepala Divisi Humas Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya Komisaris Besar Boy Rafli Amar, saat dihubungi melalui telepon, Selasa (15/12).

Seluruh kejadian tersebut, ia melanjutkan, sepenuhnya murni merupakan aksi bunuh diri. Polisi belum menemukan adanya indikasi kriminal dalam setiap kejadian menjatuhkan diri dari ketinggian di Jakarta.

Kecenderungan yang melatarbelakangi aksi itu adalah persoalan-persoalan psikologis, dan kesulitan hidup. "Karena tidak sanggup mengatasi, mereka memilih jalan pintas," ujar Boy.

Aksi bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari ketinggian, terakhir terjadi di Apartemen Gading River View, Tower 5, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (14/12), sekitar pukul 18.00 WIB. Aksi serupa kembali terjadi di Apartemen Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa (15/12), sekitar pukul 16.00 WIB. Pada dua peristiwa ini, seluruh korbannya adalah wanita.

Berdasar hasil olah tempat kejadian perkara, peristiwa di Apartemen Gading River View, dipastikan sebagai aksi bunuh diri. Korban adalah Yani, 23 tahun, yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, di kamar nomor 1202, di apartemen tersebut.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara Komisaris Adex Yudiswan mengatakan pemicu aksi nekat itu adalah persoalan cinta. Yani, asal Pati, Jawa Tengah, itu nekat mengakhiri hidupnya karena mengetahui sang pacar telah beristreri dan memiliki anak.

"Padahal, hubungan korban dengan pacarnya sudah jauh," ujar Adex. "Sebab itu, korban menjadi depresi dan frustasi."

Menurut Adex, fenomena bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari ketinggian dipilih karena cara tersebut lebih mudah, aman, dan tanpa menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan. "Biasanya aksi itu akan dilakukan dari lantai enam ke atas, sehingga kalau jatuh dipastikan akan tewas," kata dia.

Pendapat saya mengenai masalah kasus bunuh diri ini seharusnya kepolisian memprioritaskan kasus bunuh diri untuk mengurangi dan mencegah korban yang lebih banyak lagi sehingga tidak ada korban yang berjatuhan. Melihat peristiwa bunuh diri yang terjadi banyak di sebabkan oleh faktor ekonomi,frustasi karena gagal cinta dan lain-lain.

Dengan banyak media masa ini banyak orang yang meniru tindakan bunuh diri seperti dengan cara meloncat dari gedung tinggi.Ada baiknya media masa tidak terlalu mempublikasikan kasus bunuh diri,karena memicu orang lain untuk melakukan tindakan hal yang sama yang bisa mengakibatkan korban jiwa yang semakin tinggi.

Dari segi faktor ekonomi seharusnya dari pemerintah membantu rakyat yang tidak mampu untuk membuka lapangan pekerjaan dan memberi BLT secara merata kepada rakyat yang tidak mampu.Di jaman sekarang pemerintah mempersulit bantuan bagi rakyat yang kurang mampu dengan cara memperbelit birokrasi.
Untuk para pegelola gedung lebih hati-hati bila ada tindakan yang mencurigakan seperti memanjat pagar atau pembatas,lebih baik lagi untuk memasang CCTV di sudut-sudut gedung dan penjagaan yang lebih intens lagi.

Fahmi, W. Kasus Bunuh Diri dengan Loncat dari Ketinggian Meningkat. Diakses tanggal 28 Desember 2009. http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2009/12/15/brk,20091215-214010,id.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar