1. DEFINISI AUTISME
Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah
pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum ( 1982), autisme berarti preokupasi
terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak
berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau
realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang
yang hidup di “alamnya” sendiri.
© 2003 Digitized by USU digital library
1
Autisme atau autisme infantil ( Early Infantile Autism) pertama kali
dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 ( dalam Budiman, 1998) seorang psikiatris
Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis
pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri
yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-
olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk
menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.
Pada awalnya istilah “autisme” diambilnya dari gangguan schizophrenia,
dimana Bleuer memakai autisme ini untuk menggambarkan perilaku pasien
skizofrenia yang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya
sendiri. Namun ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari autisme pada
penderita skizofrenia dengan penyandang autisme infantile. Pada skizofrenia,
autisme disebabkan dampak area gangguan jiwa yang didalamnya terkandung
halusinasi dan delusi yang berlansung minimal selama 1 bulan, sedangkan pada
anak-anak dengan autisme infantile terdapat kegagalan dalam perkembangan
yang tergolong dalam kriteria Gangguan Pervasif dengan kehidupan autistik
yang tidak disertai dengan halusinasi dan delusi ( DSM IV, 1995 ).
2. GEJALA-GEJALA AUTISME
Gejala autisme infantile timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun.
Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir.
Seorang ibu yang cermat dapat melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya
mencapai usia satu tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya kontak mata
dan kurangnya minat untuk berinteraksi dengan orang lain.
Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal,
seorang bayi mulai bisa berinteraksi dengan ibunya pada usia 3 - 4 bulan.
Bila ibu merangsang bayinya dengan menggerincingkan mainan dan mengajak
berbicara, maka bayi tersebut akan berespon dan bereaksi dengan ocehan serta
gerakan. Makin lama bayi makin responsive terhadap rangsang dari luar seiring
dengan berkembangnya kemampuan sensorik. Pada umur 6-8 bulan ia sudah bisa
berinteraksi dan memperhatikan orang yang mengajaknya bermain dan berbicara.
Hal ini tidak muncul atau sangat kurang pada bayi autistik. Ia bersikap acuh tidak
acuh dan seakan-akan menolak interaksi dengan orang lain. Ia lebih suka bermain
dengan “dirinya sendiri” atau dengan mainannya. Berikut ini diuraikan indikator
perkembangan yang normal pada masa bayi :
Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas
saat anak telah mencapai usia 3 tahun, ( Budiman, 1998) yaitu:
1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat
bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat
dimengerti , echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa ia mengerti
maknanya, dstnya.
2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata,
tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain
sendiri, dstnya.
3. Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang
berlebih ( excessive ) dan kekurangan ( deficient ) seperti impulsif, hiperaktif,
repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan
permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada kelekatan pada
benda tertentu seperti gambar, karet, dll yang dibawanya kemana-mana.
4. Gangguan pada bidang perasaan/emosi, seperti kurangnya empati, simpati,
dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang
nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang
ia inginkan.
5. Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit
mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup
telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dsbnya.
Gejala –gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme,
tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.
PENYEBAB AUTISME
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa dalam catatan pakar autis
( Nakita, 2002 ) jumlah penyandang autisme dibandingkan dengan jumlah kelahiran
normal dari tahun ketahun meningkat tajam sehingga ditahun 2001 lalu sudah
mencapai 1 dari 100 kelahiran. Peningkatan yang tajam ini tentunya menimbulkan
pertanyaan, ada perubahan apa dalam rentang waktu tersebut sehingga kasus
terjadinya autisme bisa meningkat tajam tidak saja di Indonesia tetapi juga di
berbagai negara.
4.1. FAKTOR PSIKOGENIK
Ketika autisme pertamakali ditemukan tahun 1943 oleh Leo Kanner, autisme
diperkirakan disebabkan pola asuh yang salah. Kasus-kasu perdana banyak
ditemukan pada keluarga kelas menengah dan berpendidikan,` yang orangtuanya
bersikap dingin dan kaku pada anak. Kanner beranggapan sikap keluarga tersebut
kurang memberikan stimulasi bagi perkembangan komunikasi anak yang akhirnya
© 2003 Digitized by USU digital library
5
menghambat perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak.
Pendapat Kanner ini disebut dengan teori Psikogenik yang menerangkan penyebab
autisme dari factor-faktor psikologis, dalam hal ini perlakuan/ pola asuh orangtua.
Namun penelitian-penelitian selanjutnya tidak menyepakati pendapat Kanner.
Alasannya, teori psikogenik tidak mampu menjelaskan ketertinggalan perkembangan
kognitif, tingkah laku maupun komunikasi anak autis. Penelitian-penelitian
selanjutnya lebih memfokuskan kaitan factor-faktor organik dan lingkungan sebagai
penyebab autis. Kalau semula penyebabnya lebih pada faktor psikologis, maka saat
ini bergeser ke factor organik dan lingkungan.
4.2. FAKTOR BIOLOGIS DAN LINGKUNGAN
Seperti gangguan perkembangan lainnya, autisme dipandang sebagai
gangguan yang memiliki banyak sebab dan antara satu kasus dengan kasus lainnya
penyebabnya bisa tidak sama. Penelitian tentang faktor organik menunjukkan
adanya kelainan/keterlambatan dalam tahap perkembangan anak autis sehingga
autisme kemudian digolongan sebagai gangguan dalam perkembangan (
developmental disorder) yang mendasari pengklasifikasian dan diagnosis dalam
DSM IV.
Hasil pemeriksaan laboratorium, juga MRI dan EEG tidak memberikan
gambaran yang khas tentang penyandang autisme, kecuali pada penyandang
autisme yang disertai dengan gangguan kejang. Temuan ini kemudian mengarahkan
dugaan neurologis terjadi pada abnormalitas fungsi kerja otak, dalam hal ini
neurotransmitter yang berbeda dari orang normal.
Neuro transmitter merupakan cairan kimiawi yang berfungsi menghantarkan
impuls dan menerjemahkan respon yang diterima. Jumlah neurotransmitter pada
penyandang autisme berbeda dari orang normal dimana sekitar 30-50% pada
penderita autisme terjadi peningkatan jumlah serotonin dalam darah (Nikita,2002).
Selanjutnya, penelitian kemudian mengarahkan perhatian pada faktor biologis,
diantaranya kondisi lingkungan, kehamilan ibu, perkembangan perinatal, komplikasi
persalinan, dan genetik.
Kondisi lingkungan seperti kehadiran virus dan zat-zat kimia/ logam dapat
mengakibatkan munculnya autisme ( http://www.autism society org, 2002). Zat-zat
beracun seperti timah ( Pb) dari asap knalpot mobil, pabrik dan cat tembok;
kadmium (Cd) dari batu baterai serta turunan air raksa ( Hg) yang digunakan
sebagai bahan tambalan gigi ( Amalgam).
Apabila tambalan gigi digunakan pada calon ibu, amalgam akan menguap
didalam mulut dan dihirup oleh calon ibu dan disimpan dalam tulang. Ketika ibu
hamil, terbentuklah tulang anak yang berasal dari tulang ibu yang sudah
mengandung logam berat. Selanjutnya proses keracunan logam beratpun terjadi
pada saat pemberian Asi dimana logam yang disimpan ibu ikut dihisap bayi saat
menyusui. Sebuah vaksin, MMR ( Measles, Mumps & Rubella) awalnya juga
diperkirakan menjadi penyebab autisme pada anak akibat anak tidak kuat menerima
campuran suntikan tiga vaksin sekaligus sehingga mereka mengalami kemunduran
dan memperlihatkan gejala autisme.
Sampai saat ini diduga faktor genetik berpengaruh kuat atas munculnya
kasus autisme. Dari penelitian pada saudara sekandung ( siblings) anak penyandang
autisme terungkap mereka mempunyai peningkatan kemungkinan sekitar 3 %
© 2003 Digitized by USU digital library
6
untuk dinyatakan autis. Sementara penelitian pada anak kembar juga didapat hasil
yang mendukung. Sayangnya harus diakui populasi anak kembar sendiri memang
tidak banyak di masyarakat sehingga menggunakan sample kecil . Penelitian pada
kembar identik 1 telur menunjukkan bahwa mereka memiliki kemungkinan yang
lebih besar untuk diagnosis autis bila saudara kembarnya autis ( Nikita, 2002).
Beberapa faktor lainnya yang juga telah diidentifikasi berasosiasi dengan
autisme diantaranya adalah usia ibu ( makin tinggi usia ibu, kemungkinan
menyandang autis kian besar ), urutan kelahiran, pendarahan trisemester pertama
dan kedua serta penggunaan obat yang tak terkontrol selama kehamilan.
5. PERKEMBANGAN GANGGUAN AUTISME
Cerita tentang Temple Grandin ( dalam Wenar, 1994) :
Temple Grandin adalah seorang wanita autism yang penuh perjuangan. Ia berhasil
mendapatkan gelar Doktor Ilmu Hewan. Sekarang ini ia mengajar disebuah
universitas, menulis beberapa buku tentang ilmu hewan, autisme dan kehidupan
pribadinya. Pada usia 6 bulan, Temple mulai menunjukkan tanda- tanda autisme.
Ketika digendong, ia terkesan memberontak dan ingin diletakan. Pada usia 2 tahun,
terlihat jelas bahwa ia hipersensitif terhadap rasa, suara, bau dan sentuhan. Suara
dan pakaian tertentu menimbulkan siksaan baginya. Akibat hipersensitif ini ia sering
berteriak, marah dan melempar segala sesuatu. Namun ketertarikannya yang
ekslusif terhadap barang-barang/ benda tertentu seperti tangannya sendiri, apel,
koin atau pasir membuat ia dapat menarik diri dari lingkungannya selama beberapa
lama. Sebagaimana umumnya pada waktu itu, dokter menyarankannya untuk
dirawat di rumah sakit atau institusi. Namun Ibunya menolak dan hanya
memasukkannya ke terapi bicara. Kelasnya terbatas dan terstruktur. Meski metode
pendidikan tidak didesain untuk autisme, namun terapi ini berpengaruh bagi
perkembangan Temple. Pada usia 4 tahun ia mulai bicara dan pada usia 5 tahun ia
mampu untuk masuk Tk biasa. Temple menyatakan bahwa keberhasilan
perkembangannya dipengaruhi oleh orang-orang penting dalam hidupnya seperti
ibunya yang tidak henti-henti mencari pertolongan; terapisnya yang tetap
menjaganya agar tidak menarik diri ke dunianya sendiri dan guru SLTA nya yang
membantunya mengembangkan ketertarikannya pada binatang ke ilmuan.
Cerita Temple Grandin ini menunjukkan bahwa penderita autisme tidak selalu
menyebabkan ia tidak mampu mengembangkan potensi dirinya.
Umumnya orang memperkirakan gangguan perkembangan yang parah akan
berdampak bagi perkembangan individu selanjutnya pada masa-yang akan datang.
Namun ternyata 10 % dari penyandang autism mampu hidup dengan baik pada
masa dewasa, mereka memiliki pekerja, berkeluarga (Wenar, 1994). Namun
memang 60 % menunjukkan ketergantungan sepenuhnya pada keseluruhan aspek
kehidupan. Ketidak mampuan komunikasi yang terus berlanjut setelah usia 5 tahun
dan IQ dibawah 60 menunjukkan prognosa yang kurang menggembirakan. Namun
penyandang autisme yang mampu berbicara sebelum usia 5 tahun dan memiliki
tingkat intelegensi rata rata ( average ) memiliki kemungkinan meningkatkan
kemampuan penyesuaian dirinya.
Pada penyandang autisme, tanda-tanda hambatan perkembangan telah mulai
tampak pada masa bayi ( Miller dalam Wenar, 1994) seperti kurangnya kontak
mata, kurangnya reaksi pada saat akan digendong, kurang mampu tersenyum meski
pada orang terdekatnya, kecemasan yang aneh dan kekurang mampuan bermain
© 2003 Digitized by USU digital library
7
“cilukba”. Tubuh bayi juga terkesan “kaku” sehingga sulit untuk direngkuh dalam
pelukan.
Pada masa kanak-kanak dan prasekolah, penyandang autisme kurang
menunjukkan respon sosial yang positif. Anak kurang lekat pada orangtua, ia tidak
mengikuti orangtua jika pergi, jarang mengekspresikan kasih sayang atau mencari
perlindungan bila terluka bahkan cenderung menarik diri dan menghindar.
Selanjutnya penguasaannya akan bahasa dan pemahaman komunikasi juga
mengalami hambatan. Tidak ada komunikasi timbal balik dengan orang lain. Selain
itu anak juga kurang mampu melakukan “imitasi sosial” atau meniru perilaku orang
lain pada usianya. Kemampuannya untuk bermainnya juga terbatas pada bermain
sendiri ( solitary play ) dan permainan tersebut cenderung terbatas dan diulang-
ulang secara kaku.
Pada pertengahan masa kanak-kanak, anak penyandang autisme
menunjukkan kecenderungan untuk tidak berteman, tidak kooperatif dan kurang
mampu berempati pada orang lain. Respon sosial mereka terkesan aneh dan kurang
pada tempatnya sehingga mereka mengalami masalah dalam penyesuaian sosialnya.
Aktivitasnya bersifat ritualistik dan rutin serta mereka mengalami stress jika terjadi
perubahan dari aktivitas biasa yang dilakukan.
Selanjutnya menurut Kanner, Rodriquest dan Ansheden (dalam Wenar,1994)
masa remaja merupakan masa perkembangan yang paling dramatik. Periode ini
dapat merupakan masa yang menunjukkan perbaikan yang signifikan. Beberapa
remaja mulai menyadari bahwa tingkah lakunya menyimpang dan secara sadar
berusaha memperbaiki diri dan tampil sesuai dengan perilaku sosial yang
diharapkan. Sekitar 5 – 15 persen anak autistik mampu mencapai kemampuan
penyesuaian sosial yang diharapkan dengan atau tanpa terapi. Meski dalam
berkomunikasi, vokalisasinya masih belum sempurna namun sudah cukup dapat
dipahami. Memang mereka tetap kurang mampu menunjukkan empati dan peran
seksual yang sesuai, namun sisi positifnya dalah mereka kaku dalam memegang
aturan dan mampu masuk kelingkungan sosial yang birokratis. Namun disisi lain,
mayoritas anak autisme akan terus berkembang dengan gangguan perkembangan
yang parah. Mereka tetap hidup dalam alamnya sendiri namun tidak menjadi
schizophrenia dalam arti mengalami delusi dan halusinasi.
6. PENEGAKAN DIAGNOSA AUTISME
Penegakan diagnosa yang tepat akan menghasilkan intervensi dan treatmen
yang tepat, oleh karena itu penting sekali penegakan diagnosa dilakukan secara teliti
dan akurat. Pemeriksaan terhadap anak penyandang autisme secara terpadu perlu
dilakukan. Tim yang terdiri dari ahli psikologi anak, dokter anak, dokter neurologis
serta ahli pendidikan perlu duduk bersama dalam menangani kasus ini.
.
6.1 Tes –tes psikologi
6.1.1 Tes
PEP-R
Berdasarkan pengalaman Sleeuwen ( 1996) , tes khusus untuk anak autistik
disebut dengan Psycho Educational Profile Revised ( PEP-R). Tes tersebut
dikembangkan oleh di Teacch, sebuah program pendidikan khusus untuk anak autis.
Tes ini digunakan untuk anak autistik atau yang terganggu perkembangannya dan
dipakai pada anak-anak dengan usia kronologis 6 bulan sampai dengan 7 tahun.
© 2003 Digitized by USU digital library
8
Tes PEP-R ini memberikan informasi tentang fungsi perkembangan seperti
imitasi, persepsi, ketrampilan motorik halus, ketrampilan motorik kasar, korrdinasi
mata dan tangan, performansi kognitif dan kognisi verbal, Tes PEP-R juga dapat
mendeteksi masalah-masalah dalam hal relasi dan afeksi, permainan dan minat
terhadap benda dan respon penginderaan dan bahasa. Skor PEP-R digunakan untuk
membuat rencana pendidikan individual anak sehingga guru dapat tertolong dalam
menangani anak autistik.
6.1.2 Vineland Social Maturity Scale
Skala Kematangan Sosial Vineland biasanya juga digunakan sebagai data
tambahan untuk mendukung diagnosa. Semua versi dari Vineland ( dalam Anastasi,
1997 ) terfokus pada apa yang biasa dilakukan individu dan dirancang untuk menilai
prilaku adaptif. Data diperoleh berdasarkan observasi dan wawancara orangtua. Tes
Vineland mengklasifikasikan empat domain/ranah adaptif utama yaitu ranah
komunikasi, ranah ketrampilan sehari-hari, ranah sosialisasi, ranah ketrampilan
motorik yang kemudian disertai dengan komposit perilaku adaptif dan maladaptif.
Hasil tes Vineland penyandang autis berada pada kriteria kematangan sosial yang
jauh dibawah rata-rata anak seusianya.
6.2. Diagnosa berdasarkan kriteria DSM IV
Pada uraian terdahulu ( hal. 8 ) telah dijelaskan bahwa autisme tergolong dalam
gangguan perkembangan pervasive dan dalam penegakan diagnosa didasarkan pada
adanya hambatan pada 3 bidang utama yaitu interaksi sosial, komunikasi dan
tingkah laku yang repetitive dan berulang. Selain itu dalam penegakan diagnosa
autisme perlu diperhatikan:
a. Diagnosa yang berhubungan dan mental retardasi.
Dalam beberapa kasus, autisme berhubungan dengan mental retardasi,
umumnya pada kriteria Moderate Mental Retarded, IQ 35 – 50 (DSM IV, 1995).
Hampir 75% penyandang autisme berada pada taraf intelegensi mental retardasi.
Terjadi abnormalitas dalam perkembangan kognitif penyandang autisme.
Sementara menurut Sleeuwen (1996) sekitar 60 % anak-anak autistik menderita
retardasi mental tingkat moderate ( IQ 35- 50) dan 20 % anak mengalami mental
retardasi ringan sedangkan 20 % lainnya tidak mengalami mental retardasi dan
memiliki IQ > 70 ( normal ). Beberapa anak memiliki apa yang disebut “ pulau
intelegensi” yang artinya mereka memiliki bakat khusus di bidang-bidang tertentu
seperti musik, berhitung, menggambar, dsbnya.
Selanjutnya Sleeuwen menyatakan dalam mendeteksi mental retardasi pada
anak autis dapat dilihat dari kemampuan umum anak yang jauh di bawah rata-rata
anak seusianya ( terbelakang ) dan hambatan dalam komunikasi serta pemahaman
sosial. Epilepsi yang menyertai juga berkaitan dengan kapasitas intelegensi yang
rendah, namun 1 dari 20 anak yang mengalami epilepsi memiliki fungsi mental yang
cukup baik. Retardasi mental dan autisme muncul bersamaan dari awal.
b. Hubungannya dengan hasil laboratorium
Jika autisme dikaitkan dengan kondisi kesehatan umum, ditemukan bahwa ada
perbedaan aktivitas serotonin namun tidak begitu jelas terlihat. Namun hasil
pemeriksaan EEG menunjukkan abnormalitas. ( DSM IV, 1996 )
c. Hubungannya dengan kondisi kesehatan umum
Beberapa simptom kelainan neurologis terlihat pada penyandang autis, seperti
refleks yang primitif, keterlambatan penggunaan tangan yang dominan, dsbnya.
© 2003 Digitized by USU digital library
9
Kondisi ini berkaitan dengan kondisi kesehatan umum seperti enchepalitis,
phenylketonuria, fragile X syndrome, anoxia saat kelahiran dan maternal rubella).
6.3.Diagnosa berdasarkan hasil pemeriksaan medis - neurologis
Seperti telah dikemukakan terdahulu, factor biologis diperkirakan juga
memberikan andil bagi berkembangkany gangguan autisme pada anak. Oleh karena
itu untuk mendukung penegakan diagnosa diperlukan pemeriksaan kesehatan dan
neurologis yang lengkap dan terpadu.
Selain diagnosa autisme, menurut dr. Rudi Sutadi (1998) terdapat juga
pengklasifikasian berat-ringannya autisme dengan menggunakan CARS ( Childhood
Autisme Rating Scale ). Untuk keperluan ilmiah, klasifikasi ini bermanfaat. Namun
disarankan untuk hati-hati dalam penggunaan klasifikasi ringan-sedang-berat ini
disebabkan untuk penanganan autis sampai saat ini peringkat tersebut tidak
dikaitkan dengan perbedaan prognosis dan intervensi. Intervensi autisme pada
klasifikasi manapun tetap sama yaitu intervensi (terutama tata laksana perilaku)
yang terpadu dan optimal.
Kehati-hatian penggunaan peringkat ini juga disebabkan pengaruhnya pada
orangtua penyandang autisme. Bila anak didiagnosis menderita autisme ringan,
dapat menimbulkan kelengahan pada orangtua untuk melaksanakan tatalaksana
yang optimal. Sedangkan bagi mereka yang dinyatakan berat, mungkin saja merkea
menjadi depresi dan putus asa sehingga tidak berbuat apa-apa pada anak mereka.
7. PENANGANAN ANAK AUTIS
Pertanyaan yang sering dilontarkan orang tua adalah apakah anaknya dapat
secara total bebas dari autisme. Agak sulit untuk menerangkan pada orang tua
bahwa autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan
( not curable ), namun bisa diterapi ( treatable ). Maksudnya kelainan yang terjadi
pada otak tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi
semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya bisa berbaur dengan anak-
anak lain secara normal. ( Wenar, 1994 )
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor ( Budiman, 1998 ) yaitu :
a. berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak.
b. usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat
dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
c. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
d. Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara seumur
hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang
berbeda-beda. Mereka dengan kemampuan bicara yang baik mempunyai
prognosis yang lebih baik.
e. Terapi yang intensif dan terpadu.
7.1. TERAPI YANG TERPADU
Penanganan / intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan
dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4 – 8
jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi
dengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan kerjasama tim yang
terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog
neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik.
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain :
© 2003 Digitized by USU digital library
10
a. Terapi medikamentosa
b. Terapi psikologis
c. Terapi wicara
d. Fisioterapi
7.1.1. Terapi medikamentosa
Menurut dr. Melly Budiman ( 1998) , pemberian obat pada anak harus didasarkan
pada diagnosis yang tepat, pemakaian obat yang tepat, pemantauan ketat terhadap
efek samping dan mengenali cara kerja obat. Perlu diingat bahwa setiap anak
memiliki ketahanan yang berbeda-beda terhadap efek obat, dosis obat dan efek
samping. Oleh karena itu perlu ada kehati-hatian dari orang tua dalam pemberian
obat yang umumnya berlangsung jangka panjang.
Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga
diberika obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat antidepressan SSRI (
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor ) yang bisa memberikan keseimbangan
antara neurotransmitter serotonin dan dopamine. Yang diinginkan dalam pemberian
obat ini adalah dosis yang paling minimal namun paling efektif dan tanpa efek
samping. Pemakaian obat akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak
terhadap lingkungan sehingga ia lebih mudah menerima tata laksana terapi lainnya.
Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat dapat dikurangi
bahkan dihentikan.
7.1.2. Terapi psikologis
Dalam penanganan autisme, seringkali perkembangan kemampuan berjalan lambat
dan mudah hilang ( Wenar,1994 ). Umumnya intervensi difokuskan pada
meningkatkan kemampuan bahasa dan komunikasi, self-help dan perilaku sosial dan
mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki seperti melukai diri sendiri ( self
mutilation ), temper tantrum dengan penekanan pada peningkatan fungsi individu
dan bukan “menyembuhkan” dalam arti mengembalikan penyandang autis ke posisi
normal.
Rutter ( dalam Wenar, 1994 ) membuat pendekatan yang komprehensif
dalam intervensi autisme yang memiliki tujuan :
- membantu perkembangan kognitif, bahasa dan sosial yang normal
- meningkatkan kemampuan belajar anak autistik
- mengurangi kekakuan dan perilaku stereotype dengan meningkatkan
interaksi penyandang autis dengan orang lain dan tidak membiarkannya
“hidup sendiri” . Interaksi yang kurang justru akan menyebabkan munculnya
perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki. Dalam hal ini pemberian mainan
yang bervariasi juga dapat mengurangi kekakuan ini.
- mengurangi perilaku maladaptive seperti temper tantrum dan melukai diri
sendiri
- mengurangi stress pada keluarga penderita autisme
Selanjutnya, Lieke Van Sleeuwen ( 1996 ) menyatakan intervensi psikologis
anak-anak autistik harus terfokus pada :
- memberikan stimulasi spesifik dan latihan untuk mengkompensasikan
keterlambatan perkembangan secara menyeluruh
- memutuskan atau mengurangi perilaku yang sulit ditangani oleh lingkungan
yang menghambat proses belajar sosial dan pendidikan
- mencegah timbulnya gangguan sekunder yang mungkin muncul sebagai efek
dari gangguan utama.
© 2003 Digitized by USU digital library
11
Ketiga hal ini hanya dapat dilaksanakan pada lingkungan yang sangat
terstruktur dan teratur dengan baik. Anak autistik memiliki pola berpikir yang
berbeda, mereka mengalami kesulitan memahami lingkungannya. Oleh karena itu
memberikan lingkungan terstruktur merupakan titik awal dalam proses intervensi
penyandang autis. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sbb :
a. Keteraturan waktu dan tempat
yaitu : jadwal harian yang tetap dan ruang yang pasti. Namun tidak berarti
bahwa segala sesuatu harus terjadi dengan cara yang sama. Perubahan-
perubahan kecil juga diperlukan agar anak autis dapat meningkatkan
fleksibilitas mereka.
b. Berhubung adanya kesulitan berpikir dan bertingkah laku pada anak autis,
maka perlu merangsang dan melatih anak melalui berbagai aspek yang
disesuaikan dengan minat yang dimiliki anak.
c. Pengajaran dilakukan secara bertahap dan bila memungkinkan menggunakan
alat peraga
d. Proses pendidikan berlangsung secara individual ( khusus ). Anak autis tidak
memiliki ketrampilan sosial yang diperlukan untuk belajar dalam situasi
kelompok. Oleh karena itu, pendekatan individual diberikan pada anak
termasuk didalamnya individual play training. Training bermain ini merupakan
terapi yang mengajari anak bermain dan membimbing anak ke dalam
berbagai kemungkinan fungsional suatu mainan. Contohnya seperti sebuah
mobil tidak hanya merupakan benda dengan roda yang berjalan tetapi juga
dapat disetir dan mengangkut orang dan benda-benda lain.
Seperti halnya Rutter yang menekankan perlunya mengatasi stress pada
keluarga, Sleeuwen ( 1996 ) juga menekankan pentingnya konseling keluarga.
Setelah seorang anak didiagnosa autisme, adalah penting bahwa tidak hanya anak
tersebut yang mendapatkan pertolongan, namun juga orang tua. Orang tua perlu
diberikan pengertian mengenai kondisi anak dan mampu menerima anak mereka
yang menderita autis. Mereka juga dilibatkan dalam proses terapi ( Home training ).
Konsep yang ada dalam home training ini adalah orang tua belajar dan dilatih untuk
dapat melakukan sendiri terapi yang dilakukan psikolog/terapis. Terapi tidak hanya
dilakukan oleh terapis tetapi juga oleh keluarga di rumah. Terapi yang intensif akan
meminimalisir kemungkinan hilangnya kemampuan yang telah dilatih dan dikuasai
anak.
7.1.3. Terapi Wicara
Umumnya hampir semua penyandang autisme menderita gangguan bicara dan
berbahasa. Oleh karena itu terapi wicara pada penyandang autisme merupkan
keharusan. Penanganannya berbeda dengan penderita gangguan bicara oleh sebab
lain. Salah seorang tokoh yang mengembangkan terapi bicara ini adalah Lovaas pada
tahun 1977 yang menggunakan pendekatan behaviouris - model operant
conditioning ( dalam Wenar, 1994 ). Anak yang mengalami hambatan bicara dilatih
dengan proses pemberian reinforcement dan meniru vokalisasi terapis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar