Powered By Blogger

Minggu, 06 Juni 2010

Cara Mengatasi Kemalasan

1. Jika tidak bekerja tidak makan

a. 2 Tesalonika 3: 10, “….Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.
b. Amsal 28: 19, “Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinan.”

c. Kejadian 3: 19, “…..dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah….”

Ada tiga karakteristik orang yang tidak perlu ditolong:
Mereka yang tidak mau bekerja atau tidak tertib hidupnya /tidak disiplin (lihat juga Amsal 6: 6-11; 19: 15; 20: 13; 21: 25; 24: 30-34)

2 Tesalonika 3: 10- 11, “….Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.”
Mereka yang tidak mau menerima teguran atau nasehat

2 Tesalonika 3: 14, “Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakaa dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia….”
Mereka yang kikir

Amsal 28: 22, “Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.”

Jadi, Allah tidak memberkati mereka yang malas.

II. Pergi kepada semut

Amsal 6: 6, “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadiklah bijak.”

Apa yang dapat kita pelajari dari seekor semut?
Semut tidak mempunyai pemimpin
Yang memotivasikan seekor semut untuk bekerja adalah teladan dari semut yang senior. Semut-semut yang sudah senior, selalu memiliki semangat dalam bekerja, dan menjadi teladan bagi semut-semut yang masih junior. Seekor semut dapat hidup sampai usia 6-tahun. Sekalipun semut sudah lanjut usia, mereka tetap masih bekerja. Pada umumnya semut yang masih junior tinggal di nursery, sedangkan semut yang senior bekerja untuk membawa makana ke dalam lumbung. Jadi semut tidak memiliki supervisors, ketua, atau pemimpin.

Semut menyediakan makanan pada waktu musim panas
Semut adalah seekor binatang seperti insects lainnya, dimana tubuh mereka sangat di pengaruhi oleh suhu udara. Apabila musim dingin, maka tubuh mereka menjadi lemah. Oleh sebab itu, mereka bekerja mengumpulkan makanan selama musim panas, sehingga mereka dapat beristirahat di musim dingin.
Semua adalah binatang yang sangat ringan. Tetapi mereka memiliki kekuatan yang luar biasa. Semut dapat mengangkat sehelai daun yang beratnya lima puluh kali lebih daripada berat tubuhnya sendiri dengan jarak lima puluh meter. Seumpama seorang manusia yang beratnya 100 kg mengangkat 5 ton di- punggungnya sejauh 25 km. Semut dapat bekerja, dalam sehari, membawa makanannya kedalam sarang sejauh kurang lebih 133 m, untuk empat kali pulang-pergi. Seumpama seorang melakukan suatu perjalanan sepanjang 100 km.

Semut saling mengorbankan diri demi kebutuhan
Apabila air masuk ke dalam lumbung persediaan makanan mereka sehingga menjadi basah, maka semut mengeluarkan persediaan makanan tersebut dari lumbung untuk dibawa kepermukaan tanah, supaya di keringkan oleh panas matahari. Lalu setelah persediaan makanan itu menjadi kering, mereka membawa kembali kedalam lumbung.
Mereka menyediakan susu dengan cara berikut: Beberapa ekor semut meminum susu atau mengisi perutnya dengan susu hingga penuh, sampai bengkak. Kemudian mereka bergantung diatas ceiling dari lumbung persediaan (sebagai milk tangks). Semut yang lain dapat mengambil kebutuhan susu dengan jalan mengisap milk tanks tersebut.

III. Kemalasan merupakan suatu product
Amsal 24: 30-34, “Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh. Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran. Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring, maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.”

Kemalasan itu bertumbuh secara bertahap di dalam diri seseorang. Itu dimulai dari orang-orang yang membiarkan dirinya menyerah kepada kemauannya dan tidak mampu melawan kemauannya. Dan pada akhirnya, menimbulkan suatu kelumpuhan dalam hidupnya.

Cara mengatasi: Orang tersebut harus diberi tanggung –jawab dalam suatu pekerjaan serta dituntut untuk itu.

IV. Belajar disiplin untuk bangun pada waktunya

Amsal 6: 9, “Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?”

Disini Salomo berbicara mengenai waktu yang terlalu banyak digunakan untuk tidur.

Kata ‘diligently’ (rajin & tekun) di dalam bahasa Ibraninya diterjemahkan ‘to be up early at a task’ (bangun pagi untuk mengerjakan sesuatu).
Hati-hati dengan keterikatan untuk tidur (Amsal 26: 14; 20: 13)
Hati-hati dengan tidur yang pada akhirnya mendatangkan kelambanan (Amsal 19: 15)
Hati-hati dengan tidur yang pada akhirnya merampas seluruh berkat kita (Amsal 24: 33-34)
Hati-hati dengan ‘little extra sleep’ (Amsal 6: 10-11)
Hati-hati dengan tidur yang tidak teratur (Amsal 10: 5)

V. Belajar untuk menghargai waktu
Setiap waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi. Jangan selalu menunda-nuda pekerjaan. Kerjakan sampai tuntas segala sesuatu yang telah dimulai. Nasib bergantung kepada kita bukan kita kepada nasib (artinya kita yang menentukan nasib hidup kita sendiri bukan hidup ditentukan oleh nasib).

http://www.ipc-online.net/resources/sermon/Cara%20Mengatasi%20Kemalasan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar