1. Apa itu autisme?
Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya harus sudah muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan neurologi pervasif ini terjadi pada aspek neurobiologis otak dan mempengaruhi proses perkembangan anak. Akibat gangguan ini sang anak tidak dapat secara
otomatis belajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga ia seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.
2. Apa saja gejalanya?
Gejala individu autistik yang harus muncul (salah satu atau kesemuanya) adalah gangguan interaksi kualitatif, gangguan komunikasi yang tidak diusahakan diatasi dengan kemampuan komunikasi non-verbal, dan perilaku repetitif terbatas dengan pola minat, perilaku dan aktifitas berulang.
3. Bagaimana mendiagnosa autisme?
Walaupun tidak ada satu tes khusus yang tersedia untuk mendiagnosa gangguan perkembangan ini, melalui observasi kriteria-kriteria spesifik dapat ditegakkan satu diagnosa konsensus.
4. Siapa yang berwenang menegakkan diagnosis bahwa seseorang itu autistik?
Apakah seseorang dapat dinyatakan sebagai individu autistik atau tidak, ditentukan melalui tahapan wawancara mendalam dengan orang-orang yang mengasuh anak dan paham akan perkembangan anak di tiga tahun pertama kehidupannya, observasi serta interaksi dengan anak tersebut. Dokter dan psikolog biasanya adalah profesi-profesi yang dijadikan ujung tombak penanganan individu autistik. Profesi lain seperti guru, terapis, maupun pihak saudara, serta orangtuanya sendiri dan anggota masyarakat umum memegang peranan penting dalam memberikan data mengenai kondisi anak sehari-hari secara detil.
5. Apa penyebab autisme?
Sampai saat ini, apa yang menjadi penyebab gangguan spektrum autisme ini belum dapat ditetapkan. Negara-negara adikuasa yang sanggup melakukan penelitian menyatakan bahwa penyebab gangguan perkembangan ini merupakan interaksi antara faktor genetik dan berbagai paparan negatif yang didapat dari lingkungan.
6. Apa saja penanganan yang tersedia bagi individu autistik di Indonesia?
Berbagai terapi terbukti membantu meningkatkan kualitas hidup individu autistik. Penanganan yang sudah tersedia di Indonesia antara lain adalah terapi perilaku, terapi wicara, terapi komunikasi, terapi okupasi, terapi sensori integrasi, pendidikan khusus, penanganan medikasi dan biomedis, diet khusus. Penanganan lain seperti integrasi auditori, oxygen hiperbarik, pemberian suplemen tertentu, sampai terapi dengan lumba-lumba juga sudah
tersedia di beberapa kota besar.
Selasa, 13 April 2010
Autism Disorder
Autism Disorder
Autisme (autism) merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang berdampak pada gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi verbal- nonverbal dan perilaku tertentu yang cenderung terbatas, mengulang dan tidak mempunyai ketertarikan terhadap hal lainnya (baru).
Autisme mempunyai banyak gejala lainnya yang menyertai gangguan tersebut seperti permasalahan penggunaan bahasa, menjalin hubungan dan memiliki interpretasi yang berbeda dalam merespon lingkungan sekitarnya.
Autisme diartikan sebagai gangguan syaraf mental di awal perkembangan masa kanak-kanak, meskipun kadang diagnosa autisme itu sendiri tidak terdeteksi ketika sejak masa prasekolah atau masa sekolah. Gejala autisme kemungkinannya telah muncul ketika usia anak mencapai 12-18 bulan. Perilaku karakteristik autisme sendiri mudah terdeteksi pada usia 3 tahun, misalnya dengan mengetahui keterlambatan dalam berbicara atau penguasaan kosa kata pada masa prasekolah.
Keterlambatan anak menguasai bahasa sampai usia 5 tahun menjelang sekolah merupakan permasalahan yang sering terjadi pada anak-anak autisme, gejala-gejala yang tampak pada autisme dapat terlihat secara jelas pada usia 4-5 tahun ketika anak mengalami permasalahan dalam berinteraksi sosial dengan usia sebayanya. Permasalahan tersebut akan terus berlanjut pada fase perkembangan selanjutnya, bahkan seumur hidupnya.
American Psychiatric Association (APA) mengklasifikasikan Autisme dalam gangguan perkembangan pervasif (pervasive development disorders; PDD) bersama dengan beberapa gangguan lain; sindrom Asperger, gangguan disintegratif pada anak, gangguan Rett, dan gangguan perkembangan pervasif yang tidak terdefinisikan. Kesemua gangguan tersebut merupakan gangguan yang berhubungan dengan permasalahan komunikasi, sosial interaksi, perilaku terbatas, mengulang. Gangguan-gangguan tersebut kadang disebut sebagai gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorders; ASDs).
Disebut sebagai gangguan spektrum autisme karena beberapa gejala umum mempunyai kemiripan, meskipun gangguan tersebut berbeda antara setiap orang, namun gangguan tersebut pada area yang sama; sosialisasi, komunikasi dan perilaku. Kecuali pada sindrom Asperger, anak tidak memiliki hambatan dalam berkomunikasi.
Individu dengan gangguan autisme ringan dapat belajar untuk mandiri, namun beberapa diantara penderita autisme harus secara terus-menerus mendapatkan perawatan selama hidupnya. Sejauh ini belum ditemukan obat yang efektif untuk menyembuhkan gangguan autisme secara total.
Faktor penyebab
Penyebab utama gangguan ASDs ini tidak diketahui secara pasti, dugaan utama adanya gangguan pada sistem syaraf yang kompleks, beberapa penelitian lainnya menduga adanya faktor genetika.
1) Genetika
Diduga tidak hanya satu gen saja yang memungkinkan kemunculan gangguan autisme, hasil riset menduga adanya beberapa jenis gen yang berbeda atau kombinasi diantaranya yang memungkinkan resiko terkena autisme. Bila dalam satu keluarga mempunyai 1 anak menderita autisme maka prevalensi mempunyai anak autisme sebesar 3-8%, sementara pada kembar monozigot sebesar 30%.
2) Kondisi medis tertentu
Beberapa anak mempunyai riwayat kondisi medis yang berhubungan dengan autisme seperti;
- gangguan metabolisme seperti phenylketonuria (PKU)
- infeksi bawaan seperti rubella, cytomegalovirus (CMV) , toksoplasmosis
- kelainan genetika seperti X-sindrome , tuberous sclerosis
- Kelainan perkembangan otak seperti; microcephaly, macrocephaly, cerebral dysgenesis, cerebral palsy.
- Gangguan neurologi pasca melahirkan seperti encephalopathy, meningitis
- Lain-lain seperti epilepsi.
Catatan; kondisi medis diatas bukanlah sebagai penyebab autisme, beberapa pasien dengan kondisi medis diatas kadang juga tidak memiliki gejala autisme.
3) Kombinasi antara faktor lingkungan dan genetika
Simtom
1) Gangguan sosial
• Kesulitan dalam mengenal pelbagai perilaku nonverbal seperti kontak mata, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan gerak isyarat dalam hubungan sosial.
• Gagal dalam mengembangkan hubungan sosial dan menjalin hubungan dengan orang lain ke tingkat yang lebih mendalam (akrab)
• Tidak spontan dalam menikmati, ketertarikan atau perilaku lawan bermain, orang lain atau objek lain.
• Kurang mampu bersosialisasi dan tidak mampu menunjukkan hubungan timbal balik emosi
Gangguan sosial merupakan salah satu permasalahan utama pada autisme dan ASDs. Gangguan ASDs bukanlah semata kesulitan dalam berinteraksi sosial seperti rasa malu berlebihan. Permasalahan ini merupakan hal serius sepanjang hidupnya, problem sosial sering menjadi kombinasi dengan beberapa gangguan lainnya seperti kemampuan berkomunikasi dan perilaku apatis ketidaktertarikan dengan kehidupan sekelilingnya.
Pada umumnya bayi akan tertarik dengan lingkungan sekitarnya dan merespon positif dengan tersenyum kepada orang lain, menggigit jari (fase oral) atau mengerti lambaian tertentu kepadanya. Pada bayi autisme kesulitan dan membutuhkan waktu cukup lama untuk berinteraksi dengan orang lain.
Anak autis tidak melakukan interaksi seperti yang dilakukan anak lain, mereka tidak mempunyai ketertarikan dengan orang lain, meskipun beberapa diantaranya tetap berteman dan bermain bersama. Mereka menghindari kontak mata bahkan cenderung untuk menyendiri. Anak autisme juga kesulitan untuk belajar aturan-aturan permainan yang dibuat oleh kelompok bermainnya, sehingga kadang teman-teman memilih untuk tidak mengajaknya bermain bersama.
Anak autisme juga mempunyai problem mengenai ekspresi, anak autis akan kesulitan untuk mengerti perasaan orang lain dan kesulitan untuk memahami perasaan yang diucapkan oleh orang lain. Mereka juga sangat sensitif untuk disentuh atau bahkan tidak menyukai orang lain bercanda dengannya. Anak autisme juga tidak merasa nyaman dan menjauhi orang lain yang membuatnya merasa malu.
Penderita autisme dewasa kesulitan dalam beradaptasi dengan pekerjaannya dan permasalahan intelektual akan berkaitan dengan kemunculan kecemasan dan depresi yang akan memperburuk kondisinya. Sikap polos penderita autis dewasa kadang juga dapat dimanfaatkan oleh orang lain untuk mengambil keuntungan
2) Gangguan komunikasi
• Tidak mampu sama sekali atau terlambat dalam perkembangan berbahasa (kecuali adanya hambatan lain yang harus menggunakan bahasa isyarat atau mimik)
• Kesulitan dalam berbicara atau kesulitan untuk mengerti pembicaraan orang lain
• Suka mengulang suatu kata atau idiom tertentu
• Tidak variatif, tidak spontan dan kesulitan untuk mengerti atau bermain pura-pura
Sangat sedikit gangguan ASDs mampu berbahasa verbal dengan baik, beberapa diantaranya justru tidak berkemampuan untuk berbahasa atau mempunyai keterbatasan dan sedikit ketertarikan untuk berkomunikasi. Sekitar 40% anak dengan gangguan ASDs tidak mampu berbicara samasekali dan sekitar 25%-30% balita autisme hanya menguasai beberapa kata saja saat berusia 12-18 bulan yang kemudian kemampuan tersebut menghilang begitu saja. Selebihnya kemampuan tersebut dicapai dimasa anak-anak
Dalam berbicara individu dengan ASDs kurang mampu dalam mengkombinasikan beberapa kata dalam satu kalimat, sehingga mereka cenderung hanya menggunakan satu kata atau beberapa kata saja. Beberapa diantaranya juga acap mengulang kata-kata sama berulang-ulang atau mengulang kembali pertanyaan yang diajukan sebagai jawaban. Kondisi ini disebut dengan echolalia.
Anak dengan ASDs sulit mengerti perintah isyarat, bahasa tubuh, atau suara tertentu. Misalnya saja, sulit mengerti arti lambaian tangan atau ekspresi wajah. Beberapa kasus anak autisme kadang tidak cocok dalam mengekspresikan emosi dengan perkataan, misalnya saja ia mengatakan bahwa dirinya dalam kesedihan akan tetapi ia tersenyum.
Anak autsme sulit diajak bercanda atau berpura-pura, kadang ia tidak merespon samasekali dengan permainan, misalnya balita autis tidak merespon permainan “ciluk ba“. Anak normal berbalik arah memeluk ibunya ketika diajak bermain “ciluk ba”.
3. Kecenderungan untuk mengulang perilaku tertentu, tidak tertarik, atau perilaku terbatas pada aktivitas.
• Mencakup satu atau beberapa perilaku tertentu berupa ketertarikan luar biasa (abnormal) pada sesuatu yang sangat menarik perhatiannya.
• Tidak fleksibel, tidak mampu melakukan hal-hal rutinitas
• Mempunyai perilaku stereotip tertentu, atau tingkah laku (gaya) tertentu dan mengulang
• Tidak bosan dan secara tetap terikat atau larut dengan objek tertentu.
Anak dengan gangguan ASDs akan menghabiskan waktu begitu lama bila sedang bermain atau larut dengan mainannya. Bila mainan itu dapat bergerak dengan sendirinya maka ia tidak akan melepaskan pandangannya dengan tidak berkedip dan bila mainan itu berhenti tatapannya tidak berubah barulah agak lama kemudian ia akan mencobanya lagi.
Individu dengan gangguan ASDs mampu melakukan hal-hal yang rutin ia lakukan sehari-harinya. Perubahan pola keteraturan dapat membuatnya bingung dan frustrasi, misalnya saja ia akan melalui jalan yang sama setiap harinya, bila jalan tersebut ditutup, hal itu akan membuatnya frustrasi.
Beberapa ASDs kadang sering melakukan hal yang sama secara terus-menerus meskipun sebenarnya perbuatan tidak perlu dan tidak berguna baginya. Misalnya saja ia melihat semua jendela rumah yang terbuka ketika melewati jalan, menonton film yang pernah ia tonton sebelumnyalebih dari dua kali.
Test
Saat ini belum ada alat secara medis untuk mendeteksi ASDs. Tenaga profesional menggunakan gejala-gajala yang ada dari perilaku yang tampak. Secara umum gejala-gejala tersebut mulai terdeteksi sejak usia bayi beberapa bulan yang berlanjut pada kemunculan pada usia 3 tahun
Langkah diagnosis untuk gangguan ASDs dilakukan dengan melihat masa perkembangan awal dan survei dokter selama dilakukan kunjungan. Langkah tersebut biasanya dilakukan dokter dengan cara men-check list pelbagai pertanyaan untuk mengindentifikasi beberapa gangguan perkembangan pada usia 9 bulan, 18 bulan dan 24-30 bulan (dapat diisi oleh orangtua) bila ditangani terlebih awal maka dokter akan memberikan beberapa test kemampuan yang disesuaikan dengan usia perkembangan diatas.
ASDs merupakan gangguan yang kompleks, untuk melakukan screening secara tepat biasanya dilakukan evaluasi yang komperehensif, seperti test secara fisik, neurobiology, atau bahkan test genetik.
Beberapa test diagnostik yang dapat digunakan untuk mendiagnosa gangguan autisme;
1) Autism Diagnosis Interview–Revised (ADI–R)
2) Autism Diagnostic Observation Schedule-Generic (ADOS–G)
3) Childhood Autism Rating Scale (CARS)
4) The Gilliam Autism Rating Scale (GARS)
5) Autism Spectrum Screening Questionnaire (ASSQ)
Treatment
Tidak ada standar khusus untuk treatmen pada anak autis, tenaga professional menggunakan beberapa standar yang berbeda-beda dalam menangani pasien gangguan autisme. Karenanya orangtua yang memiliki anak autisme dapat memilih tenaga profesional berpengalaman dari pelbagai informasi yang ada dan dianggap dapat membantu anak-anak autisme secara lebih baik. Lakukanlah diskusi dengan tenaga profesional dalam mengambil beberapa tindakan yang diperlukan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua;
a. Lihatlah reputasi tenaga profesional tersebut yang berpengalaman
b. Keputusan yang diambil haruslah berdasarkan pada petujuk-petunjuk yang tersusun secara rinci yang merupakan hasil diskusi antara orangtua dan tenaga professional yang terlibat didalamnya.
c. Hal-hal yang dilakukan dalam pemberian treatment haruslah mempunyai alasan yang jelas, maksud dan manfaat dari tindakan yang diperlukan
d. Tidak ada standar obat medis yang direkomendasikan secara khusus dalam treatmen yang diberikan, bahkan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan gangguan autisme, oleh karenanya treatmen yang diberikan dapat berbeda-beda tiap individu dengan gangguan autisme atau ASDs lainnya.
e. Orangtua haruslah berperan dalam pemberian treatmen dengan pengetahuan yang cukup mengenai gangguan ini dan dapat melihat perubaha-perubahan yang terjadi pada anak selama pemberian treatmen apakah sesuai dengan karakter anak atau tidak.
f. Lihat perubahan perkembangan anak selama pemberian treatmen, biasanya anak autisme mengalami perubahan-perubahan yang berarti selama treatmen yang dilakukan
Treatmen pada anak dengan gangguan autisme dapat berupa memberikan pelatihan khusus dan manajemen perilaku, treatmen dilakukan dalam jangka yang panjang dan dialkukan secara intensif. Dokter juga akan memberikan obat-obatan yang dapat mendukug treatmen tersebut.
Treatmen pada anak dengan gangguan autisme dapat berupa memberikan pelatihan khusus dan manajemen perilaku, treatmen dilakukan dalam jangka yang panjang dan dialkukan secara intensif. Dokter juga akan memberikan obat-obatan yang dapat mendukug treatmen tersebut.
Obat-obatan
Medikasi sebenarnya tidak diperlukan bagi penderita autisme, kecuali bila disertai dengan adanya gangguan syaraf lainnya. Medikasi diberikan untuk membantu autis mengontrol beberapa perilaku seperti hiperaktif, impulsif, konsentrasi atau kecemasan. Hal yang perlu diingat bahwa pemberian obat-obatan tersebut kadang tidak cocok dengan tiap individu dan pemberian obat dalam waktu yang relatif lama juga memberikan pengaruh yang tidak baik bagi anak-anak autis.
Obat antipsikotik; pemberian jenis obat-obatan ini untuk mengurangi dari beberapa perilaku seperti hiperaktif, perilaku menyendiri, pengulang perilaku atau perilaku agresif. Jenis obat ini dapat berupa risperidone (Risperdal), olanzapine (Zyprexa), dan quetiapine (Seroquel)
Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs); adalah jenis obat antidepressants yang sering digunakan untuk penderita depresi, obsessive-compulsive disorder, atau gangguan kecemasan. Jenis obat ini dapat mengurang perilaku seperti agresif, pengulangan perilaku, marah, dsb. Jenis obat ini berupa fluoxetine (Prozac), fluvoxamine (Luvox), sertraline (Zoloft), dan paroxetine (Paxil). Antidepressant lainnya; Clomipramine (Anafranil), Mirtazapine (Remeron), amitriptyline (Elavil) dan bupropion (Wellbutrin).
Obat stimulant; Jenis obat ini dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi dan mengurangi perilaku impulsif dan hiperaktif. Jenis obat ini berupa methylphenidate (Ritalin) dan amphetamines (Adderall, Dexedrine).
Jenis obat lainnya; Alpha-2 adrenergic agonists (clonidine) diberikan untuk mengurangi perilaku hiperaktif.
Pemberian obat-obatan tersebut haruslah melalui pengawasan dokter secara ketat, pemberian jangka panjang akan memberikan efek yang tidak baik bagi anak autis.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian obat-obatan;
- Menimbulkan rasa mengantuk (sedasi)
- Ketergantungan pada obat
- Beberapa jenis obat dapat bereaksi dengan makanan, perlu kontrol dan konsultasi dokter mengenai penggunaan obat-obatan tersebut
- Obat-obatan tersebut harus diberikan oleh tenaga medis profesional yang berpengalaman dalam menangani anak-anak autis.
Autisme (autism) merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang berdampak pada gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi verbal- nonverbal dan perilaku tertentu yang cenderung terbatas, mengulang dan tidak mempunyai ketertarikan terhadap hal lainnya (baru).
Autisme mempunyai banyak gejala lainnya yang menyertai gangguan tersebut seperti permasalahan penggunaan bahasa, menjalin hubungan dan memiliki interpretasi yang berbeda dalam merespon lingkungan sekitarnya.
Autisme diartikan sebagai gangguan syaraf mental di awal perkembangan masa kanak-kanak, meskipun kadang diagnosa autisme itu sendiri tidak terdeteksi ketika sejak masa prasekolah atau masa sekolah. Gejala autisme kemungkinannya telah muncul ketika usia anak mencapai 12-18 bulan. Perilaku karakteristik autisme sendiri mudah terdeteksi pada usia 3 tahun, misalnya dengan mengetahui keterlambatan dalam berbicara atau penguasaan kosa kata pada masa prasekolah.
Keterlambatan anak menguasai bahasa sampai usia 5 tahun menjelang sekolah merupakan permasalahan yang sering terjadi pada anak-anak autisme, gejala-gejala yang tampak pada autisme dapat terlihat secara jelas pada usia 4-5 tahun ketika anak mengalami permasalahan dalam berinteraksi sosial dengan usia sebayanya. Permasalahan tersebut akan terus berlanjut pada fase perkembangan selanjutnya, bahkan seumur hidupnya.
American Psychiatric Association (APA) mengklasifikasikan Autisme dalam gangguan perkembangan pervasif (pervasive development disorders; PDD) bersama dengan beberapa gangguan lain; sindrom Asperger, gangguan disintegratif pada anak, gangguan Rett, dan gangguan perkembangan pervasif yang tidak terdefinisikan. Kesemua gangguan tersebut merupakan gangguan yang berhubungan dengan permasalahan komunikasi, sosial interaksi, perilaku terbatas, mengulang. Gangguan-gangguan tersebut kadang disebut sebagai gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorders; ASDs).
Disebut sebagai gangguan spektrum autisme karena beberapa gejala umum mempunyai kemiripan, meskipun gangguan tersebut berbeda antara setiap orang, namun gangguan tersebut pada area yang sama; sosialisasi, komunikasi dan perilaku. Kecuali pada sindrom Asperger, anak tidak memiliki hambatan dalam berkomunikasi.
Individu dengan gangguan autisme ringan dapat belajar untuk mandiri, namun beberapa diantara penderita autisme harus secara terus-menerus mendapatkan perawatan selama hidupnya. Sejauh ini belum ditemukan obat yang efektif untuk menyembuhkan gangguan autisme secara total.
Faktor penyebab
Penyebab utama gangguan ASDs ini tidak diketahui secara pasti, dugaan utama adanya gangguan pada sistem syaraf yang kompleks, beberapa penelitian lainnya menduga adanya faktor genetika.
1) Genetika
Diduga tidak hanya satu gen saja yang memungkinkan kemunculan gangguan autisme, hasil riset menduga adanya beberapa jenis gen yang berbeda atau kombinasi diantaranya yang memungkinkan resiko terkena autisme. Bila dalam satu keluarga mempunyai 1 anak menderita autisme maka prevalensi mempunyai anak autisme sebesar 3-8%, sementara pada kembar monozigot sebesar 30%.
2) Kondisi medis tertentu
Beberapa anak mempunyai riwayat kondisi medis yang berhubungan dengan autisme seperti;
- gangguan metabolisme seperti phenylketonuria (PKU)
- infeksi bawaan seperti rubella, cytomegalovirus (CMV) , toksoplasmosis
- kelainan genetika seperti X-sindrome , tuberous sclerosis
- Kelainan perkembangan otak seperti; microcephaly, macrocephaly, cerebral dysgenesis, cerebral palsy.
- Gangguan neurologi pasca melahirkan seperti encephalopathy, meningitis
- Lain-lain seperti epilepsi.
Catatan; kondisi medis diatas bukanlah sebagai penyebab autisme, beberapa pasien dengan kondisi medis diatas kadang juga tidak memiliki gejala autisme.
3) Kombinasi antara faktor lingkungan dan genetika
Simtom
1) Gangguan sosial
• Kesulitan dalam mengenal pelbagai perilaku nonverbal seperti kontak mata, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan gerak isyarat dalam hubungan sosial.
• Gagal dalam mengembangkan hubungan sosial dan menjalin hubungan dengan orang lain ke tingkat yang lebih mendalam (akrab)
• Tidak spontan dalam menikmati, ketertarikan atau perilaku lawan bermain, orang lain atau objek lain.
• Kurang mampu bersosialisasi dan tidak mampu menunjukkan hubungan timbal balik emosi
Gangguan sosial merupakan salah satu permasalahan utama pada autisme dan ASDs. Gangguan ASDs bukanlah semata kesulitan dalam berinteraksi sosial seperti rasa malu berlebihan. Permasalahan ini merupakan hal serius sepanjang hidupnya, problem sosial sering menjadi kombinasi dengan beberapa gangguan lainnya seperti kemampuan berkomunikasi dan perilaku apatis ketidaktertarikan dengan kehidupan sekelilingnya.
Pada umumnya bayi akan tertarik dengan lingkungan sekitarnya dan merespon positif dengan tersenyum kepada orang lain, menggigit jari (fase oral) atau mengerti lambaian tertentu kepadanya. Pada bayi autisme kesulitan dan membutuhkan waktu cukup lama untuk berinteraksi dengan orang lain.
Anak autis tidak melakukan interaksi seperti yang dilakukan anak lain, mereka tidak mempunyai ketertarikan dengan orang lain, meskipun beberapa diantaranya tetap berteman dan bermain bersama. Mereka menghindari kontak mata bahkan cenderung untuk menyendiri. Anak autisme juga kesulitan untuk belajar aturan-aturan permainan yang dibuat oleh kelompok bermainnya, sehingga kadang teman-teman memilih untuk tidak mengajaknya bermain bersama.
Anak autisme juga mempunyai problem mengenai ekspresi, anak autis akan kesulitan untuk mengerti perasaan orang lain dan kesulitan untuk memahami perasaan yang diucapkan oleh orang lain. Mereka juga sangat sensitif untuk disentuh atau bahkan tidak menyukai orang lain bercanda dengannya. Anak autisme juga tidak merasa nyaman dan menjauhi orang lain yang membuatnya merasa malu.
Penderita autisme dewasa kesulitan dalam beradaptasi dengan pekerjaannya dan permasalahan intelektual akan berkaitan dengan kemunculan kecemasan dan depresi yang akan memperburuk kondisinya. Sikap polos penderita autis dewasa kadang juga dapat dimanfaatkan oleh orang lain untuk mengambil keuntungan
2) Gangguan komunikasi
• Tidak mampu sama sekali atau terlambat dalam perkembangan berbahasa (kecuali adanya hambatan lain yang harus menggunakan bahasa isyarat atau mimik)
• Kesulitan dalam berbicara atau kesulitan untuk mengerti pembicaraan orang lain
• Suka mengulang suatu kata atau idiom tertentu
• Tidak variatif, tidak spontan dan kesulitan untuk mengerti atau bermain pura-pura
Sangat sedikit gangguan ASDs mampu berbahasa verbal dengan baik, beberapa diantaranya justru tidak berkemampuan untuk berbahasa atau mempunyai keterbatasan dan sedikit ketertarikan untuk berkomunikasi. Sekitar 40% anak dengan gangguan ASDs tidak mampu berbicara samasekali dan sekitar 25%-30% balita autisme hanya menguasai beberapa kata saja saat berusia 12-18 bulan yang kemudian kemampuan tersebut menghilang begitu saja. Selebihnya kemampuan tersebut dicapai dimasa anak-anak
Dalam berbicara individu dengan ASDs kurang mampu dalam mengkombinasikan beberapa kata dalam satu kalimat, sehingga mereka cenderung hanya menggunakan satu kata atau beberapa kata saja. Beberapa diantaranya juga acap mengulang kata-kata sama berulang-ulang atau mengulang kembali pertanyaan yang diajukan sebagai jawaban. Kondisi ini disebut dengan echolalia.
Anak dengan ASDs sulit mengerti perintah isyarat, bahasa tubuh, atau suara tertentu. Misalnya saja, sulit mengerti arti lambaian tangan atau ekspresi wajah. Beberapa kasus anak autisme kadang tidak cocok dalam mengekspresikan emosi dengan perkataan, misalnya saja ia mengatakan bahwa dirinya dalam kesedihan akan tetapi ia tersenyum.
Anak autsme sulit diajak bercanda atau berpura-pura, kadang ia tidak merespon samasekali dengan permainan, misalnya balita autis tidak merespon permainan “ciluk ba“. Anak normal berbalik arah memeluk ibunya ketika diajak bermain “ciluk ba”.
3. Kecenderungan untuk mengulang perilaku tertentu, tidak tertarik, atau perilaku terbatas pada aktivitas.
• Mencakup satu atau beberapa perilaku tertentu berupa ketertarikan luar biasa (abnormal) pada sesuatu yang sangat menarik perhatiannya.
• Tidak fleksibel, tidak mampu melakukan hal-hal rutinitas
• Mempunyai perilaku stereotip tertentu, atau tingkah laku (gaya) tertentu dan mengulang
• Tidak bosan dan secara tetap terikat atau larut dengan objek tertentu.
Anak dengan gangguan ASDs akan menghabiskan waktu begitu lama bila sedang bermain atau larut dengan mainannya. Bila mainan itu dapat bergerak dengan sendirinya maka ia tidak akan melepaskan pandangannya dengan tidak berkedip dan bila mainan itu berhenti tatapannya tidak berubah barulah agak lama kemudian ia akan mencobanya lagi.
Individu dengan gangguan ASDs mampu melakukan hal-hal yang rutin ia lakukan sehari-harinya. Perubahan pola keteraturan dapat membuatnya bingung dan frustrasi, misalnya saja ia akan melalui jalan yang sama setiap harinya, bila jalan tersebut ditutup, hal itu akan membuatnya frustrasi.
Beberapa ASDs kadang sering melakukan hal yang sama secara terus-menerus meskipun sebenarnya perbuatan tidak perlu dan tidak berguna baginya. Misalnya saja ia melihat semua jendela rumah yang terbuka ketika melewati jalan, menonton film yang pernah ia tonton sebelumnyalebih dari dua kali.
Test
Saat ini belum ada alat secara medis untuk mendeteksi ASDs. Tenaga profesional menggunakan gejala-gajala yang ada dari perilaku yang tampak. Secara umum gejala-gejala tersebut mulai terdeteksi sejak usia bayi beberapa bulan yang berlanjut pada kemunculan pada usia 3 tahun
Langkah diagnosis untuk gangguan ASDs dilakukan dengan melihat masa perkembangan awal dan survei dokter selama dilakukan kunjungan. Langkah tersebut biasanya dilakukan dokter dengan cara men-check list pelbagai pertanyaan untuk mengindentifikasi beberapa gangguan perkembangan pada usia 9 bulan, 18 bulan dan 24-30 bulan (dapat diisi oleh orangtua) bila ditangani terlebih awal maka dokter akan memberikan beberapa test kemampuan yang disesuaikan dengan usia perkembangan diatas.
ASDs merupakan gangguan yang kompleks, untuk melakukan screening secara tepat biasanya dilakukan evaluasi yang komperehensif, seperti test secara fisik, neurobiology, atau bahkan test genetik.
Beberapa test diagnostik yang dapat digunakan untuk mendiagnosa gangguan autisme;
1) Autism Diagnosis Interview–Revised (ADI–R)
2) Autism Diagnostic Observation Schedule-Generic (ADOS–G)
3) Childhood Autism Rating Scale (CARS)
4) The Gilliam Autism Rating Scale (GARS)
5) Autism Spectrum Screening Questionnaire (ASSQ)
Treatment
Tidak ada standar khusus untuk treatmen pada anak autis, tenaga professional menggunakan beberapa standar yang berbeda-beda dalam menangani pasien gangguan autisme. Karenanya orangtua yang memiliki anak autisme dapat memilih tenaga profesional berpengalaman dari pelbagai informasi yang ada dan dianggap dapat membantu anak-anak autisme secara lebih baik. Lakukanlah diskusi dengan tenaga profesional dalam mengambil beberapa tindakan yang diperlukan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua;
a. Lihatlah reputasi tenaga profesional tersebut yang berpengalaman
b. Keputusan yang diambil haruslah berdasarkan pada petujuk-petunjuk yang tersusun secara rinci yang merupakan hasil diskusi antara orangtua dan tenaga professional yang terlibat didalamnya.
c. Hal-hal yang dilakukan dalam pemberian treatment haruslah mempunyai alasan yang jelas, maksud dan manfaat dari tindakan yang diperlukan
d. Tidak ada standar obat medis yang direkomendasikan secara khusus dalam treatmen yang diberikan, bahkan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan gangguan autisme, oleh karenanya treatmen yang diberikan dapat berbeda-beda tiap individu dengan gangguan autisme atau ASDs lainnya.
e. Orangtua haruslah berperan dalam pemberian treatmen dengan pengetahuan yang cukup mengenai gangguan ini dan dapat melihat perubaha-perubahan yang terjadi pada anak selama pemberian treatmen apakah sesuai dengan karakter anak atau tidak.
f. Lihat perubahan perkembangan anak selama pemberian treatmen, biasanya anak autisme mengalami perubahan-perubahan yang berarti selama treatmen yang dilakukan
Treatmen pada anak dengan gangguan autisme dapat berupa memberikan pelatihan khusus dan manajemen perilaku, treatmen dilakukan dalam jangka yang panjang dan dialkukan secara intensif. Dokter juga akan memberikan obat-obatan yang dapat mendukug treatmen tersebut.
Treatmen pada anak dengan gangguan autisme dapat berupa memberikan pelatihan khusus dan manajemen perilaku, treatmen dilakukan dalam jangka yang panjang dan dialkukan secara intensif. Dokter juga akan memberikan obat-obatan yang dapat mendukug treatmen tersebut.
Obat-obatan
Medikasi sebenarnya tidak diperlukan bagi penderita autisme, kecuali bila disertai dengan adanya gangguan syaraf lainnya. Medikasi diberikan untuk membantu autis mengontrol beberapa perilaku seperti hiperaktif, impulsif, konsentrasi atau kecemasan. Hal yang perlu diingat bahwa pemberian obat-obatan tersebut kadang tidak cocok dengan tiap individu dan pemberian obat dalam waktu yang relatif lama juga memberikan pengaruh yang tidak baik bagi anak-anak autis.
Obat antipsikotik; pemberian jenis obat-obatan ini untuk mengurangi dari beberapa perilaku seperti hiperaktif, perilaku menyendiri, pengulang perilaku atau perilaku agresif. Jenis obat ini dapat berupa risperidone (Risperdal), olanzapine (Zyprexa), dan quetiapine (Seroquel)
Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs); adalah jenis obat antidepressants yang sering digunakan untuk penderita depresi, obsessive-compulsive disorder, atau gangguan kecemasan. Jenis obat ini dapat mengurang perilaku seperti agresif, pengulangan perilaku, marah, dsb. Jenis obat ini berupa fluoxetine (Prozac), fluvoxamine (Luvox), sertraline (Zoloft), dan paroxetine (Paxil). Antidepressant lainnya; Clomipramine (Anafranil), Mirtazapine (Remeron), amitriptyline (Elavil) dan bupropion (Wellbutrin).
Obat stimulant; Jenis obat ini dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi dan mengurangi perilaku impulsif dan hiperaktif. Jenis obat ini berupa methylphenidate (Ritalin) dan amphetamines (Adderall, Dexedrine).
Jenis obat lainnya; Alpha-2 adrenergic agonists (clonidine) diberikan untuk mengurangi perilaku hiperaktif.
Pemberian obat-obatan tersebut haruslah melalui pengawasan dokter secara ketat, pemberian jangka panjang akan memberikan efek yang tidak baik bagi anak autis.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian obat-obatan;
- Menimbulkan rasa mengantuk (sedasi)
- Ketergantungan pada obat
- Beberapa jenis obat dapat bereaksi dengan makanan, perlu kontrol dan konsultasi dokter mengenai penggunaan obat-obatan tersebut
- Obat-obatan tersebut harus diberikan oleh tenaga medis profesional yang berpengalaman dalam menangani anak-anak autis.
gangguan pervasif(pervasif developmental disorder/PDDs)
Anak-anak dengan gangguan perkembangan pervasif (disopervasif developmental disorder/PDDs) menunjukan hendaknya perilaku atau fungsi pada berbagai area perkembangan. Gangguan ini umumnya menjadi tampak nyata pada tahun-tahun pertama kehidupan dan sering kali dihubungkan dengan retardasi mental. Gangguan ini umumnya diklasifikasikan sebagai bentuk psikosis pada edisi awal DSM. Keanehan dalam berkomunikasi dan perilaku motorik yang stereotip. Type mayor dari gangguan perkembangan pervasif,
- Fokus kita disini nanti adalah Gangguan Autis (Autisme).
- Gangguan Asperger (Asperger’s disorder) ditunjukan dengan adanya deficit pada
interaksi sosial dan perilaku stereotip. Gangguan Asperger tidak melibatkan deficit yang signifikan pada kemampuan bahasa dan kognitif (APA,2000;Szatmari dkk 2000).
Type gangguan perkembangan pervasif yang lebih jarang muncul, mencakup
- Gangguan Rett (Rett’s disorder), gangguan yang dilaporkan hanya terjadi pada wanita, dan
- Gangguan Disintegratif masa kanak-kanak (childhood disintegrative disorder), kondisi yang jarang ada, biasanya muncul pada laki-laki
Autisme ( autism), atau gangguan austistik, adalah salah satu gangguan terparah di masa kanak-kanak. Bersifat kronis dan berlangsung sepanjang hidup.
Autisme berasal dari bahasa Yunani, autos yang berarti “self.” Pertamakali di gunakan tahun 1906 oleh psikiater Swiss, Eugen Bleuler, untuk merujuk pada gaya berpikir yang aneh pada penderita skizofrenia. Cara berfikir autistic adalah kecenderungan untuk memandang diri sendiri sebagai pusat dari dunia, percaya bahwa kejadian-kejadian eksternal mengacu pada diri sendiri. Seolah-olah meeka hidup dalam dunia mereka sendiri, menutup diri dari setiap masukan dunia luar.
Ciri-ciri Autisme
ciri yang paling menonjol adalah
- kesendirian yang amat sangat
ciri lain mencakup masalah
- bahasa,( ex: ekolalia-mengulang kembali apa yang didengar dengan nada suara tinggi dan monoton )
- komunikasi,
- dan perilaku ritualistic atau stereotip
ciri utama dari autisme adalah :
- gerakan stereotype berulang yang tidak memiliki tujuan–berulang-ulang memutar benda, menepukkan tangan, berayun kedepan dank e belakang dengan lengan memeluk kaki–
- sebagian anak menyakiti diri sendiri.
Ciri lain dari autisme adalah :
- menolak perubahan pada lingkungan
Perspektif Teoritis penyebab autis belum diketahui, tetapi diduga berhubungan dengan abnormalitas otak
Psikolog O. Ivar Lovaas dkk (1979) menawarkan perspektif belajar-kognitif, mereka menyatakan bahwa anak-anak autistic memiliki deficit perceptual sehingga mereka hanya dapat memproses satu stimulus saja pada waktu tertentu. Akibatnya mereka lambat belajar secara classical conditioning (asosiasi terhadap stimuli). Perspective teori belajar, anak-anak menjadi terikat dengan pengasuh utama mereka karena diasosiasikan dengan reinforcer primer seperti makanan dan pelukan.
Para teoritikus Kognitif : anak-anak autistic tampaknya mengalami kesulitan untuk mengitegrasikan informasi dari berbagai indra ( Rutter,1983). Pada waktu tertentu mereka tampakterlalu sensitive pada rangsangan, lain waktu menjadi tidak sensitive.
Yang menyebabkan digisit perceptual dan kognitif ini hendaknya yang dihubungkan dengan autistic, termasuk retardasi mental, deficit bahasa, perilaku motorik yang aneh, menunjukan adanya gangguan neurologist yang melibatkan suatu bentuk kerusakan otak atau ketidakseimbangan kimiawi saraf dalam otak (Perry dkk,2001; stokstad,2001). Namun para peneliti belum menentukan kerusakan otak seperti apa yang dapat menjadi penyebab autisme. Pada akhirnya, penyebab autisme tetap menjadi misteri.
Penanganan, walaupun autisme belum dapat disembuhkan, belajar untuk mengurangi perilaku yang menggangu dan meningkatkan ketrampilan belajar serta komunikasi pada
anak-anak autistic.
1. Pengembangan Perilaku Baru
perilaku-perilaku baru ini dipertahankan dengan adanya reinforcer,sehingga penting untuk mengajarkan kepada anak-anak ini, yang sering merespons kepada orang lainseperti mereka berhadapan dengan benda mati, untuk menerima orang lain seperti reinforcer. Seseorang dapat dijadikan reinforcer dengan cara memasangkan pujian reinforcer primer seperti makanan.
2. Pendekatan Biologis
pendekatan biologis hanya memberikan pengaruh yang terbatas pada penanganan autisme.hal ini dapat berubah. Penelitian menunjukan obat-obatan yang meningkatkan aktivitas serotonim seperti SSRI, dapat mengurangi pikiran dan perilaku repetitive serta agresivitas sehingga menghasilkan perbaikan dalam hubungan social dan penggunaan bahasa pada individu autistic deasa (McDoufle dkk, 1996).
Pervasive Developmental Disorder(PDD)/Gangguan Perkembangan Pervasif(GPP) adalah suatu gangguan perkembangan pada anak, dimana terutama terdapat 3 bidang perkembangan yang terganggu, yaitu : komuniukasi, interaksi sosial dan perilaku.
Terminologi Gangguan Perkembangan Pervasif ini menaungi beberapa sindroma atau gangguan perkembangan yang mempunyai ciri seperti diatas tersebut.
Kondisi yang dapat diklasifikasikan kedalam Gangguan Perkembangan Pervasif, menurut ICD-10(International Classification of Diseases, WHO 1993), maupun menurut DSM-IV (American Psychiatric Association, 1994) adalah :
1. Masa Kanak (Childhood Autism)
2. Gangguan Perkembangan Pervasif yang tak tergolongkan (GPP-YTT)
3. (Pervasif Developmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD-NOS)
4. Sindroma Rett (Rett’s Syndrome)
5. Gangguan Disintegratif Masa kanak (Childhood Disintegrative Disorder)
6. Sindroma Asperger (Asperger’s Syndrome)
- Fokus kita disini nanti adalah Gangguan Autis (Autisme).
- Gangguan Asperger (Asperger’s disorder) ditunjukan dengan adanya deficit pada
interaksi sosial dan perilaku stereotip. Gangguan Asperger tidak melibatkan deficit yang signifikan pada kemampuan bahasa dan kognitif (APA,2000;Szatmari dkk 2000).
Type gangguan perkembangan pervasif yang lebih jarang muncul, mencakup
- Gangguan Rett (Rett’s disorder), gangguan yang dilaporkan hanya terjadi pada wanita, dan
- Gangguan Disintegratif masa kanak-kanak (childhood disintegrative disorder), kondisi yang jarang ada, biasanya muncul pada laki-laki
Autisme ( autism), atau gangguan austistik, adalah salah satu gangguan terparah di masa kanak-kanak. Bersifat kronis dan berlangsung sepanjang hidup.
Autisme berasal dari bahasa Yunani, autos yang berarti “self.” Pertamakali di gunakan tahun 1906 oleh psikiater Swiss, Eugen Bleuler, untuk merujuk pada gaya berpikir yang aneh pada penderita skizofrenia. Cara berfikir autistic adalah kecenderungan untuk memandang diri sendiri sebagai pusat dari dunia, percaya bahwa kejadian-kejadian eksternal mengacu pada diri sendiri. Seolah-olah meeka hidup dalam dunia mereka sendiri, menutup diri dari setiap masukan dunia luar.
Ciri-ciri Autisme
ciri yang paling menonjol adalah
- kesendirian yang amat sangat
ciri lain mencakup masalah
- bahasa,( ex: ekolalia-mengulang kembali apa yang didengar dengan nada suara tinggi dan monoton )
- komunikasi,
- dan perilaku ritualistic atau stereotip
ciri utama dari autisme adalah :
- gerakan stereotype berulang yang tidak memiliki tujuan–berulang-ulang memutar benda, menepukkan tangan, berayun kedepan dank e belakang dengan lengan memeluk kaki–
- sebagian anak menyakiti diri sendiri.
Ciri lain dari autisme adalah :
- menolak perubahan pada lingkungan
Perspektif Teoritis penyebab autis belum diketahui, tetapi diduga berhubungan dengan abnormalitas otak
Psikolog O. Ivar Lovaas dkk (1979) menawarkan perspektif belajar-kognitif, mereka menyatakan bahwa anak-anak autistic memiliki deficit perceptual sehingga mereka hanya dapat memproses satu stimulus saja pada waktu tertentu. Akibatnya mereka lambat belajar secara classical conditioning (asosiasi terhadap stimuli). Perspective teori belajar, anak-anak menjadi terikat dengan pengasuh utama mereka karena diasosiasikan dengan reinforcer primer seperti makanan dan pelukan.
Para teoritikus Kognitif : anak-anak autistic tampaknya mengalami kesulitan untuk mengitegrasikan informasi dari berbagai indra ( Rutter,1983). Pada waktu tertentu mereka tampakterlalu sensitive pada rangsangan, lain waktu menjadi tidak sensitive.
Yang menyebabkan digisit perceptual dan kognitif ini hendaknya yang dihubungkan dengan autistic, termasuk retardasi mental, deficit bahasa, perilaku motorik yang aneh, menunjukan adanya gangguan neurologist yang melibatkan suatu bentuk kerusakan otak atau ketidakseimbangan kimiawi saraf dalam otak (Perry dkk,2001; stokstad,2001). Namun para peneliti belum menentukan kerusakan otak seperti apa yang dapat menjadi penyebab autisme. Pada akhirnya, penyebab autisme tetap menjadi misteri.
Penanganan, walaupun autisme belum dapat disembuhkan, belajar untuk mengurangi perilaku yang menggangu dan meningkatkan ketrampilan belajar serta komunikasi pada
anak-anak autistic.
1. Pengembangan Perilaku Baru
perilaku-perilaku baru ini dipertahankan dengan adanya reinforcer,sehingga penting untuk mengajarkan kepada anak-anak ini, yang sering merespons kepada orang lainseperti mereka berhadapan dengan benda mati, untuk menerima orang lain seperti reinforcer. Seseorang dapat dijadikan reinforcer dengan cara memasangkan pujian reinforcer primer seperti makanan.
2. Pendekatan Biologis
pendekatan biologis hanya memberikan pengaruh yang terbatas pada penanganan autisme.hal ini dapat berubah. Penelitian menunjukan obat-obatan yang meningkatkan aktivitas serotonim seperti SSRI, dapat mengurangi pikiran dan perilaku repetitive serta agresivitas sehingga menghasilkan perbaikan dalam hubungan social dan penggunaan bahasa pada individu autistic deasa (McDoufle dkk, 1996).
Pervasive Developmental Disorder(PDD)/Gangguan Perkembangan Pervasif(GPP) adalah suatu gangguan perkembangan pada anak, dimana terutama terdapat 3 bidang perkembangan yang terganggu, yaitu : komuniukasi, interaksi sosial dan perilaku.
Terminologi Gangguan Perkembangan Pervasif ini menaungi beberapa sindroma atau gangguan perkembangan yang mempunyai ciri seperti diatas tersebut.
Kondisi yang dapat diklasifikasikan kedalam Gangguan Perkembangan Pervasif, menurut ICD-10(International Classification of Diseases, WHO 1993), maupun menurut DSM-IV (American Psychiatric Association, 1994) adalah :
1. Masa Kanak (Childhood Autism)
2. Gangguan Perkembangan Pervasif yang tak tergolongkan (GPP-YTT)
3. (Pervasif Developmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD-NOS)
4. Sindroma Rett (Rett’s Syndrome)
5. Gangguan Disintegratif Masa kanak (Childhood Disintegrative Disorder)
6. Sindroma Asperger (Asperger’s Syndrome)
gangguan pervasif(autis)
Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai danya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Kata Autis berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang ditujukanpada seseorang yang menunjukkan gejala "hidup dalam dunianya sendiri". Pemakaian istilah autis kepada penyandang diperkenalkan pertama kali Leo Kanner, psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penyandang yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh.
Di Kanada dan Jepang penderita bertambah 40 persen sejak 1980. Di California tahun 2002 disimpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 4 : 1, anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, belum diketahui jumlah penyandang namun diperkirakan jumlah anak austima dapat mencapai 150 -- 200 ribu orang.
Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, selain itu autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Lainnya berpendapat autisme disebabkan kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.
Beberapa teori penyebab Autis
1. Genetik dan heriditer
2. Kelebihan Opioid
o Unsur Opioid-like
o Kekurangan enzyme Dipeptidyl peptidase
o Dermorphin Dan Sauvagine
o Opioids dan secretin
o Opioids dan glutathione
o Opioids dan immunosuppression
3. Gluten/Casein Teori Dan Hubungan gangguan Celiac
o IgA urine
o Gamma Interferon
o Metabolisme Sulfat
4. Kolokistokinin
5. Oksitosin Dan Vasopressin
6. Metilation
7. Imunitas Teori Autoimun dan Alergi makanan
8. Zat darah penyerang kuman ke Myelin Protein Basis dasar
9. Infeksi Karena virus Vaksinasi
10. Sekretin
11. Kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut)
12. Paparan Aspartame
13. Kekurangan Vitamin, mineral nutrisi tertentu
14. Orphanin Protein: Orphanin FQ/NOCICEPTIN ( OFQ/N)
Walaupun paparan logam berat (air raksa) terjadi pada setiap anak, hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala autism. Mungkin berkaitan dengan teori genetik, diantaranya berkaitan dengan teori Metalotionin. Gangguan metalotianin disebabkan: defisiensi Zinc, jumlah logam berat yang berlebihan, defisiensi sistein, malfungsi regulasi element Logam dan kelainan genetik, seperti pada gen pembentuk netalotianin. Perdebatan akhir-akhir ini berkisar pada kemungkinan autis yang disebabkan oleh vaksinasi anak. Peneliti dari Inggris Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari Amerika mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme. Penelitian lainnya yang dilakukan dengan populasi yang lebih besar dan luas memastikan imuinisasi MMR tidak menyebabkan Autis. Patricia Rodier, menyatakan korelasi antara autisme dan cacat lahir yang disebabkan oleh thalidomide menyimpulkan kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari saat pembentukan janin. Minshew menemukan bahwa pada anak yang terkena autisme bagian otak yang mengendalikan pusat memory dan emosi menjadi lebih kecil dari anak normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga kehamilan atau pada saat kelahiran bayi. Karin Nelson, meneliti protein otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi normal mempunyai kadar protein yang kecil tetapi empat sampel berikutnya mempunyai kadar protein tinggi yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein otak tinggi ini berkembang menjadi autis dan keterbelakangan mental. Nelson menyimpulkan autis terjadi sebelum kelahiran bayi. Mei 2000 para peneliti di Amerika menemukan adanya tumpukan protein didalam otak bayi yang baru lahir yang kemudian bayi tersebut berkembang menjadi anak autis yang menjadi kunci dalam menemukan penyebab utama autis sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahannya.
Gangguan persalinan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya autism adalah : pemotongan tali pusat terlalu cepat, Asfiksia pada bayi (nilai APGAR SCORE rendah < 6 ), komplikasi selama persalinan, lamanya persalinan, letak presentasi bayi saat lahir dan erat lahir rendah ( < 2500 gram). Kondisi atau gangguan yang beresiko untuk terjadinya autism adalah prematuritas, alergi makanan, kegagalan kenaikan berat badan, kelainan bawaan : kelainan jantung bawaan, kelainan genetik, kelainan metabolik, gangguan pencernaan : sering muntah, kolik, sulit buang air besar, sering buang air besar dan gangguan neurologI/saraf : trauma kepala, kejang, otot atipikal, kelemahan otot.
Untuk mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang sejak dalam kehamilan tersebut diantaranya adalah periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan lebih awal, dan berkonsultasi sejak merencanakan kehamilan. Melakukan pemeriksaan secara lengkap terutama infeksi virus TORCH (Toxoplasma, Rubela, Citomegalovirus, herpes atau hepatitis). Periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan secara rutin dan berkala, dan selalu mengikuti nasehat dan petunjuk dokter dengan baik. Obat-obatan yang diminum selama kehamilan terutama trimester pertama. Peneliti di Swedia melaporkan pemberian obat Thaliodomide pada awal kehamilan dapat mengganggu pembentukan sistem susunan saraf pusat yang mengakibatkan autism dan gangguan perkembangan lainnya termasuk gangguan berbicara. Bila bayi beresiko alergi sebaiknya ibu mulai menghindari paparan alergi berupa asap rokok, debu atau makanan penyebab alergi sejak usia di atas 3 bulan.
Adanya Fetal Atopi atau Maternal Atopi, yaitu kondisi alergi pada janin yang diakibatkan masuknya bahan penyebab alergi melalui ibu. Bila gerakan bayi dan gerakan hiccups/cegukan pada janin yang berlebihan terutama pada malam hari serta terdapat gejala alergi atau sensitif pencernaan salah satu atau kedua orang tua. Sebaiknya ibu menghindari atau mengurangi makanan penyebab alergi sejak usia kehamilan di atas 3 bulan.
Di Kanada dan Jepang penderita bertambah 40 persen sejak 1980. Di California tahun 2002 disimpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 4 : 1, anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, belum diketahui jumlah penyandang namun diperkirakan jumlah anak austima dapat mencapai 150 -- 200 ribu orang.
Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, selain itu autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Lainnya berpendapat autisme disebabkan kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.
Beberapa teori penyebab Autis
1. Genetik dan heriditer
2. Kelebihan Opioid
o Unsur Opioid-like
o Kekurangan enzyme Dipeptidyl peptidase
o Dermorphin Dan Sauvagine
o Opioids dan secretin
o Opioids dan glutathione
o Opioids dan immunosuppression
3. Gluten/Casein Teori Dan Hubungan gangguan Celiac
o IgA urine
o Gamma Interferon
o Metabolisme Sulfat
4. Kolokistokinin
5. Oksitosin Dan Vasopressin
6. Metilation
7. Imunitas Teori Autoimun dan Alergi makanan
8. Zat darah penyerang kuman ke Myelin Protein Basis dasar
9. Infeksi Karena virus Vaksinasi
10. Sekretin
11. Kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut)
12. Paparan Aspartame
13. Kekurangan Vitamin, mineral nutrisi tertentu
14. Orphanin Protein: Orphanin FQ/NOCICEPTIN ( OFQ/N)
Walaupun paparan logam berat (air raksa) terjadi pada setiap anak, hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala autism. Mungkin berkaitan dengan teori genetik, diantaranya berkaitan dengan teori Metalotionin. Gangguan metalotianin disebabkan: defisiensi Zinc, jumlah logam berat yang berlebihan, defisiensi sistein, malfungsi regulasi element Logam dan kelainan genetik, seperti pada gen pembentuk netalotianin. Perdebatan akhir-akhir ini berkisar pada kemungkinan autis yang disebabkan oleh vaksinasi anak. Peneliti dari Inggris Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari Amerika mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme. Penelitian lainnya yang dilakukan dengan populasi yang lebih besar dan luas memastikan imuinisasi MMR tidak menyebabkan Autis. Patricia Rodier, menyatakan korelasi antara autisme dan cacat lahir yang disebabkan oleh thalidomide menyimpulkan kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari saat pembentukan janin. Minshew menemukan bahwa pada anak yang terkena autisme bagian otak yang mengendalikan pusat memory dan emosi menjadi lebih kecil dari anak normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga kehamilan atau pada saat kelahiran bayi. Karin Nelson, meneliti protein otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi normal mempunyai kadar protein yang kecil tetapi empat sampel berikutnya mempunyai kadar protein tinggi yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein otak tinggi ini berkembang menjadi autis dan keterbelakangan mental. Nelson menyimpulkan autis terjadi sebelum kelahiran bayi. Mei 2000 para peneliti di Amerika menemukan adanya tumpukan protein didalam otak bayi yang baru lahir yang kemudian bayi tersebut berkembang menjadi anak autis yang menjadi kunci dalam menemukan penyebab utama autis sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahannya.
Gangguan persalinan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya autism adalah : pemotongan tali pusat terlalu cepat, Asfiksia pada bayi (nilai APGAR SCORE rendah < 6 ), komplikasi selama persalinan, lamanya persalinan, letak presentasi bayi saat lahir dan erat lahir rendah ( < 2500 gram). Kondisi atau gangguan yang beresiko untuk terjadinya autism adalah prematuritas, alergi makanan, kegagalan kenaikan berat badan, kelainan bawaan : kelainan jantung bawaan, kelainan genetik, kelainan metabolik, gangguan pencernaan : sering muntah, kolik, sulit buang air besar, sering buang air besar dan gangguan neurologI/saraf : trauma kepala, kejang, otot atipikal, kelemahan otot.
Untuk mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang sejak dalam kehamilan tersebut diantaranya adalah periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan lebih awal, dan berkonsultasi sejak merencanakan kehamilan. Melakukan pemeriksaan secara lengkap terutama infeksi virus TORCH (Toxoplasma, Rubela, Citomegalovirus, herpes atau hepatitis). Periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan secara rutin dan berkala, dan selalu mengikuti nasehat dan petunjuk dokter dengan baik. Obat-obatan yang diminum selama kehamilan terutama trimester pertama. Peneliti di Swedia melaporkan pemberian obat Thaliodomide pada awal kehamilan dapat mengganggu pembentukan sistem susunan saraf pusat yang mengakibatkan autism dan gangguan perkembangan lainnya termasuk gangguan berbicara. Bila bayi beresiko alergi sebaiknya ibu mulai menghindari paparan alergi berupa asap rokok, debu atau makanan penyebab alergi sejak usia di atas 3 bulan.
Adanya Fetal Atopi atau Maternal Atopi, yaitu kondisi alergi pada janin yang diakibatkan masuknya bahan penyebab alergi melalui ibu. Bila gerakan bayi dan gerakan hiccups/cegukan pada janin yang berlebihan terutama pada malam hari serta terdapat gejala alergi atau sensitif pencernaan salah satu atau kedua orang tua. Sebaiknya ibu menghindari atau mengurangi makanan penyebab alergi sejak usia kehamilan di atas 3 bulan.
definisi autis
Definisi Autisme
Autisme adalah gangguan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Kata autis berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang ditujukan kepada 'seseorang yang hidup dalam dunianya sendiri.
Autisme terkadang terbawa sejak lahir sehingga sulit terdeteksi secara dini karena secara awam terlihat sehat dan normal, baru setelah beberapa bulan bahkan beberapa tahun kemudian baru dikenali kelainan yang mencirikan penyakit autisme. Autisme baru dapat terdeteksi pada anak yang berumur paling sedikit 1 tahun. Pengenalan gejala penyakit autisme dapat dilakukan dengan mengamati dengan seksama perkembangan fisik, emosional dan kemampuan bicara anak. Dari pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan secara naluriah apakah perkembangan fisik, mental dan emosional anak tergolong normal, hiperaktif atau hipoaktif (kurang aktif) bila dibandingkan dengan balita sebayanya. Sekitar 80% dari penderita autis adalah laki-laki.
Gejala-gejala autisme antara lain:
1. Sikap anak yang menghindari tatapan mata (eye contaact) secara langsung
2. Melakukan gerakan atau kegiatan yang sama secara berulang-ulang (repetitive), gerakan yang terlalu aktif atau sebaliknya terlalu lamban
3. Terkadang pertumbuhan fisik atau kemampuan bicara sangat terlambat
4. Sangat lamban dalam menguasai bahasa sehari-hari, hanya mengulang-ulang beberapa kata saja atau mengeluarkan suara tanpa arti
5. Hanya suka akan mainannya sendiri dan mainan itu saja yang dia mainkan
6. Serasa dia mempunyai dunianya sendiri, sehingga sulit untuk berinteraksi dengan orang lain
7. Suka bermain air dan memperhatikan benda yang berputar, seperti roda sepeda atau kipas angin
8. Kadang suka melompat, mengamuk atau menangis tanpa sebab. Anak autis sangat sulit dibujuk, bahkan menolak untuk digendong dan dibujuk oleh siapapun
9. Sangat sensitive terhadap cahaya, suara maupun sentuhan
10. Mengalami kesulitan mengukur ketinggian dan kedalaman, sehingga mereka sering takut melangkah pada lantai yang berbeda tinggi.
Bila 10 - 20 tahun lalu jumlah penyandang autisme hanya 2 - 4 per 10.000 anak, tiga tahun belakangan jumlah tersebut meningkat menjadi 15 - 20 anak atau 1 per 500 anak. Tahun lalu, di AS ditemukan 20 - 60 anak, kira-kira 1/200 atau 1/250 anak.
Di Indonesia belum pernah dilakukan survei, namun para profesional yang menangani anak melaporkan, peningkatan jumlah penyandang autisme amat pesat. Namun tidak diimbangi dengan meningkatnya jumlah ahli yang mendalami bidang autisme, sehingga acapkali terjadi salah diagnosis.
Anak-anak penyandang autisme yang tidak tertangani dengan cepat dan tepat kemungkinan sembuhnya akan semakin kecil karena akan menimbulkan kerusakan jaringan otak yang semakin parah serta dikhawatirkan mereka akan menjadi generasi yang hilang.
walaupun penyebab autisme belum dapat diketahui secara pasti, namun ada beberapa ahli yang menyebutkan bahwa autisme disebabkan oleh multifaktorial sehingga banyak faktor yang mempengaruhi. Hal ini menyebabkan sulitnya memastikan faktor resiko pada gangguan autisme. Terdapat beberapa keadaan yang membuat anak-anak beresiko besar menyandang autisme. Dengan diketahui resiko tersebut tentunya dapat dilakukan tindakan untuk mencegah dan melakukan intervensi sejak dini pada anak. Adapun beberapa resiko tersebut dapat diikelompokkan dalam beberapa periode, seperti periode kehamilan, persalinan dan periode usia bayi. Dengan penyebabnya berupa faktor genetik, Zat darah penyerang kuman ke Myelin Protein Basis dasar, Infeksi karena virus Vaksinasi, kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut), gangguan neurobiologis pada susunan saraf pusat (otak), zat-zat beracun dari polusi dan kekurangan Vitamin, mineral nutrisi tertentu.
Autisme merupakan gangguan neurobiologis yang menetap. Gejalanya tampak pada gangguan bidang komunikasi, interaksi dan perilaku. Walaupun gangguan neurobiologis tidak bisa diobati, tapi gejala-gejalanya bisa dihilangkan atau dikurangi, sampai awam tidak lagi bisa membedakan mana anak non-autis, mana anak autis.
Semakin dini terdiagnosis dan terintervensi, semakin besar kesempatan untuk "sembuh". Penyandang autisme dinyatakan sembuh bila gejalanya tidak kentara lagi sehingga ia mampu hidup dan berbaur secara normal dalam masyarakat luas. Namun gejala yang ada pada setiap anak sangat bervariasi, dari yang terberat sampai yang teringan. "Kesembuhan" dipengaruhi oleh berbagai faktor: gejalanya ringan, kecerdasan cukup (50% lebih penyandang mempunyai kecerdasan kurang), cukup cepat dalam belajar berbicara (20% penyandang autisma tetap tidak bisa berbicara sampai dewasa), usia (2 - 5 tahun), dan tentu saja intervensi dini yang tepat dan intensif.
Salah satu metoda intervensi dini yang banyak diterapkan di Indonesia adalah modifikasi perilaku atau lebih dikenal sebagai metoda Applied Behavioral Analysis (ABA). Kelebihan metode ini dibanding metode lain adalah sifatnya yang sangat terstruktur, kurikulumnya jelas, dan keberhasilannya bisa dinilai secara obyektif. Penatalaksanaannya dilakukan 4 - 8 jam sehari. Anak dilatih melakukan berbagai macam keterampilan, misalnya berkomunikasi, berinteraksi, berbicara, berbahasa, dll. Namun yang pertama-tama perlu diterapkan adalah latihan kepatuhan. Hal ini sangat penting agar mereka dapat mengubah perilaku seenaknya sendiri menjadi perilaku yang lazim dan diterima masyarakat.
Biasanya setelah 1 - 2 tahun menjalani intervensi dini dengan baik, si anak siap untuk masuk ke kelompok kecil. Bahkan ada yang siap masuk kelompok bermain. Mereka yang belum siap masuk ke kelompok bermain, bisa diikutsertakan ke kelompok khusus. Di kelompok ini mereka mendapat kurikulum yang khusus dirancang secara individual. Di sini anak akan mendapatkan penanganan terpadu, yang melibatkan pelbagai tenaga ahli, seperti psikiater, psikolog, terapis wicara, terapis okupasi, dan ortopedagog.
Permasalahan anak autis di sekolah umum yang menonjol antara lain kurangnya kemampuan berkonsentrasi, perilaku yang tidak patuh, serta kesulitan bersosialisasi. Sebab itu pada beberapa bulan pertama mereka masih memerlukan pendamping di kelas sampau mereka mampu menyesuaikan diri di kelas. Pendamping ini membantu guru mengendalikan perilaku si anak dan mengingatkan anak setiap kali perhatiannya beralih.
Tidak semua penyandang autisme bisa mengikuti pendidikan formal, meski yang tingkat kecerdasannya kurang masih bisa masuk sekolah luar biasa (SLB-C). Bagaimanapun, kalau perilaku si anak tidak bisa diperbaiki: sangat semaunya sendiri, agresif, hiperaktif dan tidak bisa berkonsentrasi, memang ia akan sulit ditampung di sekolah umum karena akan mengganggu tata tertib kelas. Namun hal ini dapat diatasi dengan memberikan obat untuk menyeimbangkan neurotransmitter agar lebih responsif dan aware dengan dunia luar setelah itu anak dapat mengikuti proses belajar.
PENYEBAB AUTISME
Penyebab autisme belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autisme disebabkan karena terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autisme.
Walaupun paparan logam berat (air raksa) terjadi pada setiap anak, namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala autism. Hal ini mungkin berkaitan dengan teori genetik, salah satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. Beberapa penelitian anak autism tampaknya didapatkan ditemukan adanya gangguan netabolisme metalotionin.
Metalotionon adalah meruypakan sistem yang utama yang dimiliki oleh tubuh dalam mendetoksifikasi air raksa, timbal dan logam berat lainnya. Setiap logam berat memiliki afinitas yang berbeda terhada metalotionin. Berdasarkan afinitas tersebut air raksa memiliki afinitas yang paling kuar dengan terhadam metalotianin dibandingkan logam berat lainnya sepertoi tenbaga, perak atau zinc.
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilaporkan para ahli menunjukkan bahwa gangguan metalotianin disebabkan oleh beberapa hal di antaranya adalah :
•- Defisiensi Zinc
•- Jumlah logam berat yang berlebihan
•- Defisiensi sistein
•- Malfungsi regulasi element Logam
•- Kelainan genetik, antara lain pada gen pembentuk netalotianin
Perdebatan yang terjadi akhir akhir ini berkisar pada kemungkinan penyebab autisme yang disebabkan oleh vaksinasi anak. Peneliti dari Inggris Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari Amerika mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme.
Banyak penelitian lainnya yang dilakukan dengan populasi yang lebih besar dan luas memastikan bahwa imunisasi MMR tidak menyebabkan Autism, Beberapa orang tua anak penyandang autisme tidak puas dengan bantahan tersebut. Bahkan Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autisme disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi.
Penelitian dalam jumlah besar dan luas tentunya lebih bisa dipercaya dibandingkan laporan beberapa kasus yang jumlahnya relatif tidak bermakna secara umum. Namun penelitian secara khusus pada penderita autism, memang menunjukkan hubungan tersebut. Memang kontroversi itu terus berlanjut terus, namun kita bisa mengambil hikmah dan jalan yang terbaik anak kita harus imunisasi MMR atau tidak ?. Untuk meyakinkan hak tersebut mungkin kita bisa berpedoman pada penelitian yang lebih dipercaya validitasnya secara populasi lebih banyak dan luas yaitu Autism tidak berhubungan dengan MMR. Tetapi juga mungkin kita harus lebih waspada bila anak kita sudah mulai tampak ditemukan penyimpangan perkembangan atau perilaku sejak dini memang sebaiknya untuk mendapatkan imunisasi MMR harus berkonsulasi dahulu dengan dokter tumbuh kembang anak. Artinya MMR tidak berhubungan dengan Autism memang bila anak kita tidak berbakat autism. Namun bila anak kita sudah mempunyai ditemukan bakat kelainan Autism sejak dini mungkin bisa saja menunda dahulu imunisasi MMR sebelum dipastikan diagnosis Autism, meskipun sebenarnya pemicu atau faktor yang memperberat Autism bukan hanya MMR.
Banyak pula ahli melakukan penelitian dan menyatakan bahwa bibit autisme telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan bahkan sebelum vaksinasi dilakukan. Kelainan ini dikonfirmasikan dalam hasil pengamatan beberapa keluarga melalui gen autisme. Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika bahwa korelasi antara autisme dan cacat lahir yang disebabkan oleh thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin. Peneliti lainnya, Minshew menemukan bahwa pada anak yang terkena autisme bagian otak yang mengendalikan pusat memori dan emosi menjadi lebih kecil dari pada anak normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan atau pada saat kelahiran bayi.
Karin Nelson, ahli neorology Amerika mengadakan menyelidiki terhadap protein otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi normal mempunyai kadar protein yang kecil tetapi empat sampel berikutnya mempunyai kadar protein tinggi yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein otak tinggi ini berkembang menjadi autisme dan keterbelakangan mental. Nelson menyimpulkan autisme terjadi sebelum kelahiran bayi.
Saat ini, para pakar kesehatan di negara besar semakin menaruh perhatian terhadap kelainan autism pada anak. Sehingga penelitian terhadap autism semakin pesat dan berkembang. Sebelumnya, kelainan autisme hanya dianggap sebagai akibat dari perlakuan orang tua yang otoriter terhadap anaknya. Kemajuan teknologi memungkinkan untuk melakukan penelitian mengenai penyebab autisme secara genetik, neuroimunologi dan metabolik. Pada bulan Mei 2000 para peneliti di Amerika menemukan adanya tumpukan protein didalam otak bayi yang baru lahir yang kemudian bayi tersebut berkembang menjadi anak autisme. Temuan ini mungkin dapat menjadi kunci dalam menemukan penyebab utama autisme sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahannya.
Penanganan melalui10 Jenis Terapi Autisme
Akhir-akhir ini bermunculan berbagai cara / obat / suplemen yang ditawarkan dengan iming-iming bisa menyembuhkan autisme. Kadang-kadang secara gencar dipromosikan oleh si penjual, ada pula cara-cara mengiklankan diri di televisi / radio / tulisan-tulisan.
Para orang tua harus hati-hati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Sayangnya masih banyak yang terkecoh , dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa oleh karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.
Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benar-benar diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain.
Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.
4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya.
6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,
Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).
Autisme adalah gangguan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Kata autis berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang ditujukan kepada 'seseorang yang hidup dalam dunianya sendiri.
Autisme terkadang terbawa sejak lahir sehingga sulit terdeteksi secara dini karena secara awam terlihat sehat dan normal, baru setelah beberapa bulan bahkan beberapa tahun kemudian baru dikenali kelainan yang mencirikan penyakit autisme. Autisme baru dapat terdeteksi pada anak yang berumur paling sedikit 1 tahun. Pengenalan gejala penyakit autisme dapat dilakukan dengan mengamati dengan seksama perkembangan fisik, emosional dan kemampuan bicara anak. Dari pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan secara naluriah apakah perkembangan fisik, mental dan emosional anak tergolong normal, hiperaktif atau hipoaktif (kurang aktif) bila dibandingkan dengan balita sebayanya. Sekitar 80% dari penderita autis adalah laki-laki.
Gejala-gejala autisme antara lain:
1. Sikap anak yang menghindari tatapan mata (eye contaact) secara langsung
2. Melakukan gerakan atau kegiatan yang sama secara berulang-ulang (repetitive), gerakan yang terlalu aktif atau sebaliknya terlalu lamban
3. Terkadang pertumbuhan fisik atau kemampuan bicara sangat terlambat
4. Sangat lamban dalam menguasai bahasa sehari-hari, hanya mengulang-ulang beberapa kata saja atau mengeluarkan suara tanpa arti
5. Hanya suka akan mainannya sendiri dan mainan itu saja yang dia mainkan
6. Serasa dia mempunyai dunianya sendiri, sehingga sulit untuk berinteraksi dengan orang lain
7. Suka bermain air dan memperhatikan benda yang berputar, seperti roda sepeda atau kipas angin
8. Kadang suka melompat, mengamuk atau menangis tanpa sebab. Anak autis sangat sulit dibujuk, bahkan menolak untuk digendong dan dibujuk oleh siapapun
9. Sangat sensitive terhadap cahaya, suara maupun sentuhan
10. Mengalami kesulitan mengukur ketinggian dan kedalaman, sehingga mereka sering takut melangkah pada lantai yang berbeda tinggi.
Bila 10 - 20 tahun lalu jumlah penyandang autisme hanya 2 - 4 per 10.000 anak, tiga tahun belakangan jumlah tersebut meningkat menjadi 15 - 20 anak atau 1 per 500 anak. Tahun lalu, di AS ditemukan 20 - 60 anak, kira-kira 1/200 atau 1/250 anak.
Di Indonesia belum pernah dilakukan survei, namun para profesional yang menangani anak melaporkan, peningkatan jumlah penyandang autisme amat pesat. Namun tidak diimbangi dengan meningkatnya jumlah ahli yang mendalami bidang autisme, sehingga acapkali terjadi salah diagnosis.
Anak-anak penyandang autisme yang tidak tertangani dengan cepat dan tepat kemungkinan sembuhnya akan semakin kecil karena akan menimbulkan kerusakan jaringan otak yang semakin parah serta dikhawatirkan mereka akan menjadi generasi yang hilang.
walaupun penyebab autisme belum dapat diketahui secara pasti, namun ada beberapa ahli yang menyebutkan bahwa autisme disebabkan oleh multifaktorial sehingga banyak faktor yang mempengaruhi. Hal ini menyebabkan sulitnya memastikan faktor resiko pada gangguan autisme. Terdapat beberapa keadaan yang membuat anak-anak beresiko besar menyandang autisme. Dengan diketahui resiko tersebut tentunya dapat dilakukan tindakan untuk mencegah dan melakukan intervensi sejak dini pada anak. Adapun beberapa resiko tersebut dapat diikelompokkan dalam beberapa periode, seperti periode kehamilan, persalinan dan periode usia bayi. Dengan penyebabnya berupa faktor genetik, Zat darah penyerang kuman ke Myelin Protein Basis dasar, Infeksi karena virus Vaksinasi, kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut), gangguan neurobiologis pada susunan saraf pusat (otak), zat-zat beracun dari polusi dan kekurangan Vitamin, mineral nutrisi tertentu.
Autisme merupakan gangguan neurobiologis yang menetap. Gejalanya tampak pada gangguan bidang komunikasi, interaksi dan perilaku. Walaupun gangguan neurobiologis tidak bisa diobati, tapi gejala-gejalanya bisa dihilangkan atau dikurangi, sampai awam tidak lagi bisa membedakan mana anak non-autis, mana anak autis.
Semakin dini terdiagnosis dan terintervensi, semakin besar kesempatan untuk "sembuh". Penyandang autisme dinyatakan sembuh bila gejalanya tidak kentara lagi sehingga ia mampu hidup dan berbaur secara normal dalam masyarakat luas. Namun gejala yang ada pada setiap anak sangat bervariasi, dari yang terberat sampai yang teringan. "Kesembuhan" dipengaruhi oleh berbagai faktor: gejalanya ringan, kecerdasan cukup (50% lebih penyandang mempunyai kecerdasan kurang), cukup cepat dalam belajar berbicara (20% penyandang autisma tetap tidak bisa berbicara sampai dewasa), usia (2 - 5 tahun), dan tentu saja intervensi dini yang tepat dan intensif.
Salah satu metoda intervensi dini yang banyak diterapkan di Indonesia adalah modifikasi perilaku atau lebih dikenal sebagai metoda Applied Behavioral Analysis (ABA). Kelebihan metode ini dibanding metode lain adalah sifatnya yang sangat terstruktur, kurikulumnya jelas, dan keberhasilannya bisa dinilai secara obyektif. Penatalaksanaannya dilakukan 4 - 8 jam sehari. Anak dilatih melakukan berbagai macam keterampilan, misalnya berkomunikasi, berinteraksi, berbicara, berbahasa, dll. Namun yang pertama-tama perlu diterapkan adalah latihan kepatuhan. Hal ini sangat penting agar mereka dapat mengubah perilaku seenaknya sendiri menjadi perilaku yang lazim dan diterima masyarakat.
Biasanya setelah 1 - 2 tahun menjalani intervensi dini dengan baik, si anak siap untuk masuk ke kelompok kecil. Bahkan ada yang siap masuk kelompok bermain. Mereka yang belum siap masuk ke kelompok bermain, bisa diikutsertakan ke kelompok khusus. Di kelompok ini mereka mendapat kurikulum yang khusus dirancang secara individual. Di sini anak akan mendapatkan penanganan terpadu, yang melibatkan pelbagai tenaga ahli, seperti psikiater, psikolog, terapis wicara, terapis okupasi, dan ortopedagog.
Permasalahan anak autis di sekolah umum yang menonjol antara lain kurangnya kemampuan berkonsentrasi, perilaku yang tidak patuh, serta kesulitan bersosialisasi. Sebab itu pada beberapa bulan pertama mereka masih memerlukan pendamping di kelas sampau mereka mampu menyesuaikan diri di kelas. Pendamping ini membantu guru mengendalikan perilaku si anak dan mengingatkan anak setiap kali perhatiannya beralih.
Tidak semua penyandang autisme bisa mengikuti pendidikan formal, meski yang tingkat kecerdasannya kurang masih bisa masuk sekolah luar biasa (SLB-C). Bagaimanapun, kalau perilaku si anak tidak bisa diperbaiki: sangat semaunya sendiri, agresif, hiperaktif dan tidak bisa berkonsentrasi, memang ia akan sulit ditampung di sekolah umum karena akan mengganggu tata tertib kelas. Namun hal ini dapat diatasi dengan memberikan obat untuk menyeimbangkan neurotransmitter agar lebih responsif dan aware dengan dunia luar setelah itu anak dapat mengikuti proses belajar.
PENYEBAB AUTISME
Penyebab autisme belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autisme disebabkan karena terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autisme.
Walaupun paparan logam berat (air raksa) terjadi pada setiap anak, namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala autism. Hal ini mungkin berkaitan dengan teori genetik, salah satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. Beberapa penelitian anak autism tampaknya didapatkan ditemukan adanya gangguan netabolisme metalotionin.
Metalotionon adalah meruypakan sistem yang utama yang dimiliki oleh tubuh dalam mendetoksifikasi air raksa, timbal dan logam berat lainnya. Setiap logam berat memiliki afinitas yang berbeda terhada metalotionin. Berdasarkan afinitas tersebut air raksa memiliki afinitas yang paling kuar dengan terhadam metalotianin dibandingkan logam berat lainnya sepertoi tenbaga, perak atau zinc.
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilaporkan para ahli menunjukkan bahwa gangguan metalotianin disebabkan oleh beberapa hal di antaranya adalah :
•- Defisiensi Zinc
•- Jumlah logam berat yang berlebihan
•- Defisiensi sistein
•- Malfungsi regulasi element Logam
•- Kelainan genetik, antara lain pada gen pembentuk netalotianin
Perdebatan yang terjadi akhir akhir ini berkisar pada kemungkinan penyebab autisme yang disebabkan oleh vaksinasi anak. Peneliti dari Inggris Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari Amerika mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme.
Banyak penelitian lainnya yang dilakukan dengan populasi yang lebih besar dan luas memastikan bahwa imunisasi MMR tidak menyebabkan Autism, Beberapa orang tua anak penyandang autisme tidak puas dengan bantahan tersebut. Bahkan Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autisme disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi.
Penelitian dalam jumlah besar dan luas tentunya lebih bisa dipercaya dibandingkan laporan beberapa kasus yang jumlahnya relatif tidak bermakna secara umum. Namun penelitian secara khusus pada penderita autism, memang menunjukkan hubungan tersebut. Memang kontroversi itu terus berlanjut terus, namun kita bisa mengambil hikmah dan jalan yang terbaik anak kita harus imunisasi MMR atau tidak ?. Untuk meyakinkan hak tersebut mungkin kita bisa berpedoman pada penelitian yang lebih dipercaya validitasnya secara populasi lebih banyak dan luas yaitu Autism tidak berhubungan dengan MMR. Tetapi juga mungkin kita harus lebih waspada bila anak kita sudah mulai tampak ditemukan penyimpangan perkembangan atau perilaku sejak dini memang sebaiknya untuk mendapatkan imunisasi MMR harus berkonsulasi dahulu dengan dokter tumbuh kembang anak. Artinya MMR tidak berhubungan dengan Autism memang bila anak kita tidak berbakat autism. Namun bila anak kita sudah mempunyai ditemukan bakat kelainan Autism sejak dini mungkin bisa saja menunda dahulu imunisasi MMR sebelum dipastikan diagnosis Autism, meskipun sebenarnya pemicu atau faktor yang memperberat Autism bukan hanya MMR.
Banyak pula ahli melakukan penelitian dan menyatakan bahwa bibit autisme telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan bahkan sebelum vaksinasi dilakukan. Kelainan ini dikonfirmasikan dalam hasil pengamatan beberapa keluarga melalui gen autisme. Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika bahwa korelasi antara autisme dan cacat lahir yang disebabkan oleh thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin. Peneliti lainnya, Minshew menemukan bahwa pada anak yang terkena autisme bagian otak yang mengendalikan pusat memori dan emosi menjadi lebih kecil dari pada anak normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan atau pada saat kelahiran bayi.
Karin Nelson, ahli neorology Amerika mengadakan menyelidiki terhadap protein otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi normal mempunyai kadar protein yang kecil tetapi empat sampel berikutnya mempunyai kadar protein tinggi yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein otak tinggi ini berkembang menjadi autisme dan keterbelakangan mental. Nelson menyimpulkan autisme terjadi sebelum kelahiran bayi.
Saat ini, para pakar kesehatan di negara besar semakin menaruh perhatian terhadap kelainan autism pada anak. Sehingga penelitian terhadap autism semakin pesat dan berkembang. Sebelumnya, kelainan autisme hanya dianggap sebagai akibat dari perlakuan orang tua yang otoriter terhadap anaknya. Kemajuan teknologi memungkinkan untuk melakukan penelitian mengenai penyebab autisme secara genetik, neuroimunologi dan metabolik. Pada bulan Mei 2000 para peneliti di Amerika menemukan adanya tumpukan protein didalam otak bayi yang baru lahir yang kemudian bayi tersebut berkembang menjadi anak autisme. Temuan ini mungkin dapat menjadi kunci dalam menemukan penyebab utama autisme sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahannya.
Penanganan melalui10 Jenis Terapi Autisme
Akhir-akhir ini bermunculan berbagai cara / obat / suplemen yang ditawarkan dengan iming-iming bisa menyembuhkan autisme. Kadang-kadang secara gencar dipromosikan oleh si penjual, ada pula cara-cara mengiklankan diri di televisi / radio / tulisan-tulisan.
Para orang tua harus hati-hati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Sayangnya masih banyak yang terkecoh , dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa oleh karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.
Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benar-benar diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain.
Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.
4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya.
6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,
Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).
tugaz anak khusus tentang gangguan Disintegratif masa anak-anak
Gangguan Disintegratif masa anak-anak
a. Definisi
Blog ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas kuliah psikologi anak khusus. Gangguan Disintegratif merupakan salah satu gangguan pervasif pada anak-anak. Gangguan ini dikenal juga sebagai sindroma Heller dan psikosis disintegratif, dijelaskan pertama kali pada tahun 1908. Prevalensi kejadian kira-kira 1 dari 100.000 anak laki-laki.
b. Kriteria diagnostik
Adapun kriteria diagnostik gangguan disintegratif masa anak-anak seperti dijelaskan dalam DSM-IV adalah sebagai berikut:
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Disintegratif Masa Anak-Anak
A. Pertumbuhan yang tampaknya normal selama sekurangnya dua tahun pertama setelah lahir seperti yang ditunjukkan oleh adanya komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai dengan usia, hubungan sosial, permainan dan perilaku adaptif.
B. Kehilangan bermakna secara klinis keterampilan yang telah dicapai sebelumnya (sebelum usia 10 tahun) dalam sekurangnya bidang berikut:
1) Bahasa ekspresif atau reseptif
2) Keterampilan sosial atau perilaku adaptif.
3) Pengendalian usus atau kandung kemih.
4) Bermain.
5) Keterampilan motorik.
C. Kelainan fungsi dalam sekurangnya dua bidang berikut:
1) Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial (misalnya, gangguan dalam perilaku non verbal, gagal untuk mengembangkan hubungan teman sebaya, tidak ada timbal balik sosial atau emosiaonal).
2) Gangguan kualitatif dalam komunikasi (misalnya, keterlambatan atau tidak adanya bahasa ucapan, ketidak mampuan untuk memulai atau mempertahankan suatu percakapan, pemakaian bahasa yang stereotipik dan berulang, tidak adanya berbagai permainan khayalan).
3) Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang dan stereotipik, termasuk stereotipik dan manerisme motorik.
D. Gangguan tidak diterangkan lebih baik oleh gangguan perkembangan pervasif spesifik lain atau oleh skizofrenia.
c. Terapi
1. modifikasi perilaku,
2. kejutan listrik,
3. konseling orang tua, anak, dan guru,
4. penggunaan obat psikotropika.
a. Definisi
Blog ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas kuliah psikologi anak khusus. Gangguan Disintegratif merupakan salah satu gangguan pervasif pada anak-anak. Gangguan ini dikenal juga sebagai sindroma Heller dan psikosis disintegratif, dijelaskan pertama kali pada tahun 1908. Prevalensi kejadian kira-kira 1 dari 100.000 anak laki-laki.
b. Kriteria diagnostik
Adapun kriteria diagnostik gangguan disintegratif masa anak-anak seperti dijelaskan dalam DSM-IV adalah sebagai berikut:
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Disintegratif Masa Anak-Anak
A. Pertumbuhan yang tampaknya normal selama sekurangnya dua tahun pertama setelah lahir seperti yang ditunjukkan oleh adanya komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai dengan usia, hubungan sosial, permainan dan perilaku adaptif.
B. Kehilangan bermakna secara klinis keterampilan yang telah dicapai sebelumnya (sebelum usia 10 tahun) dalam sekurangnya bidang berikut:
1) Bahasa ekspresif atau reseptif
2) Keterampilan sosial atau perilaku adaptif.
3) Pengendalian usus atau kandung kemih.
4) Bermain.
5) Keterampilan motorik.
C. Kelainan fungsi dalam sekurangnya dua bidang berikut:
1) Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial (misalnya, gangguan dalam perilaku non verbal, gagal untuk mengembangkan hubungan teman sebaya, tidak ada timbal balik sosial atau emosiaonal).
2) Gangguan kualitatif dalam komunikasi (misalnya, keterlambatan atau tidak adanya bahasa ucapan, ketidak mampuan untuk memulai atau mempertahankan suatu percakapan, pemakaian bahasa yang stereotipik dan berulang, tidak adanya berbagai permainan khayalan).
3) Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang dan stereotipik, termasuk stereotipik dan manerisme motorik.
D. Gangguan tidak diterangkan lebih baik oleh gangguan perkembangan pervasif spesifik lain atau oleh skizofrenia.
c. Terapi
1. modifikasi perilaku,
2. kejutan listrik,
3. konseling orang tua, anak, dan guru,
4. penggunaan obat psikotropika.
tugaz anak khusus tentang autis
1. DEFINISI AUTISME
Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah
pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum ( 1982), autisme berarti preokupasi
terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak
berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau
realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang
yang hidup di “alamnya” sendiri.
© 2003 Digitized by USU digital library
1
Autisme atau autisme infantil ( Early Infantile Autism) pertama kali
dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 ( dalam Budiman, 1998) seorang psikiatris
Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis
pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri
yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-
olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk
menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.
Pada awalnya istilah “autisme” diambilnya dari gangguan schizophrenia,
dimana Bleuer memakai autisme ini untuk menggambarkan perilaku pasien
skizofrenia yang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya
sendiri. Namun ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari autisme pada
penderita skizofrenia dengan penyandang autisme infantile. Pada skizofrenia,
autisme disebabkan dampak area gangguan jiwa yang didalamnya terkandung
halusinasi dan delusi yang berlansung minimal selama 1 bulan, sedangkan pada
anak-anak dengan autisme infantile terdapat kegagalan dalam perkembangan
yang tergolong dalam kriteria Gangguan Pervasif dengan kehidupan autistik
yang tidak disertai dengan halusinasi dan delusi ( DSM IV, 1995 ).
2. GEJALA-GEJALA AUTISME
Gejala autisme infantile timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun.
Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir.
Seorang ibu yang cermat dapat melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya
mencapai usia satu tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya kontak mata
dan kurangnya minat untuk berinteraksi dengan orang lain.
Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal,
seorang bayi mulai bisa berinteraksi dengan ibunya pada usia 3 - 4 bulan.
Bila ibu merangsang bayinya dengan menggerincingkan mainan dan mengajak
berbicara, maka bayi tersebut akan berespon dan bereaksi dengan ocehan serta
gerakan. Makin lama bayi makin responsive terhadap rangsang dari luar seiring
dengan berkembangnya kemampuan sensorik. Pada umur 6-8 bulan ia sudah bisa
berinteraksi dan memperhatikan orang yang mengajaknya bermain dan berbicara.
Hal ini tidak muncul atau sangat kurang pada bayi autistik. Ia bersikap acuh tidak
acuh dan seakan-akan menolak interaksi dengan orang lain. Ia lebih suka bermain
dengan “dirinya sendiri” atau dengan mainannya. Berikut ini diuraikan indikator
perkembangan yang normal pada masa bayi :
Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas
saat anak telah mencapai usia 3 tahun, ( Budiman, 1998) yaitu:
1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat
bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat
dimengerti , echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa ia mengerti
maknanya, dstnya.
2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata,
tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain
sendiri, dstnya.
3. Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang
berlebih ( excessive ) dan kekurangan ( deficient ) seperti impulsif, hiperaktif,
repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan
permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada kelekatan pada
benda tertentu seperti gambar, karet, dll yang dibawanya kemana-mana.
4. Gangguan pada bidang perasaan/emosi, seperti kurangnya empati, simpati,
dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang
nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang
ia inginkan.
5. Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit
mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup
telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dsbnya.
Gejala –gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme,
tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.
PENYEBAB AUTISME
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa dalam catatan pakar autis
( Nakita, 2002 ) jumlah penyandang autisme dibandingkan dengan jumlah kelahiran
normal dari tahun ketahun meningkat tajam sehingga ditahun 2001 lalu sudah
mencapai 1 dari 100 kelahiran. Peningkatan yang tajam ini tentunya menimbulkan
pertanyaan, ada perubahan apa dalam rentang waktu tersebut sehingga kasus
terjadinya autisme bisa meningkat tajam tidak saja di Indonesia tetapi juga di
berbagai negara.
4.1. FAKTOR PSIKOGENIK
Ketika autisme pertamakali ditemukan tahun 1943 oleh Leo Kanner, autisme
diperkirakan disebabkan pola asuh yang salah. Kasus-kasu perdana banyak
ditemukan pada keluarga kelas menengah dan berpendidikan,` yang orangtuanya
bersikap dingin dan kaku pada anak. Kanner beranggapan sikap keluarga tersebut
kurang memberikan stimulasi bagi perkembangan komunikasi anak yang akhirnya
© 2003 Digitized by USU digital library
5
menghambat perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak.
Pendapat Kanner ini disebut dengan teori Psikogenik yang menerangkan penyebab
autisme dari factor-faktor psikologis, dalam hal ini perlakuan/ pola asuh orangtua.
Namun penelitian-penelitian selanjutnya tidak menyepakati pendapat Kanner.
Alasannya, teori psikogenik tidak mampu menjelaskan ketertinggalan perkembangan
kognitif, tingkah laku maupun komunikasi anak autis. Penelitian-penelitian
selanjutnya lebih memfokuskan kaitan factor-faktor organik dan lingkungan sebagai
penyebab autis. Kalau semula penyebabnya lebih pada faktor psikologis, maka saat
ini bergeser ke factor organik dan lingkungan.
4.2. FAKTOR BIOLOGIS DAN LINGKUNGAN
Seperti gangguan perkembangan lainnya, autisme dipandang sebagai
gangguan yang memiliki banyak sebab dan antara satu kasus dengan kasus lainnya
penyebabnya bisa tidak sama. Penelitian tentang faktor organik menunjukkan
adanya kelainan/keterlambatan dalam tahap perkembangan anak autis sehingga
autisme kemudian digolongan sebagai gangguan dalam perkembangan (
developmental disorder) yang mendasari pengklasifikasian dan diagnosis dalam
DSM IV.
Hasil pemeriksaan laboratorium, juga MRI dan EEG tidak memberikan
gambaran yang khas tentang penyandang autisme, kecuali pada penyandang
autisme yang disertai dengan gangguan kejang. Temuan ini kemudian mengarahkan
dugaan neurologis terjadi pada abnormalitas fungsi kerja otak, dalam hal ini
neurotransmitter yang berbeda dari orang normal.
Neuro transmitter merupakan cairan kimiawi yang berfungsi menghantarkan
impuls dan menerjemahkan respon yang diterima. Jumlah neurotransmitter pada
penyandang autisme berbeda dari orang normal dimana sekitar 30-50% pada
penderita autisme terjadi peningkatan jumlah serotonin dalam darah (Nikita,2002).
Selanjutnya, penelitian kemudian mengarahkan perhatian pada faktor biologis,
diantaranya kondisi lingkungan, kehamilan ibu, perkembangan perinatal, komplikasi
persalinan, dan genetik.
Kondisi lingkungan seperti kehadiran virus dan zat-zat kimia/ logam dapat
mengakibatkan munculnya autisme ( http://www.autism society org, 2002). Zat-zat
beracun seperti timah ( Pb) dari asap knalpot mobil, pabrik dan cat tembok;
kadmium (Cd) dari batu baterai serta turunan air raksa ( Hg) yang digunakan
sebagai bahan tambalan gigi ( Amalgam).
Apabila tambalan gigi digunakan pada calon ibu, amalgam akan menguap
didalam mulut dan dihirup oleh calon ibu dan disimpan dalam tulang. Ketika ibu
hamil, terbentuklah tulang anak yang berasal dari tulang ibu yang sudah
mengandung logam berat. Selanjutnya proses keracunan logam beratpun terjadi
pada saat pemberian Asi dimana logam yang disimpan ibu ikut dihisap bayi saat
menyusui. Sebuah vaksin, MMR ( Measles, Mumps & Rubella) awalnya juga
diperkirakan menjadi penyebab autisme pada anak akibat anak tidak kuat menerima
campuran suntikan tiga vaksin sekaligus sehingga mereka mengalami kemunduran
dan memperlihatkan gejala autisme.
Sampai saat ini diduga faktor genetik berpengaruh kuat atas munculnya
kasus autisme. Dari penelitian pada saudara sekandung ( siblings) anak penyandang
autisme terungkap mereka mempunyai peningkatan kemungkinan sekitar 3 %
© 2003 Digitized by USU digital library
6
untuk dinyatakan autis. Sementara penelitian pada anak kembar juga didapat hasil
yang mendukung. Sayangnya harus diakui populasi anak kembar sendiri memang
tidak banyak di masyarakat sehingga menggunakan sample kecil . Penelitian pada
kembar identik 1 telur menunjukkan bahwa mereka memiliki kemungkinan yang
lebih besar untuk diagnosis autis bila saudara kembarnya autis ( Nikita, 2002).
Beberapa faktor lainnya yang juga telah diidentifikasi berasosiasi dengan
autisme diantaranya adalah usia ibu ( makin tinggi usia ibu, kemungkinan
menyandang autis kian besar ), urutan kelahiran, pendarahan trisemester pertama
dan kedua serta penggunaan obat yang tak terkontrol selama kehamilan.
5. PERKEMBANGAN GANGGUAN AUTISME
Cerita tentang Temple Grandin ( dalam Wenar, 1994) :
Temple Grandin adalah seorang wanita autism yang penuh perjuangan. Ia berhasil
mendapatkan gelar Doktor Ilmu Hewan. Sekarang ini ia mengajar disebuah
universitas, menulis beberapa buku tentang ilmu hewan, autisme dan kehidupan
pribadinya. Pada usia 6 bulan, Temple mulai menunjukkan tanda- tanda autisme.
Ketika digendong, ia terkesan memberontak dan ingin diletakan. Pada usia 2 tahun,
terlihat jelas bahwa ia hipersensitif terhadap rasa, suara, bau dan sentuhan. Suara
dan pakaian tertentu menimbulkan siksaan baginya. Akibat hipersensitif ini ia sering
berteriak, marah dan melempar segala sesuatu. Namun ketertarikannya yang
ekslusif terhadap barang-barang/ benda tertentu seperti tangannya sendiri, apel,
koin atau pasir membuat ia dapat menarik diri dari lingkungannya selama beberapa
lama. Sebagaimana umumnya pada waktu itu, dokter menyarankannya untuk
dirawat di rumah sakit atau institusi. Namun Ibunya menolak dan hanya
memasukkannya ke terapi bicara. Kelasnya terbatas dan terstruktur. Meski metode
pendidikan tidak didesain untuk autisme, namun terapi ini berpengaruh bagi
perkembangan Temple. Pada usia 4 tahun ia mulai bicara dan pada usia 5 tahun ia
mampu untuk masuk Tk biasa. Temple menyatakan bahwa keberhasilan
perkembangannya dipengaruhi oleh orang-orang penting dalam hidupnya seperti
ibunya yang tidak henti-henti mencari pertolongan; terapisnya yang tetap
menjaganya agar tidak menarik diri ke dunianya sendiri dan guru SLTA nya yang
membantunya mengembangkan ketertarikannya pada binatang ke ilmuan.
Cerita Temple Grandin ini menunjukkan bahwa penderita autisme tidak selalu
menyebabkan ia tidak mampu mengembangkan potensi dirinya.
Umumnya orang memperkirakan gangguan perkembangan yang parah akan
berdampak bagi perkembangan individu selanjutnya pada masa-yang akan datang.
Namun ternyata 10 % dari penyandang autism mampu hidup dengan baik pada
masa dewasa, mereka memiliki pekerja, berkeluarga (Wenar, 1994). Namun
memang 60 % menunjukkan ketergantungan sepenuhnya pada keseluruhan aspek
kehidupan. Ketidak mampuan komunikasi yang terus berlanjut setelah usia 5 tahun
dan IQ dibawah 60 menunjukkan prognosa yang kurang menggembirakan. Namun
penyandang autisme yang mampu berbicara sebelum usia 5 tahun dan memiliki
tingkat intelegensi rata rata ( average ) memiliki kemungkinan meningkatkan
kemampuan penyesuaian dirinya.
Pada penyandang autisme, tanda-tanda hambatan perkembangan telah mulai
tampak pada masa bayi ( Miller dalam Wenar, 1994) seperti kurangnya kontak
mata, kurangnya reaksi pada saat akan digendong, kurang mampu tersenyum meski
pada orang terdekatnya, kecemasan yang aneh dan kekurang mampuan bermain
© 2003 Digitized by USU digital library
7
“cilukba”. Tubuh bayi juga terkesan “kaku” sehingga sulit untuk direngkuh dalam
pelukan.
Pada masa kanak-kanak dan prasekolah, penyandang autisme kurang
menunjukkan respon sosial yang positif. Anak kurang lekat pada orangtua, ia tidak
mengikuti orangtua jika pergi, jarang mengekspresikan kasih sayang atau mencari
perlindungan bila terluka bahkan cenderung menarik diri dan menghindar.
Selanjutnya penguasaannya akan bahasa dan pemahaman komunikasi juga
mengalami hambatan. Tidak ada komunikasi timbal balik dengan orang lain. Selain
itu anak juga kurang mampu melakukan “imitasi sosial” atau meniru perilaku orang
lain pada usianya. Kemampuannya untuk bermainnya juga terbatas pada bermain
sendiri ( solitary play ) dan permainan tersebut cenderung terbatas dan diulang-
ulang secara kaku.
Pada pertengahan masa kanak-kanak, anak penyandang autisme
menunjukkan kecenderungan untuk tidak berteman, tidak kooperatif dan kurang
mampu berempati pada orang lain. Respon sosial mereka terkesan aneh dan kurang
pada tempatnya sehingga mereka mengalami masalah dalam penyesuaian sosialnya.
Aktivitasnya bersifat ritualistik dan rutin serta mereka mengalami stress jika terjadi
perubahan dari aktivitas biasa yang dilakukan.
Selanjutnya menurut Kanner, Rodriquest dan Ansheden (dalam Wenar,1994)
masa remaja merupakan masa perkembangan yang paling dramatik. Periode ini
dapat merupakan masa yang menunjukkan perbaikan yang signifikan. Beberapa
remaja mulai menyadari bahwa tingkah lakunya menyimpang dan secara sadar
berusaha memperbaiki diri dan tampil sesuai dengan perilaku sosial yang
diharapkan. Sekitar 5 – 15 persen anak autistik mampu mencapai kemampuan
penyesuaian sosial yang diharapkan dengan atau tanpa terapi. Meski dalam
berkomunikasi, vokalisasinya masih belum sempurna namun sudah cukup dapat
dipahami. Memang mereka tetap kurang mampu menunjukkan empati dan peran
seksual yang sesuai, namun sisi positifnya dalah mereka kaku dalam memegang
aturan dan mampu masuk kelingkungan sosial yang birokratis. Namun disisi lain,
mayoritas anak autisme akan terus berkembang dengan gangguan perkembangan
yang parah. Mereka tetap hidup dalam alamnya sendiri namun tidak menjadi
schizophrenia dalam arti mengalami delusi dan halusinasi.
6. PENEGAKAN DIAGNOSA AUTISME
Penegakan diagnosa yang tepat akan menghasilkan intervensi dan treatmen
yang tepat, oleh karena itu penting sekali penegakan diagnosa dilakukan secara teliti
dan akurat. Pemeriksaan terhadap anak penyandang autisme secara terpadu perlu
dilakukan. Tim yang terdiri dari ahli psikologi anak, dokter anak, dokter neurologis
serta ahli pendidikan perlu duduk bersama dalam menangani kasus ini.
.
6.1 Tes –tes psikologi
6.1.1 Tes
PEP-R
Berdasarkan pengalaman Sleeuwen ( 1996) , tes khusus untuk anak autistik
disebut dengan Psycho Educational Profile Revised ( PEP-R). Tes tersebut
dikembangkan oleh di Teacch, sebuah program pendidikan khusus untuk anak autis.
Tes ini digunakan untuk anak autistik atau yang terganggu perkembangannya dan
dipakai pada anak-anak dengan usia kronologis 6 bulan sampai dengan 7 tahun.
© 2003 Digitized by USU digital library
8
Tes PEP-R ini memberikan informasi tentang fungsi perkembangan seperti
imitasi, persepsi, ketrampilan motorik halus, ketrampilan motorik kasar, korrdinasi
mata dan tangan, performansi kognitif dan kognisi verbal, Tes PEP-R juga dapat
mendeteksi masalah-masalah dalam hal relasi dan afeksi, permainan dan minat
terhadap benda dan respon penginderaan dan bahasa. Skor PEP-R digunakan untuk
membuat rencana pendidikan individual anak sehingga guru dapat tertolong dalam
menangani anak autistik.
6.1.2 Vineland Social Maturity Scale
Skala Kematangan Sosial Vineland biasanya juga digunakan sebagai data
tambahan untuk mendukung diagnosa. Semua versi dari Vineland ( dalam Anastasi,
1997 ) terfokus pada apa yang biasa dilakukan individu dan dirancang untuk menilai
prilaku adaptif. Data diperoleh berdasarkan observasi dan wawancara orangtua. Tes
Vineland mengklasifikasikan empat domain/ranah adaptif utama yaitu ranah
komunikasi, ranah ketrampilan sehari-hari, ranah sosialisasi, ranah ketrampilan
motorik yang kemudian disertai dengan komposit perilaku adaptif dan maladaptif.
Hasil tes Vineland penyandang autis berada pada kriteria kematangan sosial yang
jauh dibawah rata-rata anak seusianya.
6.2. Diagnosa berdasarkan kriteria DSM IV
Pada uraian terdahulu ( hal. 8 ) telah dijelaskan bahwa autisme tergolong dalam
gangguan perkembangan pervasive dan dalam penegakan diagnosa didasarkan pada
adanya hambatan pada 3 bidang utama yaitu interaksi sosial, komunikasi dan
tingkah laku yang repetitive dan berulang. Selain itu dalam penegakan diagnosa
autisme perlu diperhatikan:
a. Diagnosa yang berhubungan dan mental retardasi.
Dalam beberapa kasus, autisme berhubungan dengan mental retardasi,
umumnya pada kriteria Moderate Mental Retarded, IQ 35 – 50 (DSM IV, 1995).
Hampir 75% penyandang autisme berada pada taraf intelegensi mental retardasi.
Terjadi abnormalitas dalam perkembangan kognitif penyandang autisme.
Sementara menurut Sleeuwen (1996) sekitar 60 % anak-anak autistik menderita
retardasi mental tingkat moderate ( IQ 35- 50) dan 20 % anak mengalami mental
retardasi ringan sedangkan 20 % lainnya tidak mengalami mental retardasi dan
memiliki IQ > 70 ( normal ). Beberapa anak memiliki apa yang disebut “ pulau
intelegensi” yang artinya mereka memiliki bakat khusus di bidang-bidang tertentu
seperti musik, berhitung, menggambar, dsbnya.
Selanjutnya Sleeuwen menyatakan dalam mendeteksi mental retardasi pada
anak autis dapat dilihat dari kemampuan umum anak yang jauh di bawah rata-rata
anak seusianya ( terbelakang ) dan hambatan dalam komunikasi serta pemahaman
sosial. Epilepsi yang menyertai juga berkaitan dengan kapasitas intelegensi yang
rendah, namun 1 dari 20 anak yang mengalami epilepsi memiliki fungsi mental yang
cukup baik. Retardasi mental dan autisme muncul bersamaan dari awal.
b. Hubungannya dengan hasil laboratorium
Jika autisme dikaitkan dengan kondisi kesehatan umum, ditemukan bahwa ada
perbedaan aktivitas serotonin namun tidak begitu jelas terlihat. Namun hasil
pemeriksaan EEG menunjukkan abnormalitas. ( DSM IV, 1996 )
c. Hubungannya dengan kondisi kesehatan umum
Beberapa simptom kelainan neurologis terlihat pada penyandang autis, seperti
refleks yang primitif, keterlambatan penggunaan tangan yang dominan, dsbnya.
© 2003 Digitized by USU digital library
9
Kondisi ini berkaitan dengan kondisi kesehatan umum seperti enchepalitis,
phenylketonuria, fragile X syndrome, anoxia saat kelahiran dan maternal rubella).
6.3.Diagnosa berdasarkan hasil pemeriksaan medis - neurologis
Seperti telah dikemukakan terdahulu, factor biologis diperkirakan juga
memberikan andil bagi berkembangkany gangguan autisme pada anak. Oleh karena
itu untuk mendukung penegakan diagnosa diperlukan pemeriksaan kesehatan dan
neurologis yang lengkap dan terpadu.
Selain diagnosa autisme, menurut dr. Rudi Sutadi (1998) terdapat juga
pengklasifikasian berat-ringannya autisme dengan menggunakan CARS ( Childhood
Autisme Rating Scale ). Untuk keperluan ilmiah, klasifikasi ini bermanfaat. Namun
disarankan untuk hati-hati dalam penggunaan klasifikasi ringan-sedang-berat ini
disebabkan untuk penanganan autis sampai saat ini peringkat tersebut tidak
dikaitkan dengan perbedaan prognosis dan intervensi. Intervensi autisme pada
klasifikasi manapun tetap sama yaitu intervensi (terutama tata laksana perilaku)
yang terpadu dan optimal.
Kehati-hatian penggunaan peringkat ini juga disebabkan pengaruhnya pada
orangtua penyandang autisme. Bila anak didiagnosis menderita autisme ringan,
dapat menimbulkan kelengahan pada orangtua untuk melaksanakan tatalaksana
yang optimal. Sedangkan bagi mereka yang dinyatakan berat, mungkin saja merkea
menjadi depresi dan putus asa sehingga tidak berbuat apa-apa pada anak mereka.
7. PENANGANAN ANAK AUTIS
Pertanyaan yang sering dilontarkan orang tua adalah apakah anaknya dapat
secara total bebas dari autisme. Agak sulit untuk menerangkan pada orang tua
bahwa autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan
( not curable ), namun bisa diterapi ( treatable ). Maksudnya kelainan yang terjadi
pada otak tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi
semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya bisa berbaur dengan anak-
anak lain secara normal. ( Wenar, 1994 )
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor ( Budiman, 1998 ) yaitu :
a. berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak.
b. usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat
dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
c. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
d. Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara seumur
hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang
berbeda-beda. Mereka dengan kemampuan bicara yang baik mempunyai
prognosis yang lebih baik.
e. Terapi yang intensif dan terpadu.
7.1. TERAPI YANG TERPADU
Penanganan / intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan
dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4 – 8
jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi
dengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan kerjasama tim yang
terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog
neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik.
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain :
© 2003 Digitized by USU digital library
10
a. Terapi medikamentosa
b. Terapi psikologis
c. Terapi wicara
d. Fisioterapi
7.1.1. Terapi medikamentosa
Menurut dr. Melly Budiman ( 1998) , pemberian obat pada anak harus didasarkan
pada diagnosis yang tepat, pemakaian obat yang tepat, pemantauan ketat terhadap
efek samping dan mengenali cara kerja obat. Perlu diingat bahwa setiap anak
memiliki ketahanan yang berbeda-beda terhadap efek obat, dosis obat dan efek
samping. Oleh karena itu perlu ada kehati-hatian dari orang tua dalam pemberian
obat yang umumnya berlangsung jangka panjang.
Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga
diberika obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat antidepressan SSRI (
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor ) yang bisa memberikan keseimbangan
antara neurotransmitter serotonin dan dopamine. Yang diinginkan dalam pemberian
obat ini adalah dosis yang paling minimal namun paling efektif dan tanpa efek
samping. Pemakaian obat akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak
terhadap lingkungan sehingga ia lebih mudah menerima tata laksana terapi lainnya.
Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat dapat dikurangi
bahkan dihentikan.
7.1.2. Terapi psikologis
Dalam penanganan autisme, seringkali perkembangan kemampuan berjalan lambat
dan mudah hilang ( Wenar,1994 ). Umumnya intervensi difokuskan pada
meningkatkan kemampuan bahasa dan komunikasi, self-help dan perilaku sosial dan
mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki seperti melukai diri sendiri ( self
mutilation ), temper tantrum dengan penekanan pada peningkatan fungsi individu
dan bukan “menyembuhkan” dalam arti mengembalikan penyandang autis ke posisi
normal.
Rutter ( dalam Wenar, 1994 ) membuat pendekatan yang komprehensif
dalam intervensi autisme yang memiliki tujuan :
- membantu perkembangan kognitif, bahasa dan sosial yang normal
- meningkatkan kemampuan belajar anak autistik
- mengurangi kekakuan dan perilaku stereotype dengan meningkatkan
interaksi penyandang autis dengan orang lain dan tidak membiarkannya
“hidup sendiri” . Interaksi yang kurang justru akan menyebabkan munculnya
perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki. Dalam hal ini pemberian mainan
yang bervariasi juga dapat mengurangi kekakuan ini.
- mengurangi perilaku maladaptive seperti temper tantrum dan melukai diri
sendiri
- mengurangi stress pada keluarga penderita autisme
Selanjutnya, Lieke Van Sleeuwen ( 1996 ) menyatakan intervensi psikologis
anak-anak autistik harus terfokus pada :
- memberikan stimulasi spesifik dan latihan untuk mengkompensasikan
keterlambatan perkembangan secara menyeluruh
- memutuskan atau mengurangi perilaku yang sulit ditangani oleh lingkungan
yang menghambat proses belajar sosial dan pendidikan
- mencegah timbulnya gangguan sekunder yang mungkin muncul sebagai efek
dari gangguan utama.
© 2003 Digitized by USU digital library
11
Ketiga hal ini hanya dapat dilaksanakan pada lingkungan yang sangat
terstruktur dan teratur dengan baik. Anak autistik memiliki pola berpikir yang
berbeda, mereka mengalami kesulitan memahami lingkungannya. Oleh karena itu
memberikan lingkungan terstruktur merupakan titik awal dalam proses intervensi
penyandang autis. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sbb :
a. Keteraturan waktu dan tempat
yaitu : jadwal harian yang tetap dan ruang yang pasti. Namun tidak berarti
bahwa segala sesuatu harus terjadi dengan cara yang sama. Perubahan-
perubahan kecil juga diperlukan agar anak autis dapat meningkatkan
fleksibilitas mereka.
b. Berhubung adanya kesulitan berpikir dan bertingkah laku pada anak autis,
maka perlu merangsang dan melatih anak melalui berbagai aspek yang
disesuaikan dengan minat yang dimiliki anak.
c. Pengajaran dilakukan secara bertahap dan bila memungkinkan menggunakan
alat peraga
d. Proses pendidikan berlangsung secara individual ( khusus ). Anak autis tidak
memiliki ketrampilan sosial yang diperlukan untuk belajar dalam situasi
kelompok. Oleh karena itu, pendekatan individual diberikan pada anak
termasuk didalamnya individual play training. Training bermain ini merupakan
terapi yang mengajari anak bermain dan membimbing anak ke dalam
berbagai kemungkinan fungsional suatu mainan. Contohnya seperti sebuah
mobil tidak hanya merupakan benda dengan roda yang berjalan tetapi juga
dapat disetir dan mengangkut orang dan benda-benda lain.
Seperti halnya Rutter yang menekankan perlunya mengatasi stress pada
keluarga, Sleeuwen ( 1996 ) juga menekankan pentingnya konseling keluarga.
Setelah seorang anak didiagnosa autisme, adalah penting bahwa tidak hanya anak
tersebut yang mendapatkan pertolongan, namun juga orang tua. Orang tua perlu
diberikan pengertian mengenai kondisi anak dan mampu menerima anak mereka
yang menderita autis. Mereka juga dilibatkan dalam proses terapi ( Home training ).
Konsep yang ada dalam home training ini adalah orang tua belajar dan dilatih untuk
dapat melakukan sendiri terapi yang dilakukan psikolog/terapis. Terapi tidak hanya
dilakukan oleh terapis tetapi juga oleh keluarga di rumah. Terapi yang intensif akan
meminimalisir kemungkinan hilangnya kemampuan yang telah dilatih dan dikuasai
anak.
7.1.3. Terapi Wicara
Umumnya hampir semua penyandang autisme menderita gangguan bicara dan
berbahasa. Oleh karena itu terapi wicara pada penyandang autisme merupkan
keharusan. Penanganannya berbeda dengan penderita gangguan bicara oleh sebab
lain. Salah seorang tokoh yang mengembangkan terapi bicara ini adalah Lovaas pada
tahun 1977 yang menggunakan pendekatan behaviouris - model operant
conditioning ( dalam Wenar, 1994 ). Anak yang mengalami hambatan bicara dilatih
dengan proses pemberian reinforcement dan meniru vokalisasi terapis.
Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah
pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum ( 1982), autisme berarti preokupasi
terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak
berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau
realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang
yang hidup di “alamnya” sendiri.
© 2003 Digitized by USU digital library
1
Autisme atau autisme infantil ( Early Infantile Autism) pertama kali
dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 ( dalam Budiman, 1998) seorang psikiatris
Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis
pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri
yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-
olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk
menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.
Pada awalnya istilah “autisme” diambilnya dari gangguan schizophrenia,
dimana Bleuer memakai autisme ini untuk menggambarkan perilaku pasien
skizofrenia yang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya
sendiri. Namun ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari autisme pada
penderita skizofrenia dengan penyandang autisme infantile. Pada skizofrenia,
autisme disebabkan dampak area gangguan jiwa yang didalamnya terkandung
halusinasi dan delusi yang berlansung minimal selama 1 bulan, sedangkan pada
anak-anak dengan autisme infantile terdapat kegagalan dalam perkembangan
yang tergolong dalam kriteria Gangguan Pervasif dengan kehidupan autistik
yang tidak disertai dengan halusinasi dan delusi ( DSM IV, 1995 ).
2. GEJALA-GEJALA AUTISME
Gejala autisme infantile timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun.
Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir.
Seorang ibu yang cermat dapat melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya
mencapai usia satu tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya kontak mata
dan kurangnya minat untuk berinteraksi dengan orang lain.
Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal,
seorang bayi mulai bisa berinteraksi dengan ibunya pada usia 3 - 4 bulan.
Bila ibu merangsang bayinya dengan menggerincingkan mainan dan mengajak
berbicara, maka bayi tersebut akan berespon dan bereaksi dengan ocehan serta
gerakan. Makin lama bayi makin responsive terhadap rangsang dari luar seiring
dengan berkembangnya kemampuan sensorik. Pada umur 6-8 bulan ia sudah bisa
berinteraksi dan memperhatikan orang yang mengajaknya bermain dan berbicara.
Hal ini tidak muncul atau sangat kurang pada bayi autistik. Ia bersikap acuh tidak
acuh dan seakan-akan menolak interaksi dengan orang lain. Ia lebih suka bermain
dengan “dirinya sendiri” atau dengan mainannya. Berikut ini diuraikan indikator
perkembangan yang normal pada masa bayi :
Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas
saat anak telah mencapai usia 3 tahun, ( Budiman, 1998) yaitu:
1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat
bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat
dimengerti , echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa ia mengerti
maknanya, dstnya.
2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata,
tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain
sendiri, dstnya.
3. Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang
berlebih ( excessive ) dan kekurangan ( deficient ) seperti impulsif, hiperaktif,
repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan
permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada kelekatan pada
benda tertentu seperti gambar, karet, dll yang dibawanya kemana-mana.
4. Gangguan pada bidang perasaan/emosi, seperti kurangnya empati, simpati,
dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang
nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang
ia inginkan.
5. Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit
mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup
telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dsbnya.
Gejala –gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme,
tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.
PENYEBAB AUTISME
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa dalam catatan pakar autis
( Nakita, 2002 ) jumlah penyandang autisme dibandingkan dengan jumlah kelahiran
normal dari tahun ketahun meningkat tajam sehingga ditahun 2001 lalu sudah
mencapai 1 dari 100 kelahiran. Peningkatan yang tajam ini tentunya menimbulkan
pertanyaan, ada perubahan apa dalam rentang waktu tersebut sehingga kasus
terjadinya autisme bisa meningkat tajam tidak saja di Indonesia tetapi juga di
berbagai negara.
4.1. FAKTOR PSIKOGENIK
Ketika autisme pertamakali ditemukan tahun 1943 oleh Leo Kanner, autisme
diperkirakan disebabkan pola asuh yang salah. Kasus-kasu perdana banyak
ditemukan pada keluarga kelas menengah dan berpendidikan,` yang orangtuanya
bersikap dingin dan kaku pada anak. Kanner beranggapan sikap keluarga tersebut
kurang memberikan stimulasi bagi perkembangan komunikasi anak yang akhirnya
© 2003 Digitized by USU digital library
5
menghambat perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak.
Pendapat Kanner ini disebut dengan teori Psikogenik yang menerangkan penyebab
autisme dari factor-faktor psikologis, dalam hal ini perlakuan/ pola asuh orangtua.
Namun penelitian-penelitian selanjutnya tidak menyepakati pendapat Kanner.
Alasannya, teori psikogenik tidak mampu menjelaskan ketertinggalan perkembangan
kognitif, tingkah laku maupun komunikasi anak autis. Penelitian-penelitian
selanjutnya lebih memfokuskan kaitan factor-faktor organik dan lingkungan sebagai
penyebab autis. Kalau semula penyebabnya lebih pada faktor psikologis, maka saat
ini bergeser ke factor organik dan lingkungan.
4.2. FAKTOR BIOLOGIS DAN LINGKUNGAN
Seperti gangguan perkembangan lainnya, autisme dipandang sebagai
gangguan yang memiliki banyak sebab dan antara satu kasus dengan kasus lainnya
penyebabnya bisa tidak sama. Penelitian tentang faktor organik menunjukkan
adanya kelainan/keterlambatan dalam tahap perkembangan anak autis sehingga
autisme kemudian digolongan sebagai gangguan dalam perkembangan (
developmental disorder) yang mendasari pengklasifikasian dan diagnosis dalam
DSM IV.
Hasil pemeriksaan laboratorium, juga MRI dan EEG tidak memberikan
gambaran yang khas tentang penyandang autisme, kecuali pada penyandang
autisme yang disertai dengan gangguan kejang. Temuan ini kemudian mengarahkan
dugaan neurologis terjadi pada abnormalitas fungsi kerja otak, dalam hal ini
neurotransmitter yang berbeda dari orang normal.
Neuro transmitter merupakan cairan kimiawi yang berfungsi menghantarkan
impuls dan menerjemahkan respon yang diterima. Jumlah neurotransmitter pada
penyandang autisme berbeda dari orang normal dimana sekitar 30-50% pada
penderita autisme terjadi peningkatan jumlah serotonin dalam darah (Nikita,2002).
Selanjutnya, penelitian kemudian mengarahkan perhatian pada faktor biologis,
diantaranya kondisi lingkungan, kehamilan ibu, perkembangan perinatal, komplikasi
persalinan, dan genetik.
Kondisi lingkungan seperti kehadiran virus dan zat-zat kimia/ logam dapat
mengakibatkan munculnya autisme ( http://www.autism society org, 2002). Zat-zat
beracun seperti timah ( Pb) dari asap knalpot mobil, pabrik dan cat tembok;
kadmium (Cd) dari batu baterai serta turunan air raksa ( Hg) yang digunakan
sebagai bahan tambalan gigi ( Amalgam).
Apabila tambalan gigi digunakan pada calon ibu, amalgam akan menguap
didalam mulut dan dihirup oleh calon ibu dan disimpan dalam tulang. Ketika ibu
hamil, terbentuklah tulang anak yang berasal dari tulang ibu yang sudah
mengandung logam berat. Selanjutnya proses keracunan logam beratpun terjadi
pada saat pemberian Asi dimana logam yang disimpan ibu ikut dihisap bayi saat
menyusui. Sebuah vaksin, MMR ( Measles, Mumps & Rubella) awalnya juga
diperkirakan menjadi penyebab autisme pada anak akibat anak tidak kuat menerima
campuran suntikan tiga vaksin sekaligus sehingga mereka mengalami kemunduran
dan memperlihatkan gejala autisme.
Sampai saat ini diduga faktor genetik berpengaruh kuat atas munculnya
kasus autisme. Dari penelitian pada saudara sekandung ( siblings) anak penyandang
autisme terungkap mereka mempunyai peningkatan kemungkinan sekitar 3 %
© 2003 Digitized by USU digital library
6
untuk dinyatakan autis. Sementara penelitian pada anak kembar juga didapat hasil
yang mendukung. Sayangnya harus diakui populasi anak kembar sendiri memang
tidak banyak di masyarakat sehingga menggunakan sample kecil . Penelitian pada
kembar identik 1 telur menunjukkan bahwa mereka memiliki kemungkinan yang
lebih besar untuk diagnosis autis bila saudara kembarnya autis ( Nikita, 2002).
Beberapa faktor lainnya yang juga telah diidentifikasi berasosiasi dengan
autisme diantaranya adalah usia ibu ( makin tinggi usia ibu, kemungkinan
menyandang autis kian besar ), urutan kelahiran, pendarahan trisemester pertama
dan kedua serta penggunaan obat yang tak terkontrol selama kehamilan.
5. PERKEMBANGAN GANGGUAN AUTISME
Cerita tentang Temple Grandin ( dalam Wenar, 1994) :
Temple Grandin adalah seorang wanita autism yang penuh perjuangan. Ia berhasil
mendapatkan gelar Doktor Ilmu Hewan. Sekarang ini ia mengajar disebuah
universitas, menulis beberapa buku tentang ilmu hewan, autisme dan kehidupan
pribadinya. Pada usia 6 bulan, Temple mulai menunjukkan tanda- tanda autisme.
Ketika digendong, ia terkesan memberontak dan ingin diletakan. Pada usia 2 tahun,
terlihat jelas bahwa ia hipersensitif terhadap rasa, suara, bau dan sentuhan. Suara
dan pakaian tertentu menimbulkan siksaan baginya. Akibat hipersensitif ini ia sering
berteriak, marah dan melempar segala sesuatu. Namun ketertarikannya yang
ekslusif terhadap barang-barang/ benda tertentu seperti tangannya sendiri, apel,
koin atau pasir membuat ia dapat menarik diri dari lingkungannya selama beberapa
lama. Sebagaimana umumnya pada waktu itu, dokter menyarankannya untuk
dirawat di rumah sakit atau institusi. Namun Ibunya menolak dan hanya
memasukkannya ke terapi bicara. Kelasnya terbatas dan terstruktur. Meski metode
pendidikan tidak didesain untuk autisme, namun terapi ini berpengaruh bagi
perkembangan Temple. Pada usia 4 tahun ia mulai bicara dan pada usia 5 tahun ia
mampu untuk masuk Tk biasa. Temple menyatakan bahwa keberhasilan
perkembangannya dipengaruhi oleh orang-orang penting dalam hidupnya seperti
ibunya yang tidak henti-henti mencari pertolongan; terapisnya yang tetap
menjaganya agar tidak menarik diri ke dunianya sendiri dan guru SLTA nya yang
membantunya mengembangkan ketertarikannya pada binatang ke ilmuan.
Cerita Temple Grandin ini menunjukkan bahwa penderita autisme tidak selalu
menyebabkan ia tidak mampu mengembangkan potensi dirinya.
Umumnya orang memperkirakan gangguan perkembangan yang parah akan
berdampak bagi perkembangan individu selanjutnya pada masa-yang akan datang.
Namun ternyata 10 % dari penyandang autism mampu hidup dengan baik pada
masa dewasa, mereka memiliki pekerja, berkeluarga (Wenar, 1994). Namun
memang 60 % menunjukkan ketergantungan sepenuhnya pada keseluruhan aspek
kehidupan. Ketidak mampuan komunikasi yang terus berlanjut setelah usia 5 tahun
dan IQ dibawah 60 menunjukkan prognosa yang kurang menggembirakan. Namun
penyandang autisme yang mampu berbicara sebelum usia 5 tahun dan memiliki
tingkat intelegensi rata rata ( average ) memiliki kemungkinan meningkatkan
kemampuan penyesuaian dirinya.
Pada penyandang autisme, tanda-tanda hambatan perkembangan telah mulai
tampak pada masa bayi ( Miller dalam Wenar, 1994) seperti kurangnya kontak
mata, kurangnya reaksi pada saat akan digendong, kurang mampu tersenyum meski
pada orang terdekatnya, kecemasan yang aneh dan kekurang mampuan bermain
© 2003 Digitized by USU digital library
7
“cilukba”. Tubuh bayi juga terkesan “kaku” sehingga sulit untuk direngkuh dalam
pelukan.
Pada masa kanak-kanak dan prasekolah, penyandang autisme kurang
menunjukkan respon sosial yang positif. Anak kurang lekat pada orangtua, ia tidak
mengikuti orangtua jika pergi, jarang mengekspresikan kasih sayang atau mencari
perlindungan bila terluka bahkan cenderung menarik diri dan menghindar.
Selanjutnya penguasaannya akan bahasa dan pemahaman komunikasi juga
mengalami hambatan. Tidak ada komunikasi timbal balik dengan orang lain. Selain
itu anak juga kurang mampu melakukan “imitasi sosial” atau meniru perilaku orang
lain pada usianya. Kemampuannya untuk bermainnya juga terbatas pada bermain
sendiri ( solitary play ) dan permainan tersebut cenderung terbatas dan diulang-
ulang secara kaku.
Pada pertengahan masa kanak-kanak, anak penyandang autisme
menunjukkan kecenderungan untuk tidak berteman, tidak kooperatif dan kurang
mampu berempati pada orang lain. Respon sosial mereka terkesan aneh dan kurang
pada tempatnya sehingga mereka mengalami masalah dalam penyesuaian sosialnya.
Aktivitasnya bersifat ritualistik dan rutin serta mereka mengalami stress jika terjadi
perubahan dari aktivitas biasa yang dilakukan.
Selanjutnya menurut Kanner, Rodriquest dan Ansheden (dalam Wenar,1994)
masa remaja merupakan masa perkembangan yang paling dramatik. Periode ini
dapat merupakan masa yang menunjukkan perbaikan yang signifikan. Beberapa
remaja mulai menyadari bahwa tingkah lakunya menyimpang dan secara sadar
berusaha memperbaiki diri dan tampil sesuai dengan perilaku sosial yang
diharapkan. Sekitar 5 – 15 persen anak autistik mampu mencapai kemampuan
penyesuaian sosial yang diharapkan dengan atau tanpa terapi. Meski dalam
berkomunikasi, vokalisasinya masih belum sempurna namun sudah cukup dapat
dipahami. Memang mereka tetap kurang mampu menunjukkan empati dan peran
seksual yang sesuai, namun sisi positifnya dalah mereka kaku dalam memegang
aturan dan mampu masuk kelingkungan sosial yang birokratis. Namun disisi lain,
mayoritas anak autisme akan terus berkembang dengan gangguan perkembangan
yang parah. Mereka tetap hidup dalam alamnya sendiri namun tidak menjadi
schizophrenia dalam arti mengalami delusi dan halusinasi.
6. PENEGAKAN DIAGNOSA AUTISME
Penegakan diagnosa yang tepat akan menghasilkan intervensi dan treatmen
yang tepat, oleh karena itu penting sekali penegakan diagnosa dilakukan secara teliti
dan akurat. Pemeriksaan terhadap anak penyandang autisme secara terpadu perlu
dilakukan. Tim yang terdiri dari ahli psikologi anak, dokter anak, dokter neurologis
serta ahli pendidikan perlu duduk bersama dalam menangani kasus ini.
.
6.1 Tes –tes psikologi
6.1.1 Tes
PEP-R
Berdasarkan pengalaman Sleeuwen ( 1996) , tes khusus untuk anak autistik
disebut dengan Psycho Educational Profile Revised ( PEP-R). Tes tersebut
dikembangkan oleh di Teacch, sebuah program pendidikan khusus untuk anak autis.
Tes ini digunakan untuk anak autistik atau yang terganggu perkembangannya dan
dipakai pada anak-anak dengan usia kronologis 6 bulan sampai dengan 7 tahun.
© 2003 Digitized by USU digital library
8
Tes PEP-R ini memberikan informasi tentang fungsi perkembangan seperti
imitasi, persepsi, ketrampilan motorik halus, ketrampilan motorik kasar, korrdinasi
mata dan tangan, performansi kognitif dan kognisi verbal, Tes PEP-R juga dapat
mendeteksi masalah-masalah dalam hal relasi dan afeksi, permainan dan minat
terhadap benda dan respon penginderaan dan bahasa. Skor PEP-R digunakan untuk
membuat rencana pendidikan individual anak sehingga guru dapat tertolong dalam
menangani anak autistik.
6.1.2 Vineland Social Maturity Scale
Skala Kematangan Sosial Vineland biasanya juga digunakan sebagai data
tambahan untuk mendukung diagnosa. Semua versi dari Vineland ( dalam Anastasi,
1997 ) terfokus pada apa yang biasa dilakukan individu dan dirancang untuk menilai
prilaku adaptif. Data diperoleh berdasarkan observasi dan wawancara orangtua. Tes
Vineland mengklasifikasikan empat domain/ranah adaptif utama yaitu ranah
komunikasi, ranah ketrampilan sehari-hari, ranah sosialisasi, ranah ketrampilan
motorik yang kemudian disertai dengan komposit perilaku adaptif dan maladaptif.
Hasil tes Vineland penyandang autis berada pada kriteria kematangan sosial yang
jauh dibawah rata-rata anak seusianya.
6.2. Diagnosa berdasarkan kriteria DSM IV
Pada uraian terdahulu ( hal. 8 ) telah dijelaskan bahwa autisme tergolong dalam
gangguan perkembangan pervasive dan dalam penegakan diagnosa didasarkan pada
adanya hambatan pada 3 bidang utama yaitu interaksi sosial, komunikasi dan
tingkah laku yang repetitive dan berulang. Selain itu dalam penegakan diagnosa
autisme perlu diperhatikan:
a. Diagnosa yang berhubungan dan mental retardasi.
Dalam beberapa kasus, autisme berhubungan dengan mental retardasi,
umumnya pada kriteria Moderate Mental Retarded, IQ 35 – 50 (DSM IV, 1995).
Hampir 75% penyandang autisme berada pada taraf intelegensi mental retardasi.
Terjadi abnormalitas dalam perkembangan kognitif penyandang autisme.
Sementara menurut Sleeuwen (1996) sekitar 60 % anak-anak autistik menderita
retardasi mental tingkat moderate ( IQ 35- 50) dan 20 % anak mengalami mental
retardasi ringan sedangkan 20 % lainnya tidak mengalami mental retardasi dan
memiliki IQ > 70 ( normal ). Beberapa anak memiliki apa yang disebut “ pulau
intelegensi” yang artinya mereka memiliki bakat khusus di bidang-bidang tertentu
seperti musik, berhitung, menggambar, dsbnya.
Selanjutnya Sleeuwen menyatakan dalam mendeteksi mental retardasi pada
anak autis dapat dilihat dari kemampuan umum anak yang jauh di bawah rata-rata
anak seusianya ( terbelakang ) dan hambatan dalam komunikasi serta pemahaman
sosial. Epilepsi yang menyertai juga berkaitan dengan kapasitas intelegensi yang
rendah, namun 1 dari 20 anak yang mengalami epilepsi memiliki fungsi mental yang
cukup baik. Retardasi mental dan autisme muncul bersamaan dari awal.
b. Hubungannya dengan hasil laboratorium
Jika autisme dikaitkan dengan kondisi kesehatan umum, ditemukan bahwa ada
perbedaan aktivitas serotonin namun tidak begitu jelas terlihat. Namun hasil
pemeriksaan EEG menunjukkan abnormalitas. ( DSM IV, 1996 )
c. Hubungannya dengan kondisi kesehatan umum
Beberapa simptom kelainan neurologis terlihat pada penyandang autis, seperti
refleks yang primitif, keterlambatan penggunaan tangan yang dominan, dsbnya.
© 2003 Digitized by USU digital library
9
Kondisi ini berkaitan dengan kondisi kesehatan umum seperti enchepalitis,
phenylketonuria, fragile X syndrome, anoxia saat kelahiran dan maternal rubella).
6.3.Diagnosa berdasarkan hasil pemeriksaan medis - neurologis
Seperti telah dikemukakan terdahulu, factor biologis diperkirakan juga
memberikan andil bagi berkembangkany gangguan autisme pada anak. Oleh karena
itu untuk mendukung penegakan diagnosa diperlukan pemeriksaan kesehatan dan
neurologis yang lengkap dan terpadu.
Selain diagnosa autisme, menurut dr. Rudi Sutadi (1998) terdapat juga
pengklasifikasian berat-ringannya autisme dengan menggunakan CARS ( Childhood
Autisme Rating Scale ). Untuk keperluan ilmiah, klasifikasi ini bermanfaat. Namun
disarankan untuk hati-hati dalam penggunaan klasifikasi ringan-sedang-berat ini
disebabkan untuk penanganan autis sampai saat ini peringkat tersebut tidak
dikaitkan dengan perbedaan prognosis dan intervensi. Intervensi autisme pada
klasifikasi manapun tetap sama yaitu intervensi (terutama tata laksana perilaku)
yang terpadu dan optimal.
Kehati-hatian penggunaan peringkat ini juga disebabkan pengaruhnya pada
orangtua penyandang autisme. Bila anak didiagnosis menderita autisme ringan,
dapat menimbulkan kelengahan pada orangtua untuk melaksanakan tatalaksana
yang optimal. Sedangkan bagi mereka yang dinyatakan berat, mungkin saja merkea
menjadi depresi dan putus asa sehingga tidak berbuat apa-apa pada anak mereka.
7. PENANGANAN ANAK AUTIS
Pertanyaan yang sering dilontarkan orang tua adalah apakah anaknya dapat
secara total bebas dari autisme. Agak sulit untuk menerangkan pada orang tua
bahwa autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan
( not curable ), namun bisa diterapi ( treatable ). Maksudnya kelainan yang terjadi
pada otak tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi
semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya bisa berbaur dengan anak-
anak lain secara normal. ( Wenar, 1994 )
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor ( Budiman, 1998 ) yaitu :
a. berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak.
b. usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat
dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
c. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
d. Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara seumur
hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang
berbeda-beda. Mereka dengan kemampuan bicara yang baik mempunyai
prognosis yang lebih baik.
e. Terapi yang intensif dan terpadu.
7.1. TERAPI YANG TERPADU
Penanganan / intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan
dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4 – 8
jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi
dengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan kerjasama tim yang
terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog
neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik.
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain :
© 2003 Digitized by USU digital library
10
a. Terapi medikamentosa
b. Terapi psikologis
c. Terapi wicara
d. Fisioterapi
7.1.1. Terapi medikamentosa
Menurut dr. Melly Budiman ( 1998) , pemberian obat pada anak harus didasarkan
pada diagnosis yang tepat, pemakaian obat yang tepat, pemantauan ketat terhadap
efek samping dan mengenali cara kerja obat. Perlu diingat bahwa setiap anak
memiliki ketahanan yang berbeda-beda terhadap efek obat, dosis obat dan efek
samping. Oleh karena itu perlu ada kehati-hatian dari orang tua dalam pemberian
obat yang umumnya berlangsung jangka panjang.
Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga
diberika obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat antidepressan SSRI (
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor ) yang bisa memberikan keseimbangan
antara neurotransmitter serotonin dan dopamine. Yang diinginkan dalam pemberian
obat ini adalah dosis yang paling minimal namun paling efektif dan tanpa efek
samping. Pemakaian obat akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak
terhadap lingkungan sehingga ia lebih mudah menerima tata laksana terapi lainnya.
Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat dapat dikurangi
bahkan dihentikan.
7.1.2. Terapi psikologis
Dalam penanganan autisme, seringkali perkembangan kemampuan berjalan lambat
dan mudah hilang ( Wenar,1994 ). Umumnya intervensi difokuskan pada
meningkatkan kemampuan bahasa dan komunikasi, self-help dan perilaku sosial dan
mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki seperti melukai diri sendiri ( self
mutilation ), temper tantrum dengan penekanan pada peningkatan fungsi individu
dan bukan “menyembuhkan” dalam arti mengembalikan penyandang autis ke posisi
normal.
Rutter ( dalam Wenar, 1994 ) membuat pendekatan yang komprehensif
dalam intervensi autisme yang memiliki tujuan :
- membantu perkembangan kognitif, bahasa dan sosial yang normal
- meningkatkan kemampuan belajar anak autistik
- mengurangi kekakuan dan perilaku stereotype dengan meningkatkan
interaksi penyandang autis dengan orang lain dan tidak membiarkannya
“hidup sendiri” . Interaksi yang kurang justru akan menyebabkan munculnya
perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki. Dalam hal ini pemberian mainan
yang bervariasi juga dapat mengurangi kekakuan ini.
- mengurangi perilaku maladaptive seperti temper tantrum dan melukai diri
sendiri
- mengurangi stress pada keluarga penderita autisme
Selanjutnya, Lieke Van Sleeuwen ( 1996 ) menyatakan intervensi psikologis
anak-anak autistik harus terfokus pada :
- memberikan stimulasi spesifik dan latihan untuk mengkompensasikan
keterlambatan perkembangan secara menyeluruh
- memutuskan atau mengurangi perilaku yang sulit ditangani oleh lingkungan
yang menghambat proses belajar sosial dan pendidikan
- mencegah timbulnya gangguan sekunder yang mungkin muncul sebagai efek
dari gangguan utama.
© 2003 Digitized by USU digital library
11
Ketiga hal ini hanya dapat dilaksanakan pada lingkungan yang sangat
terstruktur dan teratur dengan baik. Anak autistik memiliki pola berpikir yang
berbeda, mereka mengalami kesulitan memahami lingkungannya. Oleh karena itu
memberikan lingkungan terstruktur merupakan titik awal dalam proses intervensi
penyandang autis. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sbb :
a. Keteraturan waktu dan tempat
yaitu : jadwal harian yang tetap dan ruang yang pasti. Namun tidak berarti
bahwa segala sesuatu harus terjadi dengan cara yang sama. Perubahan-
perubahan kecil juga diperlukan agar anak autis dapat meningkatkan
fleksibilitas mereka.
b. Berhubung adanya kesulitan berpikir dan bertingkah laku pada anak autis,
maka perlu merangsang dan melatih anak melalui berbagai aspek yang
disesuaikan dengan minat yang dimiliki anak.
c. Pengajaran dilakukan secara bertahap dan bila memungkinkan menggunakan
alat peraga
d. Proses pendidikan berlangsung secara individual ( khusus ). Anak autis tidak
memiliki ketrampilan sosial yang diperlukan untuk belajar dalam situasi
kelompok. Oleh karena itu, pendekatan individual diberikan pada anak
termasuk didalamnya individual play training. Training bermain ini merupakan
terapi yang mengajari anak bermain dan membimbing anak ke dalam
berbagai kemungkinan fungsional suatu mainan. Contohnya seperti sebuah
mobil tidak hanya merupakan benda dengan roda yang berjalan tetapi juga
dapat disetir dan mengangkut orang dan benda-benda lain.
Seperti halnya Rutter yang menekankan perlunya mengatasi stress pada
keluarga, Sleeuwen ( 1996 ) juga menekankan pentingnya konseling keluarga.
Setelah seorang anak didiagnosa autisme, adalah penting bahwa tidak hanya anak
tersebut yang mendapatkan pertolongan, namun juga orang tua. Orang tua perlu
diberikan pengertian mengenai kondisi anak dan mampu menerima anak mereka
yang menderita autis. Mereka juga dilibatkan dalam proses terapi ( Home training ).
Konsep yang ada dalam home training ini adalah orang tua belajar dan dilatih untuk
dapat melakukan sendiri terapi yang dilakukan psikolog/terapis. Terapi tidak hanya
dilakukan oleh terapis tetapi juga oleh keluarga di rumah. Terapi yang intensif akan
meminimalisir kemungkinan hilangnya kemampuan yang telah dilatih dan dikuasai
anak.
7.1.3. Terapi Wicara
Umumnya hampir semua penyandang autisme menderita gangguan bicara dan
berbahasa. Oleh karena itu terapi wicara pada penyandang autisme merupkan
keharusan. Penanganannya berbeda dengan penderita gangguan bicara oleh sebab
lain. Salah seorang tokoh yang mengembangkan terapi bicara ini adalah Lovaas pada
tahun 1977 yang menggunakan pendekatan behaviouris - model operant
conditioning ( dalam Wenar, 1994 ). Anak yang mengalami hambatan bicara dilatih
dengan proses pemberian reinforcement dan meniru vokalisasi terapis.
Langganan:
Postingan (Atom)
