Para pengguna tenaga kerja sarjana seringkali mengeluhkan bahwa kebanyakan nilai kualitas lulusan perguruan tinggi itu payah. Kata “payah”, bisa berarti sarjana sekarang tidak tangguh, cepat bosan, bertabiat seperti kutu loncat, tidak dapat bekerja sama, kurang jujur, tidak memiliki integritas, dan kurang rasa humor.
Tampaknya, apa yang diberikan di bangku kuliah tidak lagi sesuai dengan apa yang dibutuhkan di lapangan kerja. Sebagian besar menu yang disajikan, boleh dibilang berupa keterampilan keras (hard skills). Padahal, banyak bukti yang menunjukkan bahwa penentu kesuksesan justru keahlian yang tergolong lunak (soft skills).
Ketidakseimbangan itu, tentu saja perlu segera diatasi, antara lain dengan memberikan bobot yang lebih kepada pengembangan soft skills. Para pendidik, khususnya pendidikan tinggi, diharapkan mengembangkan soft skills, baik melalui intrakurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler. Peningkatan kompetensi lulusan berbasis soft skills sangat mendesak, karena, pertama, untuk memenuhi kebutuhan para pengguna lulusan perguruan tinggi di dunia kerja dengan orientasi produktivitas tinggi.
Kedua, untuk mewarnai dunia kerja ke arah perbaikan karakter bangsa. Hal itu diperlukan dengan alasan, fakta bahwa sejak dahulu belum terwujud kejayaan bangsa di bidang ekonomi, hukum, politik, dan moral. Ratusan ribu sarjana ekonomi dihasilkan tiap tahun, namun ekonomi masih belum membaik. Begitu pula ratusan ribu sarjana hukum dihasilkan tiap tahun, tetapi hukum masih belum menemukan bentuk, dan seterusnya.
SUMBER :
http://catur.dosen.akprind.ac.id/2009/01/19/pentingnya-softskill-bagi-mahasiswa/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar