Gangguan Disintegratif masa anak-anak
a. Definisi
Blog ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas kuliah psikologi anak khusus. Gangguan Disintegratif merupakan salah satu gangguan pervasif pada anak-anak. Gangguan ini dikenal juga sebagai sindroma Heller dan psikosis disintegratif, dijelaskan pertama kali pada tahun 1908. Prevalensi kejadian kira-kira 1 dari 100.000 anak laki-laki.
b. Kriteria diagnostik
Adapun kriteria diagnostik gangguan disintegratif masa anak-anak seperti dijelaskan dalam DSM-IV adalah sebagai berikut:
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Disintegratif Masa Anak-Anak
A. Pertumbuhan yang tampaknya normal selama sekurangnya dua tahun pertama setelah lahir seperti yang ditunjukkan oleh adanya komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai dengan usia, hubungan sosial, permainan dan perilaku adaptif.
B. Kehilangan bermakna secara klinis keterampilan yang telah dicapai sebelumnya (sebelum usia 10 tahun) dalam sekurangnya bidang berikut:
1) Bahasa ekspresif atau reseptif
2) Keterampilan sosial atau perilaku adaptif.
3) Pengendalian usus atau kandung kemih.
4) Bermain.
5) Keterampilan motorik.
C. Kelainan fungsi dalam sekurangnya dua bidang berikut:
1) Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial (misalnya, gangguan dalam perilaku non verbal, gagal untuk mengembangkan hubungan teman sebaya, tidak ada timbal balik sosial atau emosiaonal).
2) Gangguan kualitatif dalam komunikasi (misalnya, keterlambatan atau tidak adanya bahasa ucapan, ketidak mampuan untuk memulai atau mempertahankan suatu percakapan, pemakaian bahasa yang stereotipik dan berulang, tidak adanya berbagai permainan khayalan).
3) Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang dan stereotipik, termasuk stereotipik dan manerisme motorik.
D. Gangguan tidak diterangkan lebih baik oleh gangguan perkembangan pervasif spesifik lain atau oleh skizofrenia.
c. Terapi
1. modifikasi perilaku,
2. kejutan listrik,
3. konseling orang tua, anak, dan guru,
4. penggunaan obat psikotropika.
Selasa, 13 April 2010
tugaz anak khusus tentang autis
1. DEFINISI AUTISME
Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah
pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum ( 1982), autisme berarti preokupasi
terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak
berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau
realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang
yang hidup di “alamnya” sendiri.
© 2003 Digitized by USU digital library
1
Autisme atau autisme infantil ( Early Infantile Autism) pertama kali
dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 ( dalam Budiman, 1998) seorang psikiatris
Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis
pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri
yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-
olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk
menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.
Pada awalnya istilah “autisme” diambilnya dari gangguan schizophrenia,
dimana Bleuer memakai autisme ini untuk menggambarkan perilaku pasien
skizofrenia yang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya
sendiri. Namun ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari autisme pada
penderita skizofrenia dengan penyandang autisme infantile. Pada skizofrenia,
autisme disebabkan dampak area gangguan jiwa yang didalamnya terkandung
halusinasi dan delusi yang berlansung minimal selama 1 bulan, sedangkan pada
anak-anak dengan autisme infantile terdapat kegagalan dalam perkembangan
yang tergolong dalam kriteria Gangguan Pervasif dengan kehidupan autistik
yang tidak disertai dengan halusinasi dan delusi ( DSM IV, 1995 ).
2. GEJALA-GEJALA AUTISME
Gejala autisme infantile timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun.
Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir.
Seorang ibu yang cermat dapat melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya
mencapai usia satu tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya kontak mata
dan kurangnya minat untuk berinteraksi dengan orang lain.
Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal,
seorang bayi mulai bisa berinteraksi dengan ibunya pada usia 3 - 4 bulan.
Bila ibu merangsang bayinya dengan menggerincingkan mainan dan mengajak
berbicara, maka bayi tersebut akan berespon dan bereaksi dengan ocehan serta
gerakan. Makin lama bayi makin responsive terhadap rangsang dari luar seiring
dengan berkembangnya kemampuan sensorik. Pada umur 6-8 bulan ia sudah bisa
berinteraksi dan memperhatikan orang yang mengajaknya bermain dan berbicara.
Hal ini tidak muncul atau sangat kurang pada bayi autistik. Ia bersikap acuh tidak
acuh dan seakan-akan menolak interaksi dengan orang lain. Ia lebih suka bermain
dengan “dirinya sendiri” atau dengan mainannya. Berikut ini diuraikan indikator
perkembangan yang normal pada masa bayi :
Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas
saat anak telah mencapai usia 3 tahun, ( Budiman, 1998) yaitu:
1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat
bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat
dimengerti , echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa ia mengerti
maknanya, dstnya.
2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata,
tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain
sendiri, dstnya.
3. Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang
berlebih ( excessive ) dan kekurangan ( deficient ) seperti impulsif, hiperaktif,
repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan
permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada kelekatan pada
benda tertentu seperti gambar, karet, dll yang dibawanya kemana-mana.
4. Gangguan pada bidang perasaan/emosi, seperti kurangnya empati, simpati,
dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang
nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang
ia inginkan.
5. Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit
mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup
telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dsbnya.
Gejala –gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme,
tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.
PENYEBAB AUTISME
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa dalam catatan pakar autis
( Nakita, 2002 ) jumlah penyandang autisme dibandingkan dengan jumlah kelahiran
normal dari tahun ketahun meningkat tajam sehingga ditahun 2001 lalu sudah
mencapai 1 dari 100 kelahiran. Peningkatan yang tajam ini tentunya menimbulkan
pertanyaan, ada perubahan apa dalam rentang waktu tersebut sehingga kasus
terjadinya autisme bisa meningkat tajam tidak saja di Indonesia tetapi juga di
berbagai negara.
4.1. FAKTOR PSIKOGENIK
Ketika autisme pertamakali ditemukan tahun 1943 oleh Leo Kanner, autisme
diperkirakan disebabkan pola asuh yang salah. Kasus-kasu perdana banyak
ditemukan pada keluarga kelas menengah dan berpendidikan,` yang orangtuanya
bersikap dingin dan kaku pada anak. Kanner beranggapan sikap keluarga tersebut
kurang memberikan stimulasi bagi perkembangan komunikasi anak yang akhirnya
© 2003 Digitized by USU digital library
5
menghambat perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak.
Pendapat Kanner ini disebut dengan teori Psikogenik yang menerangkan penyebab
autisme dari factor-faktor psikologis, dalam hal ini perlakuan/ pola asuh orangtua.
Namun penelitian-penelitian selanjutnya tidak menyepakati pendapat Kanner.
Alasannya, teori psikogenik tidak mampu menjelaskan ketertinggalan perkembangan
kognitif, tingkah laku maupun komunikasi anak autis. Penelitian-penelitian
selanjutnya lebih memfokuskan kaitan factor-faktor organik dan lingkungan sebagai
penyebab autis. Kalau semula penyebabnya lebih pada faktor psikologis, maka saat
ini bergeser ke factor organik dan lingkungan.
4.2. FAKTOR BIOLOGIS DAN LINGKUNGAN
Seperti gangguan perkembangan lainnya, autisme dipandang sebagai
gangguan yang memiliki banyak sebab dan antara satu kasus dengan kasus lainnya
penyebabnya bisa tidak sama. Penelitian tentang faktor organik menunjukkan
adanya kelainan/keterlambatan dalam tahap perkembangan anak autis sehingga
autisme kemudian digolongan sebagai gangguan dalam perkembangan (
developmental disorder) yang mendasari pengklasifikasian dan diagnosis dalam
DSM IV.
Hasil pemeriksaan laboratorium, juga MRI dan EEG tidak memberikan
gambaran yang khas tentang penyandang autisme, kecuali pada penyandang
autisme yang disertai dengan gangguan kejang. Temuan ini kemudian mengarahkan
dugaan neurologis terjadi pada abnormalitas fungsi kerja otak, dalam hal ini
neurotransmitter yang berbeda dari orang normal.
Neuro transmitter merupakan cairan kimiawi yang berfungsi menghantarkan
impuls dan menerjemahkan respon yang diterima. Jumlah neurotransmitter pada
penyandang autisme berbeda dari orang normal dimana sekitar 30-50% pada
penderita autisme terjadi peningkatan jumlah serotonin dalam darah (Nikita,2002).
Selanjutnya, penelitian kemudian mengarahkan perhatian pada faktor biologis,
diantaranya kondisi lingkungan, kehamilan ibu, perkembangan perinatal, komplikasi
persalinan, dan genetik.
Kondisi lingkungan seperti kehadiran virus dan zat-zat kimia/ logam dapat
mengakibatkan munculnya autisme ( http://www.autism society org, 2002). Zat-zat
beracun seperti timah ( Pb) dari asap knalpot mobil, pabrik dan cat tembok;
kadmium (Cd) dari batu baterai serta turunan air raksa ( Hg) yang digunakan
sebagai bahan tambalan gigi ( Amalgam).
Apabila tambalan gigi digunakan pada calon ibu, amalgam akan menguap
didalam mulut dan dihirup oleh calon ibu dan disimpan dalam tulang. Ketika ibu
hamil, terbentuklah tulang anak yang berasal dari tulang ibu yang sudah
mengandung logam berat. Selanjutnya proses keracunan logam beratpun terjadi
pada saat pemberian Asi dimana logam yang disimpan ibu ikut dihisap bayi saat
menyusui. Sebuah vaksin, MMR ( Measles, Mumps & Rubella) awalnya juga
diperkirakan menjadi penyebab autisme pada anak akibat anak tidak kuat menerima
campuran suntikan tiga vaksin sekaligus sehingga mereka mengalami kemunduran
dan memperlihatkan gejala autisme.
Sampai saat ini diduga faktor genetik berpengaruh kuat atas munculnya
kasus autisme. Dari penelitian pada saudara sekandung ( siblings) anak penyandang
autisme terungkap mereka mempunyai peningkatan kemungkinan sekitar 3 %
© 2003 Digitized by USU digital library
6
untuk dinyatakan autis. Sementara penelitian pada anak kembar juga didapat hasil
yang mendukung. Sayangnya harus diakui populasi anak kembar sendiri memang
tidak banyak di masyarakat sehingga menggunakan sample kecil . Penelitian pada
kembar identik 1 telur menunjukkan bahwa mereka memiliki kemungkinan yang
lebih besar untuk diagnosis autis bila saudara kembarnya autis ( Nikita, 2002).
Beberapa faktor lainnya yang juga telah diidentifikasi berasosiasi dengan
autisme diantaranya adalah usia ibu ( makin tinggi usia ibu, kemungkinan
menyandang autis kian besar ), urutan kelahiran, pendarahan trisemester pertama
dan kedua serta penggunaan obat yang tak terkontrol selama kehamilan.
5. PERKEMBANGAN GANGGUAN AUTISME
Cerita tentang Temple Grandin ( dalam Wenar, 1994) :
Temple Grandin adalah seorang wanita autism yang penuh perjuangan. Ia berhasil
mendapatkan gelar Doktor Ilmu Hewan. Sekarang ini ia mengajar disebuah
universitas, menulis beberapa buku tentang ilmu hewan, autisme dan kehidupan
pribadinya. Pada usia 6 bulan, Temple mulai menunjukkan tanda- tanda autisme.
Ketika digendong, ia terkesan memberontak dan ingin diletakan. Pada usia 2 tahun,
terlihat jelas bahwa ia hipersensitif terhadap rasa, suara, bau dan sentuhan. Suara
dan pakaian tertentu menimbulkan siksaan baginya. Akibat hipersensitif ini ia sering
berteriak, marah dan melempar segala sesuatu. Namun ketertarikannya yang
ekslusif terhadap barang-barang/ benda tertentu seperti tangannya sendiri, apel,
koin atau pasir membuat ia dapat menarik diri dari lingkungannya selama beberapa
lama. Sebagaimana umumnya pada waktu itu, dokter menyarankannya untuk
dirawat di rumah sakit atau institusi. Namun Ibunya menolak dan hanya
memasukkannya ke terapi bicara. Kelasnya terbatas dan terstruktur. Meski metode
pendidikan tidak didesain untuk autisme, namun terapi ini berpengaruh bagi
perkembangan Temple. Pada usia 4 tahun ia mulai bicara dan pada usia 5 tahun ia
mampu untuk masuk Tk biasa. Temple menyatakan bahwa keberhasilan
perkembangannya dipengaruhi oleh orang-orang penting dalam hidupnya seperti
ibunya yang tidak henti-henti mencari pertolongan; terapisnya yang tetap
menjaganya agar tidak menarik diri ke dunianya sendiri dan guru SLTA nya yang
membantunya mengembangkan ketertarikannya pada binatang ke ilmuan.
Cerita Temple Grandin ini menunjukkan bahwa penderita autisme tidak selalu
menyebabkan ia tidak mampu mengembangkan potensi dirinya.
Umumnya orang memperkirakan gangguan perkembangan yang parah akan
berdampak bagi perkembangan individu selanjutnya pada masa-yang akan datang.
Namun ternyata 10 % dari penyandang autism mampu hidup dengan baik pada
masa dewasa, mereka memiliki pekerja, berkeluarga (Wenar, 1994). Namun
memang 60 % menunjukkan ketergantungan sepenuhnya pada keseluruhan aspek
kehidupan. Ketidak mampuan komunikasi yang terus berlanjut setelah usia 5 tahun
dan IQ dibawah 60 menunjukkan prognosa yang kurang menggembirakan. Namun
penyandang autisme yang mampu berbicara sebelum usia 5 tahun dan memiliki
tingkat intelegensi rata rata ( average ) memiliki kemungkinan meningkatkan
kemampuan penyesuaian dirinya.
Pada penyandang autisme, tanda-tanda hambatan perkembangan telah mulai
tampak pada masa bayi ( Miller dalam Wenar, 1994) seperti kurangnya kontak
mata, kurangnya reaksi pada saat akan digendong, kurang mampu tersenyum meski
pada orang terdekatnya, kecemasan yang aneh dan kekurang mampuan bermain
© 2003 Digitized by USU digital library
7
“cilukba”. Tubuh bayi juga terkesan “kaku” sehingga sulit untuk direngkuh dalam
pelukan.
Pada masa kanak-kanak dan prasekolah, penyandang autisme kurang
menunjukkan respon sosial yang positif. Anak kurang lekat pada orangtua, ia tidak
mengikuti orangtua jika pergi, jarang mengekspresikan kasih sayang atau mencari
perlindungan bila terluka bahkan cenderung menarik diri dan menghindar.
Selanjutnya penguasaannya akan bahasa dan pemahaman komunikasi juga
mengalami hambatan. Tidak ada komunikasi timbal balik dengan orang lain. Selain
itu anak juga kurang mampu melakukan “imitasi sosial” atau meniru perilaku orang
lain pada usianya. Kemampuannya untuk bermainnya juga terbatas pada bermain
sendiri ( solitary play ) dan permainan tersebut cenderung terbatas dan diulang-
ulang secara kaku.
Pada pertengahan masa kanak-kanak, anak penyandang autisme
menunjukkan kecenderungan untuk tidak berteman, tidak kooperatif dan kurang
mampu berempati pada orang lain. Respon sosial mereka terkesan aneh dan kurang
pada tempatnya sehingga mereka mengalami masalah dalam penyesuaian sosialnya.
Aktivitasnya bersifat ritualistik dan rutin serta mereka mengalami stress jika terjadi
perubahan dari aktivitas biasa yang dilakukan.
Selanjutnya menurut Kanner, Rodriquest dan Ansheden (dalam Wenar,1994)
masa remaja merupakan masa perkembangan yang paling dramatik. Periode ini
dapat merupakan masa yang menunjukkan perbaikan yang signifikan. Beberapa
remaja mulai menyadari bahwa tingkah lakunya menyimpang dan secara sadar
berusaha memperbaiki diri dan tampil sesuai dengan perilaku sosial yang
diharapkan. Sekitar 5 – 15 persen anak autistik mampu mencapai kemampuan
penyesuaian sosial yang diharapkan dengan atau tanpa terapi. Meski dalam
berkomunikasi, vokalisasinya masih belum sempurna namun sudah cukup dapat
dipahami. Memang mereka tetap kurang mampu menunjukkan empati dan peran
seksual yang sesuai, namun sisi positifnya dalah mereka kaku dalam memegang
aturan dan mampu masuk kelingkungan sosial yang birokratis. Namun disisi lain,
mayoritas anak autisme akan terus berkembang dengan gangguan perkembangan
yang parah. Mereka tetap hidup dalam alamnya sendiri namun tidak menjadi
schizophrenia dalam arti mengalami delusi dan halusinasi.
6. PENEGAKAN DIAGNOSA AUTISME
Penegakan diagnosa yang tepat akan menghasilkan intervensi dan treatmen
yang tepat, oleh karena itu penting sekali penegakan diagnosa dilakukan secara teliti
dan akurat. Pemeriksaan terhadap anak penyandang autisme secara terpadu perlu
dilakukan. Tim yang terdiri dari ahli psikologi anak, dokter anak, dokter neurologis
serta ahli pendidikan perlu duduk bersama dalam menangani kasus ini.
.
6.1 Tes –tes psikologi
6.1.1 Tes
PEP-R
Berdasarkan pengalaman Sleeuwen ( 1996) , tes khusus untuk anak autistik
disebut dengan Psycho Educational Profile Revised ( PEP-R). Tes tersebut
dikembangkan oleh di Teacch, sebuah program pendidikan khusus untuk anak autis.
Tes ini digunakan untuk anak autistik atau yang terganggu perkembangannya dan
dipakai pada anak-anak dengan usia kronologis 6 bulan sampai dengan 7 tahun.
© 2003 Digitized by USU digital library
8
Tes PEP-R ini memberikan informasi tentang fungsi perkembangan seperti
imitasi, persepsi, ketrampilan motorik halus, ketrampilan motorik kasar, korrdinasi
mata dan tangan, performansi kognitif dan kognisi verbal, Tes PEP-R juga dapat
mendeteksi masalah-masalah dalam hal relasi dan afeksi, permainan dan minat
terhadap benda dan respon penginderaan dan bahasa. Skor PEP-R digunakan untuk
membuat rencana pendidikan individual anak sehingga guru dapat tertolong dalam
menangani anak autistik.
6.1.2 Vineland Social Maturity Scale
Skala Kematangan Sosial Vineland biasanya juga digunakan sebagai data
tambahan untuk mendukung diagnosa. Semua versi dari Vineland ( dalam Anastasi,
1997 ) terfokus pada apa yang biasa dilakukan individu dan dirancang untuk menilai
prilaku adaptif. Data diperoleh berdasarkan observasi dan wawancara orangtua. Tes
Vineland mengklasifikasikan empat domain/ranah adaptif utama yaitu ranah
komunikasi, ranah ketrampilan sehari-hari, ranah sosialisasi, ranah ketrampilan
motorik yang kemudian disertai dengan komposit perilaku adaptif dan maladaptif.
Hasil tes Vineland penyandang autis berada pada kriteria kematangan sosial yang
jauh dibawah rata-rata anak seusianya.
6.2. Diagnosa berdasarkan kriteria DSM IV
Pada uraian terdahulu ( hal. 8 ) telah dijelaskan bahwa autisme tergolong dalam
gangguan perkembangan pervasive dan dalam penegakan diagnosa didasarkan pada
adanya hambatan pada 3 bidang utama yaitu interaksi sosial, komunikasi dan
tingkah laku yang repetitive dan berulang. Selain itu dalam penegakan diagnosa
autisme perlu diperhatikan:
a. Diagnosa yang berhubungan dan mental retardasi.
Dalam beberapa kasus, autisme berhubungan dengan mental retardasi,
umumnya pada kriteria Moderate Mental Retarded, IQ 35 – 50 (DSM IV, 1995).
Hampir 75% penyandang autisme berada pada taraf intelegensi mental retardasi.
Terjadi abnormalitas dalam perkembangan kognitif penyandang autisme.
Sementara menurut Sleeuwen (1996) sekitar 60 % anak-anak autistik menderita
retardasi mental tingkat moderate ( IQ 35- 50) dan 20 % anak mengalami mental
retardasi ringan sedangkan 20 % lainnya tidak mengalami mental retardasi dan
memiliki IQ > 70 ( normal ). Beberapa anak memiliki apa yang disebut “ pulau
intelegensi” yang artinya mereka memiliki bakat khusus di bidang-bidang tertentu
seperti musik, berhitung, menggambar, dsbnya.
Selanjutnya Sleeuwen menyatakan dalam mendeteksi mental retardasi pada
anak autis dapat dilihat dari kemampuan umum anak yang jauh di bawah rata-rata
anak seusianya ( terbelakang ) dan hambatan dalam komunikasi serta pemahaman
sosial. Epilepsi yang menyertai juga berkaitan dengan kapasitas intelegensi yang
rendah, namun 1 dari 20 anak yang mengalami epilepsi memiliki fungsi mental yang
cukup baik. Retardasi mental dan autisme muncul bersamaan dari awal.
b. Hubungannya dengan hasil laboratorium
Jika autisme dikaitkan dengan kondisi kesehatan umum, ditemukan bahwa ada
perbedaan aktivitas serotonin namun tidak begitu jelas terlihat. Namun hasil
pemeriksaan EEG menunjukkan abnormalitas. ( DSM IV, 1996 )
c. Hubungannya dengan kondisi kesehatan umum
Beberapa simptom kelainan neurologis terlihat pada penyandang autis, seperti
refleks yang primitif, keterlambatan penggunaan tangan yang dominan, dsbnya.
© 2003 Digitized by USU digital library
9
Kondisi ini berkaitan dengan kondisi kesehatan umum seperti enchepalitis,
phenylketonuria, fragile X syndrome, anoxia saat kelahiran dan maternal rubella).
6.3.Diagnosa berdasarkan hasil pemeriksaan medis - neurologis
Seperti telah dikemukakan terdahulu, factor biologis diperkirakan juga
memberikan andil bagi berkembangkany gangguan autisme pada anak. Oleh karena
itu untuk mendukung penegakan diagnosa diperlukan pemeriksaan kesehatan dan
neurologis yang lengkap dan terpadu.
Selain diagnosa autisme, menurut dr. Rudi Sutadi (1998) terdapat juga
pengklasifikasian berat-ringannya autisme dengan menggunakan CARS ( Childhood
Autisme Rating Scale ). Untuk keperluan ilmiah, klasifikasi ini bermanfaat. Namun
disarankan untuk hati-hati dalam penggunaan klasifikasi ringan-sedang-berat ini
disebabkan untuk penanganan autis sampai saat ini peringkat tersebut tidak
dikaitkan dengan perbedaan prognosis dan intervensi. Intervensi autisme pada
klasifikasi manapun tetap sama yaitu intervensi (terutama tata laksana perilaku)
yang terpadu dan optimal.
Kehati-hatian penggunaan peringkat ini juga disebabkan pengaruhnya pada
orangtua penyandang autisme. Bila anak didiagnosis menderita autisme ringan,
dapat menimbulkan kelengahan pada orangtua untuk melaksanakan tatalaksana
yang optimal. Sedangkan bagi mereka yang dinyatakan berat, mungkin saja merkea
menjadi depresi dan putus asa sehingga tidak berbuat apa-apa pada anak mereka.
7. PENANGANAN ANAK AUTIS
Pertanyaan yang sering dilontarkan orang tua adalah apakah anaknya dapat
secara total bebas dari autisme. Agak sulit untuk menerangkan pada orang tua
bahwa autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan
( not curable ), namun bisa diterapi ( treatable ). Maksudnya kelainan yang terjadi
pada otak tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi
semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya bisa berbaur dengan anak-
anak lain secara normal. ( Wenar, 1994 )
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor ( Budiman, 1998 ) yaitu :
a. berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak.
b. usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat
dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
c. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
d. Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara seumur
hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang
berbeda-beda. Mereka dengan kemampuan bicara yang baik mempunyai
prognosis yang lebih baik.
e. Terapi yang intensif dan terpadu.
7.1. TERAPI YANG TERPADU
Penanganan / intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan
dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4 – 8
jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi
dengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan kerjasama tim yang
terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog
neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik.
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain :
© 2003 Digitized by USU digital library
10
a. Terapi medikamentosa
b. Terapi psikologis
c. Terapi wicara
d. Fisioterapi
7.1.1. Terapi medikamentosa
Menurut dr. Melly Budiman ( 1998) , pemberian obat pada anak harus didasarkan
pada diagnosis yang tepat, pemakaian obat yang tepat, pemantauan ketat terhadap
efek samping dan mengenali cara kerja obat. Perlu diingat bahwa setiap anak
memiliki ketahanan yang berbeda-beda terhadap efek obat, dosis obat dan efek
samping. Oleh karena itu perlu ada kehati-hatian dari orang tua dalam pemberian
obat yang umumnya berlangsung jangka panjang.
Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga
diberika obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat antidepressan SSRI (
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor ) yang bisa memberikan keseimbangan
antara neurotransmitter serotonin dan dopamine. Yang diinginkan dalam pemberian
obat ini adalah dosis yang paling minimal namun paling efektif dan tanpa efek
samping. Pemakaian obat akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak
terhadap lingkungan sehingga ia lebih mudah menerima tata laksana terapi lainnya.
Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat dapat dikurangi
bahkan dihentikan.
7.1.2. Terapi psikologis
Dalam penanganan autisme, seringkali perkembangan kemampuan berjalan lambat
dan mudah hilang ( Wenar,1994 ). Umumnya intervensi difokuskan pada
meningkatkan kemampuan bahasa dan komunikasi, self-help dan perilaku sosial dan
mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki seperti melukai diri sendiri ( self
mutilation ), temper tantrum dengan penekanan pada peningkatan fungsi individu
dan bukan “menyembuhkan” dalam arti mengembalikan penyandang autis ke posisi
normal.
Rutter ( dalam Wenar, 1994 ) membuat pendekatan yang komprehensif
dalam intervensi autisme yang memiliki tujuan :
- membantu perkembangan kognitif, bahasa dan sosial yang normal
- meningkatkan kemampuan belajar anak autistik
- mengurangi kekakuan dan perilaku stereotype dengan meningkatkan
interaksi penyandang autis dengan orang lain dan tidak membiarkannya
“hidup sendiri” . Interaksi yang kurang justru akan menyebabkan munculnya
perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki. Dalam hal ini pemberian mainan
yang bervariasi juga dapat mengurangi kekakuan ini.
- mengurangi perilaku maladaptive seperti temper tantrum dan melukai diri
sendiri
- mengurangi stress pada keluarga penderita autisme
Selanjutnya, Lieke Van Sleeuwen ( 1996 ) menyatakan intervensi psikologis
anak-anak autistik harus terfokus pada :
- memberikan stimulasi spesifik dan latihan untuk mengkompensasikan
keterlambatan perkembangan secara menyeluruh
- memutuskan atau mengurangi perilaku yang sulit ditangani oleh lingkungan
yang menghambat proses belajar sosial dan pendidikan
- mencegah timbulnya gangguan sekunder yang mungkin muncul sebagai efek
dari gangguan utama.
© 2003 Digitized by USU digital library
11
Ketiga hal ini hanya dapat dilaksanakan pada lingkungan yang sangat
terstruktur dan teratur dengan baik. Anak autistik memiliki pola berpikir yang
berbeda, mereka mengalami kesulitan memahami lingkungannya. Oleh karena itu
memberikan lingkungan terstruktur merupakan titik awal dalam proses intervensi
penyandang autis. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sbb :
a. Keteraturan waktu dan tempat
yaitu : jadwal harian yang tetap dan ruang yang pasti. Namun tidak berarti
bahwa segala sesuatu harus terjadi dengan cara yang sama. Perubahan-
perubahan kecil juga diperlukan agar anak autis dapat meningkatkan
fleksibilitas mereka.
b. Berhubung adanya kesulitan berpikir dan bertingkah laku pada anak autis,
maka perlu merangsang dan melatih anak melalui berbagai aspek yang
disesuaikan dengan minat yang dimiliki anak.
c. Pengajaran dilakukan secara bertahap dan bila memungkinkan menggunakan
alat peraga
d. Proses pendidikan berlangsung secara individual ( khusus ). Anak autis tidak
memiliki ketrampilan sosial yang diperlukan untuk belajar dalam situasi
kelompok. Oleh karena itu, pendekatan individual diberikan pada anak
termasuk didalamnya individual play training. Training bermain ini merupakan
terapi yang mengajari anak bermain dan membimbing anak ke dalam
berbagai kemungkinan fungsional suatu mainan. Contohnya seperti sebuah
mobil tidak hanya merupakan benda dengan roda yang berjalan tetapi juga
dapat disetir dan mengangkut orang dan benda-benda lain.
Seperti halnya Rutter yang menekankan perlunya mengatasi stress pada
keluarga, Sleeuwen ( 1996 ) juga menekankan pentingnya konseling keluarga.
Setelah seorang anak didiagnosa autisme, adalah penting bahwa tidak hanya anak
tersebut yang mendapatkan pertolongan, namun juga orang tua. Orang tua perlu
diberikan pengertian mengenai kondisi anak dan mampu menerima anak mereka
yang menderita autis. Mereka juga dilibatkan dalam proses terapi ( Home training ).
Konsep yang ada dalam home training ini adalah orang tua belajar dan dilatih untuk
dapat melakukan sendiri terapi yang dilakukan psikolog/terapis. Terapi tidak hanya
dilakukan oleh terapis tetapi juga oleh keluarga di rumah. Terapi yang intensif akan
meminimalisir kemungkinan hilangnya kemampuan yang telah dilatih dan dikuasai
anak.
7.1.3. Terapi Wicara
Umumnya hampir semua penyandang autisme menderita gangguan bicara dan
berbahasa. Oleh karena itu terapi wicara pada penyandang autisme merupkan
keharusan. Penanganannya berbeda dengan penderita gangguan bicara oleh sebab
lain. Salah seorang tokoh yang mengembangkan terapi bicara ini adalah Lovaas pada
tahun 1977 yang menggunakan pendekatan behaviouris - model operant
conditioning ( dalam Wenar, 1994 ). Anak yang mengalami hambatan bicara dilatih
dengan proses pemberian reinforcement dan meniru vokalisasi terapis.
Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah
pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum ( 1982), autisme berarti preokupasi
terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak
berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau
realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang
yang hidup di “alamnya” sendiri.
© 2003 Digitized by USU digital library
1
Autisme atau autisme infantil ( Early Infantile Autism) pertama kali
dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 ( dalam Budiman, 1998) seorang psikiatris
Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis
pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri
yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-
olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk
menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.
Pada awalnya istilah “autisme” diambilnya dari gangguan schizophrenia,
dimana Bleuer memakai autisme ini untuk menggambarkan perilaku pasien
skizofrenia yang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya
sendiri. Namun ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari autisme pada
penderita skizofrenia dengan penyandang autisme infantile. Pada skizofrenia,
autisme disebabkan dampak area gangguan jiwa yang didalamnya terkandung
halusinasi dan delusi yang berlansung minimal selama 1 bulan, sedangkan pada
anak-anak dengan autisme infantile terdapat kegagalan dalam perkembangan
yang tergolong dalam kriteria Gangguan Pervasif dengan kehidupan autistik
yang tidak disertai dengan halusinasi dan delusi ( DSM IV, 1995 ).
2. GEJALA-GEJALA AUTISME
Gejala autisme infantile timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun.
Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir.
Seorang ibu yang cermat dapat melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya
mencapai usia satu tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya kontak mata
dan kurangnya minat untuk berinteraksi dengan orang lain.
Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal,
seorang bayi mulai bisa berinteraksi dengan ibunya pada usia 3 - 4 bulan.
Bila ibu merangsang bayinya dengan menggerincingkan mainan dan mengajak
berbicara, maka bayi tersebut akan berespon dan bereaksi dengan ocehan serta
gerakan. Makin lama bayi makin responsive terhadap rangsang dari luar seiring
dengan berkembangnya kemampuan sensorik. Pada umur 6-8 bulan ia sudah bisa
berinteraksi dan memperhatikan orang yang mengajaknya bermain dan berbicara.
Hal ini tidak muncul atau sangat kurang pada bayi autistik. Ia bersikap acuh tidak
acuh dan seakan-akan menolak interaksi dengan orang lain. Ia lebih suka bermain
dengan “dirinya sendiri” atau dengan mainannya. Berikut ini diuraikan indikator
perkembangan yang normal pada masa bayi :
Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas
saat anak telah mencapai usia 3 tahun, ( Budiman, 1998) yaitu:
1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat
bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat
dimengerti , echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa ia mengerti
maknanya, dstnya.
2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata,
tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain
sendiri, dstnya.
3. Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang
berlebih ( excessive ) dan kekurangan ( deficient ) seperti impulsif, hiperaktif,
repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan
permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada kelekatan pada
benda tertentu seperti gambar, karet, dll yang dibawanya kemana-mana.
4. Gangguan pada bidang perasaan/emosi, seperti kurangnya empati, simpati,
dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang
nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang
ia inginkan.
5. Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit
mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup
telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dsbnya.
Gejala –gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme,
tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.
PENYEBAB AUTISME
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa dalam catatan pakar autis
( Nakita, 2002 ) jumlah penyandang autisme dibandingkan dengan jumlah kelahiran
normal dari tahun ketahun meningkat tajam sehingga ditahun 2001 lalu sudah
mencapai 1 dari 100 kelahiran. Peningkatan yang tajam ini tentunya menimbulkan
pertanyaan, ada perubahan apa dalam rentang waktu tersebut sehingga kasus
terjadinya autisme bisa meningkat tajam tidak saja di Indonesia tetapi juga di
berbagai negara.
4.1. FAKTOR PSIKOGENIK
Ketika autisme pertamakali ditemukan tahun 1943 oleh Leo Kanner, autisme
diperkirakan disebabkan pola asuh yang salah. Kasus-kasu perdana banyak
ditemukan pada keluarga kelas menengah dan berpendidikan,` yang orangtuanya
bersikap dingin dan kaku pada anak. Kanner beranggapan sikap keluarga tersebut
kurang memberikan stimulasi bagi perkembangan komunikasi anak yang akhirnya
© 2003 Digitized by USU digital library
5
menghambat perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak.
Pendapat Kanner ini disebut dengan teori Psikogenik yang menerangkan penyebab
autisme dari factor-faktor psikologis, dalam hal ini perlakuan/ pola asuh orangtua.
Namun penelitian-penelitian selanjutnya tidak menyepakati pendapat Kanner.
Alasannya, teori psikogenik tidak mampu menjelaskan ketertinggalan perkembangan
kognitif, tingkah laku maupun komunikasi anak autis. Penelitian-penelitian
selanjutnya lebih memfokuskan kaitan factor-faktor organik dan lingkungan sebagai
penyebab autis. Kalau semula penyebabnya lebih pada faktor psikologis, maka saat
ini bergeser ke factor organik dan lingkungan.
4.2. FAKTOR BIOLOGIS DAN LINGKUNGAN
Seperti gangguan perkembangan lainnya, autisme dipandang sebagai
gangguan yang memiliki banyak sebab dan antara satu kasus dengan kasus lainnya
penyebabnya bisa tidak sama. Penelitian tentang faktor organik menunjukkan
adanya kelainan/keterlambatan dalam tahap perkembangan anak autis sehingga
autisme kemudian digolongan sebagai gangguan dalam perkembangan (
developmental disorder) yang mendasari pengklasifikasian dan diagnosis dalam
DSM IV.
Hasil pemeriksaan laboratorium, juga MRI dan EEG tidak memberikan
gambaran yang khas tentang penyandang autisme, kecuali pada penyandang
autisme yang disertai dengan gangguan kejang. Temuan ini kemudian mengarahkan
dugaan neurologis terjadi pada abnormalitas fungsi kerja otak, dalam hal ini
neurotransmitter yang berbeda dari orang normal.
Neuro transmitter merupakan cairan kimiawi yang berfungsi menghantarkan
impuls dan menerjemahkan respon yang diterima. Jumlah neurotransmitter pada
penyandang autisme berbeda dari orang normal dimana sekitar 30-50% pada
penderita autisme terjadi peningkatan jumlah serotonin dalam darah (Nikita,2002).
Selanjutnya, penelitian kemudian mengarahkan perhatian pada faktor biologis,
diantaranya kondisi lingkungan, kehamilan ibu, perkembangan perinatal, komplikasi
persalinan, dan genetik.
Kondisi lingkungan seperti kehadiran virus dan zat-zat kimia/ logam dapat
mengakibatkan munculnya autisme ( http://www.autism society org, 2002). Zat-zat
beracun seperti timah ( Pb) dari asap knalpot mobil, pabrik dan cat tembok;
kadmium (Cd) dari batu baterai serta turunan air raksa ( Hg) yang digunakan
sebagai bahan tambalan gigi ( Amalgam).
Apabila tambalan gigi digunakan pada calon ibu, amalgam akan menguap
didalam mulut dan dihirup oleh calon ibu dan disimpan dalam tulang. Ketika ibu
hamil, terbentuklah tulang anak yang berasal dari tulang ibu yang sudah
mengandung logam berat. Selanjutnya proses keracunan logam beratpun terjadi
pada saat pemberian Asi dimana logam yang disimpan ibu ikut dihisap bayi saat
menyusui. Sebuah vaksin, MMR ( Measles, Mumps & Rubella) awalnya juga
diperkirakan menjadi penyebab autisme pada anak akibat anak tidak kuat menerima
campuran suntikan tiga vaksin sekaligus sehingga mereka mengalami kemunduran
dan memperlihatkan gejala autisme.
Sampai saat ini diduga faktor genetik berpengaruh kuat atas munculnya
kasus autisme. Dari penelitian pada saudara sekandung ( siblings) anak penyandang
autisme terungkap mereka mempunyai peningkatan kemungkinan sekitar 3 %
© 2003 Digitized by USU digital library
6
untuk dinyatakan autis. Sementara penelitian pada anak kembar juga didapat hasil
yang mendukung. Sayangnya harus diakui populasi anak kembar sendiri memang
tidak banyak di masyarakat sehingga menggunakan sample kecil . Penelitian pada
kembar identik 1 telur menunjukkan bahwa mereka memiliki kemungkinan yang
lebih besar untuk diagnosis autis bila saudara kembarnya autis ( Nikita, 2002).
Beberapa faktor lainnya yang juga telah diidentifikasi berasosiasi dengan
autisme diantaranya adalah usia ibu ( makin tinggi usia ibu, kemungkinan
menyandang autis kian besar ), urutan kelahiran, pendarahan trisemester pertama
dan kedua serta penggunaan obat yang tak terkontrol selama kehamilan.
5. PERKEMBANGAN GANGGUAN AUTISME
Cerita tentang Temple Grandin ( dalam Wenar, 1994) :
Temple Grandin adalah seorang wanita autism yang penuh perjuangan. Ia berhasil
mendapatkan gelar Doktor Ilmu Hewan. Sekarang ini ia mengajar disebuah
universitas, menulis beberapa buku tentang ilmu hewan, autisme dan kehidupan
pribadinya. Pada usia 6 bulan, Temple mulai menunjukkan tanda- tanda autisme.
Ketika digendong, ia terkesan memberontak dan ingin diletakan. Pada usia 2 tahun,
terlihat jelas bahwa ia hipersensitif terhadap rasa, suara, bau dan sentuhan. Suara
dan pakaian tertentu menimbulkan siksaan baginya. Akibat hipersensitif ini ia sering
berteriak, marah dan melempar segala sesuatu. Namun ketertarikannya yang
ekslusif terhadap barang-barang/ benda tertentu seperti tangannya sendiri, apel,
koin atau pasir membuat ia dapat menarik diri dari lingkungannya selama beberapa
lama. Sebagaimana umumnya pada waktu itu, dokter menyarankannya untuk
dirawat di rumah sakit atau institusi. Namun Ibunya menolak dan hanya
memasukkannya ke terapi bicara. Kelasnya terbatas dan terstruktur. Meski metode
pendidikan tidak didesain untuk autisme, namun terapi ini berpengaruh bagi
perkembangan Temple. Pada usia 4 tahun ia mulai bicara dan pada usia 5 tahun ia
mampu untuk masuk Tk biasa. Temple menyatakan bahwa keberhasilan
perkembangannya dipengaruhi oleh orang-orang penting dalam hidupnya seperti
ibunya yang tidak henti-henti mencari pertolongan; terapisnya yang tetap
menjaganya agar tidak menarik diri ke dunianya sendiri dan guru SLTA nya yang
membantunya mengembangkan ketertarikannya pada binatang ke ilmuan.
Cerita Temple Grandin ini menunjukkan bahwa penderita autisme tidak selalu
menyebabkan ia tidak mampu mengembangkan potensi dirinya.
Umumnya orang memperkirakan gangguan perkembangan yang parah akan
berdampak bagi perkembangan individu selanjutnya pada masa-yang akan datang.
Namun ternyata 10 % dari penyandang autism mampu hidup dengan baik pada
masa dewasa, mereka memiliki pekerja, berkeluarga (Wenar, 1994). Namun
memang 60 % menunjukkan ketergantungan sepenuhnya pada keseluruhan aspek
kehidupan. Ketidak mampuan komunikasi yang terus berlanjut setelah usia 5 tahun
dan IQ dibawah 60 menunjukkan prognosa yang kurang menggembirakan. Namun
penyandang autisme yang mampu berbicara sebelum usia 5 tahun dan memiliki
tingkat intelegensi rata rata ( average ) memiliki kemungkinan meningkatkan
kemampuan penyesuaian dirinya.
Pada penyandang autisme, tanda-tanda hambatan perkembangan telah mulai
tampak pada masa bayi ( Miller dalam Wenar, 1994) seperti kurangnya kontak
mata, kurangnya reaksi pada saat akan digendong, kurang mampu tersenyum meski
pada orang terdekatnya, kecemasan yang aneh dan kekurang mampuan bermain
© 2003 Digitized by USU digital library
7
“cilukba”. Tubuh bayi juga terkesan “kaku” sehingga sulit untuk direngkuh dalam
pelukan.
Pada masa kanak-kanak dan prasekolah, penyandang autisme kurang
menunjukkan respon sosial yang positif. Anak kurang lekat pada orangtua, ia tidak
mengikuti orangtua jika pergi, jarang mengekspresikan kasih sayang atau mencari
perlindungan bila terluka bahkan cenderung menarik diri dan menghindar.
Selanjutnya penguasaannya akan bahasa dan pemahaman komunikasi juga
mengalami hambatan. Tidak ada komunikasi timbal balik dengan orang lain. Selain
itu anak juga kurang mampu melakukan “imitasi sosial” atau meniru perilaku orang
lain pada usianya. Kemampuannya untuk bermainnya juga terbatas pada bermain
sendiri ( solitary play ) dan permainan tersebut cenderung terbatas dan diulang-
ulang secara kaku.
Pada pertengahan masa kanak-kanak, anak penyandang autisme
menunjukkan kecenderungan untuk tidak berteman, tidak kooperatif dan kurang
mampu berempati pada orang lain. Respon sosial mereka terkesan aneh dan kurang
pada tempatnya sehingga mereka mengalami masalah dalam penyesuaian sosialnya.
Aktivitasnya bersifat ritualistik dan rutin serta mereka mengalami stress jika terjadi
perubahan dari aktivitas biasa yang dilakukan.
Selanjutnya menurut Kanner, Rodriquest dan Ansheden (dalam Wenar,1994)
masa remaja merupakan masa perkembangan yang paling dramatik. Periode ini
dapat merupakan masa yang menunjukkan perbaikan yang signifikan. Beberapa
remaja mulai menyadari bahwa tingkah lakunya menyimpang dan secara sadar
berusaha memperbaiki diri dan tampil sesuai dengan perilaku sosial yang
diharapkan. Sekitar 5 – 15 persen anak autistik mampu mencapai kemampuan
penyesuaian sosial yang diharapkan dengan atau tanpa terapi. Meski dalam
berkomunikasi, vokalisasinya masih belum sempurna namun sudah cukup dapat
dipahami. Memang mereka tetap kurang mampu menunjukkan empati dan peran
seksual yang sesuai, namun sisi positifnya dalah mereka kaku dalam memegang
aturan dan mampu masuk kelingkungan sosial yang birokratis. Namun disisi lain,
mayoritas anak autisme akan terus berkembang dengan gangguan perkembangan
yang parah. Mereka tetap hidup dalam alamnya sendiri namun tidak menjadi
schizophrenia dalam arti mengalami delusi dan halusinasi.
6. PENEGAKAN DIAGNOSA AUTISME
Penegakan diagnosa yang tepat akan menghasilkan intervensi dan treatmen
yang tepat, oleh karena itu penting sekali penegakan diagnosa dilakukan secara teliti
dan akurat. Pemeriksaan terhadap anak penyandang autisme secara terpadu perlu
dilakukan. Tim yang terdiri dari ahli psikologi anak, dokter anak, dokter neurologis
serta ahli pendidikan perlu duduk bersama dalam menangani kasus ini.
.
6.1 Tes –tes psikologi
6.1.1 Tes
PEP-R
Berdasarkan pengalaman Sleeuwen ( 1996) , tes khusus untuk anak autistik
disebut dengan Psycho Educational Profile Revised ( PEP-R). Tes tersebut
dikembangkan oleh di Teacch, sebuah program pendidikan khusus untuk anak autis.
Tes ini digunakan untuk anak autistik atau yang terganggu perkembangannya dan
dipakai pada anak-anak dengan usia kronologis 6 bulan sampai dengan 7 tahun.
© 2003 Digitized by USU digital library
8
Tes PEP-R ini memberikan informasi tentang fungsi perkembangan seperti
imitasi, persepsi, ketrampilan motorik halus, ketrampilan motorik kasar, korrdinasi
mata dan tangan, performansi kognitif dan kognisi verbal, Tes PEP-R juga dapat
mendeteksi masalah-masalah dalam hal relasi dan afeksi, permainan dan minat
terhadap benda dan respon penginderaan dan bahasa. Skor PEP-R digunakan untuk
membuat rencana pendidikan individual anak sehingga guru dapat tertolong dalam
menangani anak autistik.
6.1.2 Vineland Social Maturity Scale
Skala Kematangan Sosial Vineland biasanya juga digunakan sebagai data
tambahan untuk mendukung diagnosa. Semua versi dari Vineland ( dalam Anastasi,
1997 ) terfokus pada apa yang biasa dilakukan individu dan dirancang untuk menilai
prilaku adaptif. Data diperoleh berdasarkan observasi dan wawancara orangtua. Tes
Vineland mengklasifikasikan empat domain/ranah adaptif utama yaitu ranah
komunikasi, ranah ketrampilan sehari-hari, ranah sosialisasi, ranah ketrampilan
motorik yang kemudian disertai dengan komposit perilaku adaptif dan maladaptif.
Hasil tes Vineland penyandang autis berada pada kriteria kematangan sosial yang
jauh dibawah rata-rata anak seusianya.
6.2. Diagnosa berdasarkan kriteria DSM IV
Pada uraian terdahulu ( hal. 8 ) telah dijelaskan bahwa autisme tergolong dalam
gangguan perkembangan pervasive dan dalam penegakan diagnosa didasarkan pada
adanya hambatan pada 3 bidang utama yaitu interaksi sosial, komunikasi dan
tingkah laku yang repetitive dan berulang. Selain itu dalam penegakan diagnosa
autisme perlu diperhatikan:
a. Diagnosa yang berhubungan dan mental retardasi.
Dalam beberapa kasus, autisme berhubungan dengan mental retardasi,
umumnya pada kriteria Moderate Mental Retarded, IQ 35 – 50 (DSM IV, 1995).
Hampir 75% penyandang autisme berada pada taraf intelegensi mental retardasi.
Terjadi abnormalitas dalam perkembangan kognitif penyandang autisme.
Sementara menurut Sleeuwen (1996) sekitar 60 % anak-anak autistik menderita
retardasi mental tingkat moderate ( IQ 35- 50) dan 20 % anak mengalami mental
retardasi ringan sedangkan 20 % lainnya tidak mengalami mental retardasi dan
memiliki IQ > 70 ( normal ). Beberapa anak memiliki apa yang disebut “ pulau
intelegensi” yang artinya mereka memiliki bakat khusus di bidang-bidang tertentu
seperti musik, berhitung, menggambar, dsbnya.
Selanjutnya Sleeuwen menyatakan dalam mendeteksi mental retardasi pada
anak autis dapat dilihat dari kemampuan umum anak yang jauh di bawah rata-rata
anak seusianya ( terbelakang ) dan hambatan dalam komunikasi serta pemahaman
sosial. Epilepsi yang menyertai juga berkaitan dengan kapasitas intelegensi yang
rendah, namun 1 dari 20 anak yang mengalami epilepsi memiliki fungsi mental yang
cukup baik. Retardasi mental dan autisme muncul bersamaan dari awal.
b. Hubungannya dengan hasil laboratorium
Jika autisme dikaitkan dengan kondisi kesehatan umum, ditemukan bahwa ada
perbedaan aktivitas serotonin namun tidak begitu jelas terlihat. Namun hasil
pemeriksaan EEG menunjukkan abnormalitas. ( DSM IV, 1996 )
c. Hubungannya dengan kondisi kesehatan umum
Beberapa simptom kelainan neurologis terlihat pada penyandang autis, seperti
refleks yang primitif, keterlambatan penggunaan tangan yang dominan, dsbnya.
© 2003 Digitized by USU digital library
9
Kondisi ini berkaitan dengan kondisi kesehatan umum seperti enchepalitis,
phenylketonuria, fragile X syndrome, anoxia saat kelahiran dan maternal rubella).
6.3.Diagnosa berdasarkan hasil pemeriksaan medis - neurologis
Seperti telah dikemukakan terdahulu, factor biologis diperkirakan juga
memberikan andil bagi berkembangkany gangguan autisme pada anak. Oleh karena
itu untuk mendukung penegakan diagnosa diperlukan pemeriksaan kesehatan dan
neurologis yang lengkap dan terpadu.
Selain diagnosa autisme, menurut dr. Rudi Sutadi (1998) terdapat juga
pengklasifikasian berat-ringannya autisme dengan menggunakan CARS ( Childhood
Autisme Rating Scale ). Untuk keperluan ilmiah, klasifikasi ini bermanfaat. Namun
disarankan untuk hati-hati dalam penggunaan klasifikasi ringan-sedang-berat ini
disebabkan untuk penanganan autis sampai saat ini peringkat tersebut tidak
dikaitkan dengan perbedaan prognosis dan intervensi. Intervensi autisme pada
klasifikasi manapun tetap sama yaitu intervensi (terutama tata laksana perilaku)
yang terpadu dan optimal.
Kehati-hatian penggunaan peringkat ini juga disebabkan pengaruhnya pada
orangtua penyandang autisme. Bila anak didiagnosis menderita autisme ringan,
dapat menimbulkan kelengahan pada orangtua untuk melaksanakan tatalaksana
yang optimal. Sedangkan bagi mereka yang dinyatakan berat, mungkin saja merkea
menjadi depresi dan putus asa sehingga tidak berbuat apa-apa pada anak mereka.
7. PENANGANAN ANAK AUTIS
Pertanyaan yang sering dilontarkan orang tua adalah apakah anaknya dapat
secara total bebas dari autisme. Agak sulit untuk menerangkan pada orang tua
bahwa autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan
( not curable ), namun bisa diterapi ( treatable ). Maksudnya kelainan yang terjadi
pada otak tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi
semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya bisa berbaur dengan anak-
anak lain secara normal. ( Wenar, 1994 )
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor ( Budiman, 1998 ) yaitu :
a. berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak.
b. usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat
dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
c. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
d. Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara seumur
hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang
berbeda-beda. Mereka dengan kemampuan bicara yang baik mempunyai
prognosis yang lebih baik.
e. Terapi yang intensif dan terpadu.
7.1. TERAPI YANG TERPADU
Penanganan / intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan
dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4 – 8
jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi
dengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan kerjasama tim yang
terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog
neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik.
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain :
© 2003 Digitized by USU digital library
10
a. Terapi medikamentosa
b. Terapi psikologis
c. Terapi wicara
d. Fisioterapi
7.1.1. Terapi medikamentosa
Menurut dr. Melly Budiman ( 1998) , pemberian obat pada anak harus didasarkan
pada diagnosis yang tepat, pemakaian obat yang tepat, pemantauan ketat terhadap
efek samping dan mengenali cara kerja obat. Perlu diingat bahwa setiap anak
memiliki ketahanan yang berbeda-beda terhadap efek obat, dosis obat dan efek
samping. Oleh karena itu perlu ada kehati-hatian dari orang tua dalam pemberian
obat yang umumnya berlangsung jangka panjang.
Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga
diberika obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat antidepressan SSRI (
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor ) yang bisa memberikan keseimbangan
antara neurotransmitter serotonin dan dopamine. Yang diinginkan dalam pemberian
obat ini adalah dosis yang paling minimal namun paling efektif dan tanpa efek
samping. Pemakaian obat akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak
terhadap lingkungan sehingga ia lebih mudah menerima tata laksana terapi lainnya.
Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat dapat dikurangi
bahkan dihentikan.
7.1.2. Terapi psikologis
Dalam penanganan autisme, seringkali perkembangan kemampuan berjalan lambat
dan mudah hilang ( Wenar,1994 ). Umumnya intervensi difokuskan pada
meningkatkan kemampuan bahasa dan komunikasi, self-help dan perilaku sosial dan
mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki seperti melukai diri sendiri ( self
mutilation ), temper tantrum dengan penekanan pada peningkatan fungsi individu
dan bukan “menyembuhkan” dalam arti mengembalikan penyandang autis ke posisi
normal.
Rutter ( dalam Wenar, 1994 ) membuat pendekatan yang komprehensif
dalam intervensi autisme yang memiliki tujuan :
- membantu perkembangan kognitif, bahasa dan sosial yang normal
- meningkatkan kemampuan belajar anak autistik
- mengurangi kekakuan dan perilaku stereotype dengan meningkatkan
interaksi penyandang autis dengan orang lain dan tidak membiarkannya
“hidup sendiri” . Interaksi yang kurang justru akan menyebabkan munculnya
perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki. Dalam hal ini pemberian mainan
yang bervariasi juga dapat mengurangi kekakuan ini.
- mengurangi perilaku maladaptive seperti temper tantrum dan melukai diri
sendiri
- mengurangi stress pada keluarga penderita autisme
Selanjutnya, Lieke Van Sleeuwen ( 1996 ) menyatakan intervensi psikologis
anak-anak autistik harus terfokus pada :
- memberikan stimulasi spesifik dan latihan untuk mengkompensasikan
keterlambatan perkembangan secara menyeluruh
- memutuskan atau mengurangi perilaku yang sulit ditangani oleh lingkungan
yang menghambat proses belajar sosial dan pendidikan
- mencegah timbulnya gangguan sekunder yang mungkin muncul sebagai efek
dari gangguan utama.
© 2003 Digitized by USU digital library
11
Ketiga hal ini hanya dapat dilaksanakan pada lingkungan yang sangat
terstruktur dan teratur dengan baik. Anak autistik memiliki pola berpikir yang
berbeda, mereka mengalami kesulitan memahami lingkungannya. Oleh karena itu
memberikan lingkungan terstruktur merupakan titik awal dalam proses intervensi
penyandang autis. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sbb :
a. Keteraturan waktu dan tempat
yaitu : jadwal harian yang tetap dan ruang yang pasti. Namun tidak berarti
bahwa segala sesuatu harus terjadi dengan cara yang sama. Perubahan-
perubahan kecil juga diperlukan agar anak autis dapat meningkatkan
fleksibilitas mereka.
b. Berhubung adanya kesulitan berpikir dan bertingkah laku pada anak autis,
maka perlu merangsang dan melatih anak melalui berbagai aspek yang
disesuaikan dengan minat yang dimiliki anak.
c. Pengajaran dilakukan secara bertahap dan bila memungkinkan menggunakan
alat peraga
d. Proses pendidikan berlangsung secara individual ( khusus ). Anak autis tidak
memiliki ketrampilan sosial yang diperlukan untuk belajar dalam situasi
kelompok. Oleh karena itu, pendekatan individual diberikan pada anak
termasuk didalamnya individual play training. Training bermain ini merupakan
terapi yang mengajari anak bermain dan membimbing anak ke dalam
berbagai kemungkinan fungsional suatu mainan. Contohnya seperti sebuah
mobil tidak hanya merupakan benda dengan roda yang berjalan tetapi juga
dapat disetir dan mengangkut orang dan benda-benda lain.
Seperti halnya Rutter yang menekankan perlunya mengatasi stress pada
keluarga, Sleeuwen ( 1996 ) juga menekankan pentingnya konseling keluarga.
Setelah seorang anak didiagnosa autisme, adalah penting bahwa tidak hanya anak
tersebut yang mendapatkan pertolongan, namun juga orang tua. Orang tua perlu
diberikan pengertian mengenai kondisi anak dan mampu menerima anak mereka
yang menderita autis. Mereka juga dilibatkan dalam proses terapi ( Home training ).
Konsep yang ada dalam home training ini adalah orang tua belajar dan dilatih untuk
dapat melakukan sendiri terapi yang dilakukan psikolog/terapis. Terapi tidak hanya
dilakukan oleh terapis tetapi juga oleh keluarga di rumah. Terapi yang intensif akan
meminimalisir kemungkinan hilangnya kemampuan yang telah dilatih dan dikuasai
anak.
7.1.3. Terapi Wicara
Umumnya hampir semua penyandang autisme menderita gangguan bicara dan
berbahasa. Oleh karena itu terapi wicara pada penyandang autisme merupkan
keharusan. Penanganannya berbeda dengan penderita gangguan bicara oleh sebab
lain. Salah seorang tokoh yang mengembangkan terapi bicara ini adalah Lovaas pada
tahun 1977 yang menggunakan pendekatan behaviouris - model operant
conditioning ( dalam Wenar, 1994 ). Anak yang mengalami hambatan bicara dilatih
dengan proses pemberian reinforcement dan meniru vokalisasi terapis.
Minggu, 14 Februari 2010
tentang anak indigo
If You Aren’t The One
it’s about Education and computer.
Anak Indigo
Kata – kata Indigo sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi masyarakat awam. Tetapi Belakangan ini Konsep tentang keberadaan anak indigo itu menimbulkan kontroversial di dalam lapisan masyarakat, padahal sebenarnya pengertian kata indigo itu saja masih samar – samar. Banyak orang beranggapan bahwa “anak biasa” dengan sedikit bakat paranormal, yang justru merupakan hal biasa terdapat pada anak balita atau basata (bawah satu tahun) langsung dianggap “anak indigo”. Di pihak lainnya terdapat “anak indigo” yang tidak nyaman menyandang predikat “anak indigo” karena hal itu (ipso facto) yang seolah – olah membebani hari depan mereka dengan gelar “kenabian” yang sudah terlanjur disandangnya (messianic burden) yang tidak pada tempatnya.
Penolakan tersebut menjadi ramai diperbincangkan karena disarati dengan praduga adanya komersialisasi di balik semua pelabelan indigo kepada anak-anak tersebut tadi.
it’s about Education and computer.
Anak Indigo
Kata – kata Indigo sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi masyarakat awam. Tetapi Belakangan ini Konsep tentang keberadaan anak indigo itu menimbulkan kontroversial di dalam lapisan masyarakat, padahal sebenarnya pengertian kata indigo itu saja masih samar – samar. Banyak orang beranggapan bahwa “anak biasa” dengan sedikit bakat paranormal, yang justru merupakan hal biasa terdapat pada anak balita atau basata (bawah satu tahun) langsung dianggap “anak indigo”. Di pihak lainnya terdapat “anak indigo” yang tidak nyaman menyandang predikat “anak indigo” karena hal itu (ipso facto) yang seolah – olah membebani hari depan mereka dengan gelar “kenabian” yang sudah terlanjur disandangnya (messianic burden) yang tidak pada tempatnya.
Penolakan tersebut menjadi ramai diperbincangkan karena disarati dengan praduga adanya komersialisasi di balik semua pelabelan indigo kepada anak-anak tersebut tadi.
Anak kecil yang fungsi pinealnya masih normal dapat memperlihatkan “kemampuan aneh” melalui tindakan – tindakan aneh maupun dari kemampuan pengelihatannya, tetapi kita tidak dapat dengan spontan mengelompokkannya kedalam kelompok “anak indigo”. Anak kecil pada umumnya dapat “melihat kunti” ataupun semacamnya karena fungsi optik pada pucuk kelenjar pinealnya masih berfungsi normal. Yang jadi permasalahannya, orang tua atau orang dewasa pada umumnya suka meremehkan anak kecil dan dunianya. Mereka cenderung menganggap anak-anak itu suka mengkhayal dan mengada-ada. Kalau anak seperti itu berkomunikasi dengan “makhluk halus” maka mereka langsung dianggap “ngomong sendiri” atau parahnya bahkan diberi label sadis sebagai “anak autis” . padahal ciri – ciri”anak autis” itu omongannya ngaco sedangkan “anak indigo” itu justru omongannya berisi dan tidak jarang malah filosofis dan dapat membuat orang tua mereka kelabakan. Istilah yang cocok digunakan yaitu “the little professor” untuk peran anak seperti itu.Dan merupakan hal yang sangat lumrah bahwa anak balita kadang-kadang mengajukan pertanyaan yang sangat filosofis atau fundamental kepada orang tua mereka. Untuk hal semacam ini tentunya (sangat) banyak orang tua yang dapat mensharingkan pengalamannya.
Mama Laurent sendiri menceritakan peristiwa “suara-suara” yang ia dengar di sekolah yang menyuruhnya cepat-cepat keluar dari kelas. Ia heran kenapa suara yang begitu keras tidak terdengar oleh guru dan kawan-kawan sekelasnya. Akibatnya ia ditegur oleh ‘juffrouw’ dan kena ’straf’ 2 hari tidak boleh masuk sekolah. Dua jam setelah itu 300 anak termasuk para gurunya mati semua terkena bom yang dijatuhkan oleh pihak Jerman. Jelas Mama Laurent yang berusia 7 tahun memiliki apa yang disebut “fine hearing” yaitu salah satu kemampuan paranormal. Tetapi apakah ia seorang “anak indigo” juga, siapalah yang tahu? Mungkin omanya hanya tahu bahwa ia mempunyai “bakat khusus” saja. Saat itu belum populer parameter tentang “anak indigo” walaupun pada zaman itu dikenal istilah “magenta kids”. Istilah “magenta kids” itupun tentunya populer bukan pada saat Mama Laurent berusia 7 tahun itu melainkan beberapa dekade kemudian.
Selain itu kecenderungan Psikologi atau Psikiatri memberi label “anak indigo” sebagai manusia dengan gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) jelas-jelas memberi kategori Mental Disorder seperti judul D kedua pada sindrom ADHD tersebut. Karena sakit jiwa tentunya harus ditangani oleh seorang Psikiater dan bukan oleh seorang Psikolog. Ironisnya justru seorang Psikiater tidak mampu menyembuhkan penyakit ADHD tersebut sampai sekarang ini. Bahwa dalam kurun penanganan oleh seorang Psikiater kemudian gejala ADHD tersebut mulai tampak berkurang belum tentu menunjukkan efektivitas daripada terapinya. Mungkin juga terjadi secara alamiah justru karena atrofi daripada kelenjar pineal itu sendiri yang menjadi “biang keladi” semua fenomen yang tampaknya abnormal tersebut. Ibaratnya para Psikiater tersebut beruntung lebih karena “saved by the bell” saja , dibandingkan kehebatan terapinya.
Yang anehnya fenomenal berikut ini yang sudah terlanjur terjadi dimasyarakat. Psikiatri yang termasuk disiplin ilmiah justru memakai praktek-praktek “lebih klinik dari pada klinik” seperti teknik “dowsing” (pendulum) dan “automatic writing”.
Kick Andy Show pun terperangkap pada silogisme yang sama. Seakan-akan kalau bicara soal anak indigo maka, mau tidak mau tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan dunia paranormal sehingga sampai-sampai merasa perlu mendatangkan paranormal beken yaitu Mama Laurent.
Berikut ini beberapa pandangan yang dapat kita peroleh adalah :
v Pada umumnya anak balita memiliki kemampuan paranormal yang berhubungan langsung dengan masih berfungsi normalnya “kelenjar-cum-pusat syaraf” yaitu ‘pineal body’.
v Dengan pembiasaan pemakaian secara intensif kecerdasan intelektual sejak masuk sistem sekolah skolastik, maka secara gradual ‘pineal body’ mengalami atrofi karena jarang dimanfaatkan. Analog dengan otot yang semakin lembek karena jarang dipakai; atau sebaliknya otot semakin kencang-berisi karena sering latihan angkat berat.
v Dapat terjadi “anak indigo” mengalami kesulitan dalam bidang tertentu dalam lingkup kecerdasan intelektual tetapi tidak dapat langsung dipastikan hal itu merupakan ciri baku.
Vincent Liong tidak suka akan matematika tetapi suka tulis menulis padahal keduanya termasuk lingkup “kecerdasan intelektual” otak hemisfir kiri manusia.
v Auto-writing dapat terjadi pada saat otak hemisfir kanan mendominasi cara berpikir seseorang. Maka tidak ada korelasi langsung dengan ke-indigo-an seorang anak, apalagi sebagai teknik untuk menyembuhkan anak indigo secara klinis.
Padahal Auto-writing, apabila tidak diwaspadai dapat menyebabkan anak mengalami kesurupan. Bila hal ini terjadi maka pihak pengelola klinik menjadi orang yang sangat tidak bertanggungjawab. Apalagi bila mereka tidak mempunyai kemampuan untuk “exorcisme” maka sebaiknya jangan main-main dengan yang dinamakan ‘automatic-writing”.
v Tidak setiap anak yang dikaruniai Tuhan dengan kharismata khusus dapat langsung dapat langsung kita kategorikan sebagai “anak indigo”. Maksimal ia dapat dikategorikan sebagai anak berbakat paranormal saja.
v Setidaknya kita Tidak seharusnya membebankan setiap anak berbakat paranormal “missi mesianik” untuk menjadi “healer” atau “prophecy maker” atau semacamnya. Semuanya juga tergantung niat ingsun anak itu sendiri untuk membangun corak masa depannya sendiri secara bebas tanpa beban pelabelan indigo kepada mereka.
v Anak yang terlanjur diberi label “anak indigo” – dengan contoh gamblang seperti pada kasus anak perempuan ajaib bernama Anissa. Seorang anak yang asertif dan sewaktu-waktu dapat bersikap sangat “mature” serta mampu berbahasa Inggris tanpa kursus maupun environment yang mendukungnya. Nasib anak ini kini sangat tragis karena ia kehilangan masa kanak-kanaknya yang indah dan ceria dan tidak dapat sekolah di TK karena terlanjur diberi label “anak indigo” dengan “mental disorder” sehingga memerlukan jenis “pendidikan khusus” yang sesuai, namun nyatanya tidak tersedia di negeri ini. Korban semacam ini hendaknya jangan diperbanyak lagi oleh pihak manapun. Bila tidak mampu membangun minimal kita hendaknya tidak merusak.
Menurut saya, Anak indigo tidak ada urusannya dengan kepercayaan sektoral tentang “reinkarnasi”. Sama sekali belum ada bukti ilmiah tentang korelasi keindigoan dengan reinkarnasi. Bisa terjadi kemampuan daya tangkap pineal seseorang sedemikian kuat/kencang sehingga mampu mengakses memori-etnik-kolektif masa lampau sendiri, atau dari orang lain. Seperti halnya mereka juga memiliki kemampuan untuk mengakses informasi masa yang akan datang. Manusia pada dasarnya ialah “spiritus in carne” (roh yang membadan) sehingga sebagai roh, maka roh manusia mampu mengakses masa depan sama mudahnya dengan mengakses masa lampau.
Karena memiliki “kepekaan khusus” maka kemampuannya kelihatannya luar biasa sementara “manusia bisa” lainnya, seperti kita – kita ini yang pinealnya tidak berkembang atau dioptimalkan fungsinya sebagai alat pemancar (transmitter) dan alat penerima (receiver) informasi, tidak mampu mengakses memori kolektif masa lampau, apalagi informasi masa depan.
Minimal inilah penjelasan yang sedikit “lebih ilmiah”yang berhasil dianalisis oleh para ahli karena berbasis biologis-neurologis (endokrinologis) dari dispilin ilmu eksakta dibandingkan dengan “penjelasan agamis-metafisis” dengan “argumen reinkarnasi” yang bersifat “cult system”.
Bagaimana seandainya kemampuan manusia paranormal (termasuk anak indigo) ternyata merupakan kemampuan teknis menembus code-code DNA yang memuat semua storage informasi gentik nenek moyang seseorang padahal kita terlanjur mengecapnya dengan kondisi “reinkarnasi”? Bukankah hypnotisme juga mampu melakukan “penembusan” seperti itu? – namun dengan side effect yang luar biasa “menguras tenaga” pada pihak yang terhipnotis?
Dengan demikian kita hendaknya teliti terhadap proses pengidentifikasian anak yang dapat digolongkan dengan “anak indigo” serta mampu memperlakukan mereka secara adil dan layak sehingga mereka tidak mengalami tekanan batin dan pengasingan secara sosial. Setidaknya anak – anak seperti ini hendaknya tetap beroleh tempat dimasyarakyat dan diperlakukan sebagai anak yang normal.
Explore posts in the same categories: Uncategorized
This entry was posted on January 4, 2009 at 2:30 pm and is filed under Uncategorized. You can subscribe via RSS 2.0 feed to this post's comments. You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
Mama Laurent sendiri menceritakan peristiwa “suara-suara” yang ia dengar di sekolah yang menyuruhnya cepat-cepat keluar dari kelas. Ia heran kenapa suara yang begitu keras tidak terdengar oleh guru dan kawan-kawan sekelasnya. Akibatnya ia ditegur oleh ‘juffrouw’ dan kena ’straf’ 2 hari tidak boleh masuk sekolah. Dua jam setelah itu 300 anak termasuk para gurunya mati semua terkena bom yang dijatuhkan oleh pihak Jerman. Jelas Mama Laurent yang berusia 7 tahun memiliki apa yang disebut “fine hearing” yaitu salah satu kemampuan paranormal. Tetapi apakah ia seorang “anak indigo” juga, siapalah yang tahu? Mungkin omanya hanya tahu bahwa ia mempunyai “bakat khusus” saja. Saat itu belum populer parameter tentang “anak indigo” walaupun pada zaman itu dikenal istilah “magenta kids”. Istilah “magenta kids” itupun tentunya populer bukan pada saat Mama Laurent berusia 7 tahun itu melainkan beberapa dekade kemudian.
Selain itu kecenderungan Psikologi atau Psikiatri memberi label “anak indigo” sebagai manusia dengan gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) jelas-jelas memberi kategori Mental Disorder seperti judul D kedua pada sindrom ADHD tersebut. Karena sakit jiwa tentunya harus ditangani oleh seorang Psikiater dan bukan oleh seorang Psikolog. Ironisnya justru seorang Psikiater tidak mampu menyembuhkan penyakit ADHD tersebut sampai sekarang ini. Bahwa dalam kurun penanganan oleh seorang Psikiater kemudian gejala ADHD tersebut mulai tampak berkurang belum tentu menunjukkan efektivitas daripada terapinya. Mungkin juga terjadi secara alamiah justru karena atrofi daripada kelenjar pineal itu sendiri yang menjadi “biang keladi” semua fenomen yang tampaknya abnormal tersebut. Ibaratnya para Psikiater tersebut beruntung lebih karena “saved by the bell” saja , dibandingkan kehebatan terapinya.
Yang anehnya fenomenal berikut ini yang sudah terlanjur terjadi dimasyarakat. Psikiatri yang termasuk disiplin ilmiah justru memakai praktek-praktek “lebih klinik dari pada klinik” seperti teknik “dowsing” (pendulum) dan “automatic writing”.
Kick Andy Show pun terperangkap pada silogisme yang sama. Seakan-akan kalau bicara soal anak indigo maka, mau tidak mau tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan dunia paranormal sehingga sampai-sampai merasa perlu mendatangkan paranormal beken yaitu Mama Laurent.
Berikut ini beberapa pandangan yang dapat kita peroleh adalah :
v Pada umumnya anak balita memiliki kemampuan paranormal yang berhubungan langsung dengan masih berfungsi normalnya “kelenjar-cum-pusat syaraf” yaitu ‘pineal body’.
v Dengan pembiasaan pemakaian secara intensif kecerdasan intelektual sejak masuk sistem sekolah skolastik, maka secara gradual ‘pineal body’ mengalami atrofi karena jarang dimanfaatkan. Analog dengan otot yang semakin lembek karena jarang dipakai; atau sebaliknya otot semakin kencang-berisi karena sering latihan angkat berat.
v Dapat terjadi “anak indigo” mengalami kesulitan dalam bidang tertentu dalam lingkup kecerdasan intelektual tetapi tidak dapat langsung dipastikan hal itu merupakan ciri baku.
Vincent Liong tidak suka akan matematika tetapi suka tulis menulis padahal keduanya termasuk lingkup “kecerdasan intelektual” otak hemisfir kiri manusia.
v Auto-writing dapat terjadi pada saat otak hemisfir kanan mendominasi cara berpikir seseorang. Maka tidak ada korelasi langsung dengan ke-indigo-an seorang anak, apalagi sebagai teknik untuk menyembuhkan anak indigo secara klinis.
Padahal Auto-writing, apabila tidak diwaspadai dapat menyebabkan anak mengalami kesurupan. Bila hal ini terjadi maka pihak pengelola klinik menjadi orang yang sangat tidak bertanggungjawab. Apalagi bila mereka tidak mempunyai kemampuan untuk “exorcisme” maka sebaiknya jangan main-main dengan yang dinamakan ‘automatic-writing”.
v Tidak setiap anak yang dikaruniai Tuhan dengan kharismata khusus dapat langsung dapat langsung kita kategorikan sebagai “anak indigo”. Maksimal ia dapat dikategorikan sebagai anak berbakat paranormal saja.
v Setidaknya kita Tidak seharusnya membebankan setiap anak berbakat paranormal “missi mesianik” untuk menjadi “healer” atau “prophecy maker” atau semacamnya. Semuanya juga tergantung niat ingsun anak itu sendiri untuk membangun corak masa depannya sendiri secara bebas tanpa beban pelabelan indigo kepada mereka.
v Anak yang terlanjur diberi label “anak indigo” – dengan contoh gamblang seperti pada kasus anak perempuan ajaib bernama Anissa. Seorang anak yang asertif dan sewaktu-waktu dapat bersikap sangat “mature” serta mampu berbahasa Inggris tanpa kursus maupun environment yang mendukungnya. Nasib anak ini kini sangat tragis karena ia kehilangan masa kanak-kanaknya yang indah dan ceria dan tidak dapat sekolah di TK karena terlanjur diberi label “anak indigo” dengan “mental disorder” sehingga memerlukan jenis “pendidikan khusus” yang sesuai, namun nyatanya tidak tersedia di negeri ini. Korban semacam ini hendaknya jangan diperbanyak lagi oleh pihak manapun. Bila tidak mampu membangun minimal kita hendaknya tidak merusak.
Menurut saya, Anak indigo tidak ada urusannya dengan kepercayaan sektoral tentang “reinkarnasi”. Sama sekali belum ada bukti ilmiah tentang korelasi keindigoan dengan reinkarnasi. Bisa terjadi kemampuan daya tangkap pineal seseorang sedemikian kuat/kencang sehingga mampu mengakses memori-etnik-kolektif masa lampau sendiri, atau dari orang lain. Seperti halnya mereka juga memiliki kemampuan untuk mengakses informasi masa yang akan datang. Manusia pada dasarnya ialah “spiritus in carne” (roh yang membadan) sehingga sebagai roh, maka roh manusia mampu mengakses masa depan sama mudahnya dengan mengakses masa lampau.
Karena memiliki “kepekaan khusus” maka kemampuannya kelihatannya luar biasa sementara “manusia bisa” lainnya, seperti kita – kita ini yang pinealnya tidak berkembang atau dioptimalkan fungsinya sebagai alat pemancar (transmitter) dan alat penerima (receiver) informasi, tidak mampu mengakses memori kolektif masa lampau, apalagi informasi masa depan.
Minimal inilah penjelasan yang sedikit “lebih ilmiah”yang berhasil dianalisis oleh para ahli karena berbasis biologis-neurologis (endokrinologis) dari dispilin ilmu eksakta dibandingkan dengan “penjelasan agamis-metafisis” dengan “argumen reinkarnasi” yang bersifat “cult system”.
Bagaimana seandainya kemampuan manusia paranormal (termasuk anak indigo) ternyata merupakan kemampuan teknis menembus code-code DNA yang memuat semua storage informasi gentik nenek moyang seseorang padahal kita terlanjur mengecapnya dengan kondisi “reinkarnasi”? Bukankah hypnotisme juga mampu melakukan “penembusan” seperti itu? – namun dengan side effect yang luar biasa “menguras tenaga” pada pihak yang terhipnotis?
Dengan demikian kita hendaknya teliti terhadap proses pengidentifikasian anak yang dapat digolongkan dengan “anak indigo” serta mampu memperlakukan mereka secara adil dan layak sehingga mereka tidak mengalami tekanan batin dan pengasingan secara sosial. Setidaknya anak – anak seperti ini hendaknya tetap beroleh tempat dimasyarakyat dan diperlakukan sebagai anak yang normal.
Explore posts in the same categories: Uncategorized
This entry was posted on January 4, 2009 at 2:30 pm and is filed under Uncategorized. You can subscribe via RSS 2.0 feed to this post's comments. You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
Minggu, 27 Desember 2009
Kasus Bunuh Diri dengan Loncat dari Ketinggian Meningkat
Polda: Kasus Bunuh Diri dengan Loncat dari Ketinggian Meningkat
Selasa, 15 Desember 2009 | 18:40 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya mencatat aksi bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari ketinggian semakin marak terjadi di Jakarta tahun ini. Tahun ini saja sudah tercatat enam kali aksi bunuh diri dengan cara seperti itu.
"Sayangnya, kami belum memprosentasekan kejadian itu. Tapi dibanding tahun lalu, memang lebih banyak," kata Kepala Divisi Humas Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya Komisaris Besar Boy Rafli Amar, saat dihubungi melalui telepon, Selasa (15/12).
Seluruh kejadian tersebut, ia melanjutkan, sepenuhnya murni merupakan aksi bunuh diri. Polisi belum menemukan adanya indikasi kriminal dalam setiap kejadian menjatuhkan diri dari ketinggian di Jakarta.
Kecenderungan yang melatarbelakangi aksi itu adalah persoalan-persoalan psikologis, dan kesulitan hidup. "Karena tidak sanggup mengatasi, mereka memilih jalan pintas," ujar Boy.
Aksi bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari ketinggian, terakhir terjadi di Apartemen Gading River View, Tower 5, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (14/12), sekitar pukul 18.00 WIB. Aksi serupa kembali terjadi di Apartemen Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa (15/12), sekitar pukul 16.00 WIB. Pada dua peristiwa ini, seluruh korbannya adalah wanita.
Berdasar hasil olah tempat kejadian perkara, peristiwa di Apartemen Gading River View, dipastikan sebagai aksi bunuh diri. Korban adalah Yani, 23 tahun, yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, di kamar nomor 1202, di apartemen tersebut.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara Komisaris Adex Yudiswan mengatakan pemicu aksi nekat itu adalah persoalan cinta. Yani, asal Pati, Jawa Tengah, itu nekat mengakhiri hidupnya karena mengetahui sang pacar telah beristreri dan memiliki anak.
"Padahal, hubungan korban dengan pacarnya sudah jauh," ujar Adex. "Sebab itu, korban menjadi depresi dan frustasi."
Menurut Adex, fenomena bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari ketinggian dipilih karena cara tersebut lebih mudah, aman, dan tanpa menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan. "Biasanya aksi itu akan dilakukan dari lantai enam ke atas, sehingga kalau jatuh dipastikan akan tewas," kata dia.
Pendapat saya mengenai masalah kasus bunuh diri ini seharusnya kepolisian memprioritaskan kasus bunuh diri untuk mengurangi dan mencegah korban yang lebih banyak lagi sehingga tidak ada korban yang berjatuhan. Melihat peristiwa bunuh diri yang terjadi banyak di sebabkan oleh faktor ekonomi,frustasi karena gagal cinta dan lain-lain.
Dengan banyak media masa ini banyak orang yang meniru tindakan bunuh diri seperti dengan cara meloncat dari gedung tinggi.Ada baiknya media masa tidak terlalu mempublikasikan kasus bunuh diri,karena memicu orang lain untuk melakukan tindakan hal yang sama yang bisa mengakibatkan korban jiwa yang semakin tinggi.
Dari segi faktor ekonomi seharusnya dari pemerintah membantu rakyat yang tidak mampu untuk membuka lapangan pekerjaan dan memberi BLT secara merata kepada rakyat yang tidak mampu.Di jaman sekarang pemerintah mempersulit bantuan bagi rakyat yang kurang mampu dengan cara memperbelit birokrasi.
Untuk para pegelola gedung lebih hati-hati bila ada tindakan yang mencurigakan seperti memanjat pagar atau pembatas,lebih baik lagi untuk memasang CCTV di sudut-sudut gedung dan penjagaan yang lebih intens lagi.
Fahmi, W. Kasus Bunuh Diri dengan Loncat dari Ketinggian Meningkat. Diakses tanggal 28 Desember 2009. http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2009/12/15/brk,20091215-214010,id.html
Selasa, 15 Desember 2009 | 18:40 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya mencatat aksi bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari ketinggian semakin marak terjadi di Jakarta tahun ini. Tahun ini saja sudah tercatat enam kali aksi bunuh diri dengan cara seperti itu.
"Sayangnya, kami belum memprosentasekan kejadian itu. Tapi dibanding tahun lalu, memang lebih banyak," kata Kepala Divisi Humas Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya Komisaris Besar Boy Rafli Amar, saat dihubungi melalui telepon, Selasa (15/12).
Seluruh kejadian tersebut, ia melanjutkan, sepenuhnya murni merupakan aksi bunuh diri. Polisi belum menemukan adanya indikasi kriminal dalam setiap kejadian menjatuhkan diri dari ketinggian di Jakarta.
Kecenderungan yang melatarbelakangi aksi itu adalah persoalan-persoalan psikologis, dan kesulitan hidup. "Karena tidak sanggup mengatasi, mereka memilih jalan pintas," ujar Boy.
Aksi bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari ketinggian, terakhir terjadi di Apartemen Gading River View, Tower 5, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (14/12), sekitar pukul 18.00 WIB. Aksi serupa kembali terjadi di Apartemen Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa (15/12), sekitar pukul 16.00 WIB. Pada dua peristiwa ini, seluruh korbannya adalah wanita.
Berdasar hasil olah tempat kejadian perkara, peristiwa di Apartemen Gading River View, dipastikan sebagai aksi bunuh diri. Korban adalah Yani, 23 tahun, yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, di kamar nomor 1202, di apartemen tersebut.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara Komisaris Adex Yudiswan mengatakan pemicu aksi nekat itu adalah persoalan cinta. Yani, asal Pati, Jawa Tengah, itu nekat mengakhiri hidupnya karena mengetahui sang pacar telah beristreri dan memiliki anak.
"Padahal, hubungan korban dengan pacarnya sudah jauh," ujar Adex. "Sebab itu, korban menjadi depresi dan frustasi."
Menurut Adex, fenomena bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari ketinggian dipilih karena cara tersebut lebih mudah, aman, dan tanpa menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan. "Biasanya aksi itu akan dilakukan dari lantai enam ke atas, sehingga kalau jatuh dipastikan akan tewas," kata dia.
Pendapat saya mengenai masalah kasus bunuh diri ini seharusnya kepolisian memprioritaskan kasus bunuh diri untuk mengurangi dan mencegah korban yang lebih banyak lagi sehingga tidak ada korban yang berjatuhan. Melihat peristiwa bunuh diri yang terjadi banyak di sebabkan oleh faktor ekonomi,frustasi karena gagal cinta dan lain-lain.
Dengan banyak media masa ini banyak orang yang meniru tindakan bunuh diri seperti dengan cara meloncat dari gedung tinggi.Ada baiknya media masa tidak terlalu mempublikasikan kasus bunuh diri,karena memicu orang lain untuk melakukan tindakan hal yang sama yang bisa mengakibatkan korban jiwa yang semakin tinggi.
Dari segi faktor ekonomi seharusnya dari pemerintah membantu rakyat yang tidak mampu untuk membuka lapangan pekerjaan dan memberi BLT secara merata kepada rakyat yang tidak mampu.Di jaman sekarang pemerintah mempersulit bantuan bagi rakyat yang kurang mampu dengan cara memperbelit birokrasi.
Untuk para pegelola gedung lebih hati-hati bila ada tindakan yang mencurigakan seperti memanjat pagar atau pembatas,lebih baik lagi untuk memasang CCTV di sudut-sudut gedung dan penjagaan yang lebih intens lagi.
Fahmi, W. Kasus Bunuh Diri dengan Loncat dari Ketinggian Meningkat. Diakses tanggal 28 Desember 2009. http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2009/12/15/brk,20091215-214010,id.html
Minggu, 20 Desember 2009
penyalahgunakan memakai handphone
Handphone itu apa sih?tentu saja banyak orang yang sudah tau arti handphone itu sendiri.Handphone itu alat untuk membantu komunikasi dengan seseorang.handphone itu banyak fungsinya tetapi banyak juga orang lain yang suka menyalahgunakan pemakaian handphone itu sendiri,contohnya miaslkan anak remaja sekarang banyak menyimpan video-video bokep yang tidak pantas untuk di simpan karna video-video itu hanya bisa merusak pikiran kita ke arah negatif.handphone juga banyak untuk menipu seseorang atau mengatak-ngatakan orang lewat sms yang berisinya sangat tidak sopan dan sangat tidak pantas juga untuk dibaca.Tidak mungkin orang-orang tidak tahu kegunaan handphone,tetapi kenapa masih ada orang yang suka menayalahgunakan pemakaian handphone itu .Anak remaja sekarang rusak sejak ada handphone itu beredar,anak sd pun sekarang juga sudah banyak memakai handphone .boleh saja orang lain memakai handphone tetapi di gunakan untuk yang sewajarnya bukan untuk hal-hal yang dapat mengangu orang lain tidak merasa nyaman .
arti cinta yang tulus
Cinta tulus itu berasal dari dalam hati,yang dimana kita melihat seseorang dari hati dan kepribadian kita bukan dari segi fisik karna dari segi fisik itu cinta tidak tulus hanya memiliki karna dari segi kecantikan dam mengkagumi kita dari fisik yang kita punya.cinya yang melihat dari fisik itu cinta yang tidak abadi dan tidak lama.cintailah seseorang dengan tulus yang apa adanya itu bisa cinta yang abadi.remaja sekarang banyak memilih pasangannya di lihat daer segi fisik yang paling utama tetapi kenapa tidak pernah berpikir,belum tentu dari segi fisiknya bagus tetapi hatinya itu juga bagus,itu tidak bisa menjamin karna rata-rata setiap orang yang cantik dalam fisik banyak tidak cantik dari hatinya.Arti cinta yang tulus itu apa sih?banyak orang yang tidak mengerti arti cinta itu sendiri sebenarnya apa?banyak orang bisa merasakan cinta tetapi banyak orang yang tersakiti karna akan cintanya tidak setia dan belum bisa menerima pasangan kia dengan dalam keadaan apapun .banyak orang lain yang suka selingkuh dengan orang lain?itu sering terjadi,di karnakan dari pertamanya tidak mecintai seseorang dengan tulus.cinta itu bukan sebuah permainan tetapi sebuah tantangan yang di mana kita menemukan sesuatu permasalahan kita mencoba untuk menyelesaikan masalah itu dengan sabar.
dampak film terhadap anak-anak dan remaja sekarang
Para remaja dan anak-anak lainnya banyak terkena dampak bahaya film yang sering muncul.Film itu sebenarnya banyak dampak yang tidak bagus untuk para remaja,di karnakan para remaja sekarang banyak mengikuti gaya gaya di film.terutama bahaya bagi anak kecil,karna anak kecil sekarang sudah mulai terpengaruh akan dampak bahaya film yang di tonton.bagi orang tua extra lebih hati-hati untuk menontonkan film yang dewasa karna sangat berpengaruh.film-film sekarang sudah tidak mendidik,contohnya seperti film yang ada guna-guna atau santet,rakus akan kaya harta,ribut masalah pria dll.remaja banyak yang terpengaruh dan mengikuti cerita di film,tentu saja bukan hal yang positif yang di tiru hal yang negatif.gimana caranya kita tidak terpengaruh tetapi menonton film itu?
1.kita mempunyai berpikiran yang positif
2.kita tidak ada niat untuk mengikuti cara perilaku film tersebut
3.bagi anak kecil harus bimbingan orang tua.
mungkin dengan cara itu kita bisa menahan diri agar tidak mengikuti gaya film yang kita nonton itu.kita harus tau dampak bahayanya bila kita meniru gaya perilaku yang kita nonton tersebut film itu.kalau ada yang hal negatif jangan kita ikuti karna tidak buat kita,tetapi hal yang positif tentu saja kita ambil.
1.kita mempunyai berpikiran yang positif
2.kita tidak ada niat untuk mengikuti cara perilaku film tersebut
3.bagi anak kecil harus bimbingan orang tua.
mungkin dengan cara itu kita bisa menahan diri agar tidak mengikuti gaya film yang kita nonton itu.kita harus tau dampak bahayanya bila kita meniru gaya perilaku yang kita nonton tersebut film itu.kalau ada yang hal negatif jangan kita ikuti karna tidak buat kita,tetapi hal yang positif tentu saja kita ambil.
Langganan:
Postingan (Atom)
